WARTALENTERA – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyoroti masih tingginya tingkat pengangguran di kalangan pemuda usia produktif di Indonesia. Dari total penduduk usia 16–30 tahun, hampir 8 persen di antaranya masih menganggur. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi, salah satunya melalui penguatan sektor ekonomi digital.
“Kalau kita lihat dari pekerjaan, pemuda itu sebagian besar bekerja, tetapi masih ada hampir delapan persen yang menganggur. Ini yang menjadi sasaran kita, karena delapan persen itu cukup banyak, maka inilah mengapa kita harus bekerja bersama-sama,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, di Jakarta, Kamis (19/6/2025).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah pemuda di Indonesia mencapai sekitar 64,22 juta atau 22,99 persen dari total populasi. Dari jumlah tersebut, 56,98 persen di antaranya merupakan pekerja, sementara 7,95 persen masih menganggur.
Woro mengungkapkan bahwa peluang ekonomi digital dapat menjadi jalan keluar yang efektif. Ia menyebutkan potensi ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai 145 miliar dolar AS pada tahun 2025.
Namun demikian, ia menekankan bahwa pengembangan ekonomi digital harus diiringi peningkatan keterampilan sumber daya manusia. Selain kemampuan teknis, pembangunan karakter generasi muda juga dinilai krusial agar mereka mampu menghadapi tantangan masa depan dengan ketangguhan.
“Keterampilan-keterampilan itu juga perlu diberikan untuk bisa menjadikan mereka (generasi muda) sebagai modal dalam membantu ekonomi, juga memastikan dari sisi karakter, karena karakter anak-anak muda ini menjadi satu hal yang penting. Kita selalu mengatakan bahwa anak muda kita adalah generasi stroberi, kelihatannya bagus di luar, tetapi di tengah langsung lembek. Ini yang selalu kita ingatkan, untuk membangun karakter pemuda yang tangguh dan tidak mudah putus asa,” paparnya.
Ia juga menyoroti pertumbuhan penggunaan internet yang signifikan, dengan penetrasi mencapai 73,7 persen dan peningkatan sebesar 16 persen. Hal ini membuka peluang besar bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital.
Selain itu, Woro menyampaikan keprihatinannya terhadap kesenjangan antara pekerja laki-laki dan perempuan. Saat ini, 24 persen perempuan usia produktif termasuk dalam kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training), angka yang dinilai masih sangat tinggi.
“Misalnya, gaji yang tidak setara, padahal mereka ada di posisi yang sama, ini yang menyebabkan rendahnya TPAK perempuan di dunia kerja,” ucapnya, menyoroti perlunya perhatian terhadap hak-hak pekerja perempuan sebagai bagian dari upaya meningkatkan partisipasi kerja nasional.
Dengan memanfaatkan potensi ekonomi digital secara optimal dan memberdayakan pemuda dengan keterampilan serta karakter yang kuat, Kemenko PMK optimistis tantangan pengangguran di kalangan pemuda bisa diatasi secara bertahap. (kom)


