warta lentera great work
spot_img

2025, Kemenkes Catat 356.638 ODHIV

Sebanyak 76 persen dari total estimasi terkonsentrasi di 11 provinsi. 

WARTALENTERA-2025, Kemenkes (Kementerian Kesehatan) catat 356.638 ODHIV (Orang dengan HIV) dari total estimasi 564 ribu ODHIV, tahun ini. Sebanyak 76 persen dari total estimasi ODHIV di Tanah Air terkonsentrasi hanya di 11 provinsi.

Sebelas provinsi itu meliputi DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara. Kemudian Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, dan Kepulauan Riau. Direktur Penyakit Menular Kemenkes Ina Agustina Isturini menyebut, jumlah ini merupakan kumulatif hingga Maret 2025.

Ia menambahkan, dari 356 ribu ODHIV tersebut, sekitar 67 persen atau 239.819 orang sedang dalam pengobatan. Sedangkan sekitar 55 persen atau 132.575 virusnya tersupresi.

“Ini mulai dari penemuan kasusnya juga kita masih menjadi tantangan dan tidak jarang ada yang menghilang saat di-follow up. Ini menyebabkan ODHIV hidup dan tahu statusnya itu belum ditemukan 95 persen,” bebernya, dalam jumpa pers daring, dikutip Sabtu (21/6/2025).

Padahal, menurutnya, untuk mengakhiri epidemi AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) pada 2030, ada target 95-95-95. Yakni, 95 ODHIV hidup mengetahui status penyakitnya.

Kemudian 95 persen di antaranya mengikuti pengobatan AntiRetroViral (ARV), dan 95 persen yang mengikuti pengobatan tersupresi virusnya. “Nah ini tersupresi itu artinya virus orang tersebut tidak menularkan lagi, walaupun virusnya masih ada,” jelasnya.

Selain itu, ada juga target Three Zeroes. Yakni, nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma dan diskriminasi. Dia merinci, dari 356 ribuan ODHIV yang ditemukan, sebanyak 37 persen adalah populasi kunci seperti lelaki yang berhubungan seks dengan sesama lelaki (LSL).

Berikutnya, Wanita Pekerja Sosial (WPS), pemakai narkoba suntik (penasun), serta waria atau transgender. Kemudian, sebanyak 36,7 persen populasi umum populasi umum seperti orang dengan sistem imun rendah.

Misalnya karena tuberkulosis, IMS, hepatitis, ibu hamil, dan warga binaan. Sisanya, kata dia, 10,8 persen populasi khusus seperti calon pengantin, dan 15,3 populasi rentan, yakni pelanggan pekerja seks, pasangan populasi kunci, dan anak yang ibunya punya HIV/AIDS.

Guna menemukan dan menangani lebih banyak ODHIV serta IMS, pemerintah Indonesia menggalakkan sejumlah upaya. Di antaranya, pencegahan, surveilans, penangangan kasus, serta promosi kesehatan.

Bagi publik, katanya, pencegahan formulanya adalah ABCDE, yakni, abstinence atau tidak melakukan hubungan seksual sebelum waktunya, be faithful atau setia pada pasangan, kondom untuk mitigasi risiko. “Kemudian no drugs, karena ini juga salah satu pintu masuk penularan, melalui jarum suntik. E adalah education,” katanya. Ia lantas mengajak publik untuk tidak takut memeriksakan diri untuk kesehatannya. (sic)

 

 

 

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular