WARTALENTERA-Stok beras premium di pasar ritel masih langka, YLKI kritisi pemerintah. Kosongnya stok beras premium maupun medium di toko ritel disebut masih terjadi hingga kini.
Bahkan, kini beberapa toko ritel justru menghadirkan beras fortifikasi sebagai ganti beras biasa. Menurut Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Niti Emiliana, banyak masyarakat sebagai pelanggan dan konsumen beras terkecoh dengan hal ini.
Beras fortifikasi harganya terlewat mahal, jauh lebih mahal daripada beras premium dan medium. Dia mencatat beras fortifikasi harganya ada yang sampai Rp90-130 ribu per 5 kg.
Sebagai perbandingan, harga beras premium dengan ukuran yang sama cuma sekitar Rp55-60 ribuan saja. Tentu saja bila hanya beras fortifikasi yang dijual, masyarakat akan terbebani karena harganya mahal.
“Eskalasi harga beras di ritel modern sangat memberatkan konsumen dan tidak sesuai dengan daya beli konsumen. Banyak konsumen terkecoh bahwa beras yang tersedia di ritel modern bukanlah beras premium biasa, melainkan beras khusus terfortifikasi yang harganya Rp90-130 ribu per 5 kg,” ungkap Niti dalam keterangannya, dikutip Senin (8/9/2025).
“Beras khusus (fortifikasi) tidak memiliki aturan tetap HET dari pemerintah. Beras itu muncul imbas dari kekosongan stok beras premium dan medium di retail modern,” sebutnya.
Di pasar tradisional pun, menurut Niti, harga beras eceran juga naik meskipun cenderung masih bisa terjangkau. Dia meminta pemerintah memberi perhatian khusus agar stok dan harga beras bisa terjaga.
“Ini juga harus menjadi perhatian bagi pemerintah agar tidak ada kenaikan harga dan kekosongan stok beras di pasar tradisional,” tegas Niti.
Di mata konsumen, lanjutnya, definisi stok beras melimpah seharusnya bukan hanya berada di hulu atau gudang saja melainkan harus tersedia di pasar yang mudah diakses oleh masyarakat dengan kualitas sesuai standar dan harga yang terjangkau. “Oleh karena itu, YLKI meminta pemerintah menjamin ketersediaan stok beras di pasar dan memastikan keterjangkauan harga bagi konsumen,” desaknya.
Pihaknya, meminta pemerintah penuhi hak dasar konsumen untuk memenuhi stok beras di pasaran dengan akses yang mudah, kualitas sesuai standar, dan harga yang terjangkau. Pihaknya juga meminta pemerintah melalui Badan Pangan Nasional dan Perum Bulog untuk mempercepat pendistribusian beras SPHP dengan kualitas terstandar secara masif dalam rangka menstabilkan harga beras dan mengisi kekosongan stok beras di pasaran.
Kelangkaan beras mulai dirasakan konsumen dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah minimarket hingga supermarket kehabisan stok beras premium.
Bahkan, di pasar tradisional beras premium juga mengalami kelangkaan pada sejumlah merek tertentu. Di beberapa minimarket, rak khusus beras terlihat kosong.
Di rak kebutuhan bahan pokok, hanya tampak beras merah dan komoditas lain selain beras. Sementara, beras putih premium tidak tersedia.
Seorang pegawai menyebut, kondisi ini sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir. Kalaupun ada, stoknya terbatas dan langsung habis diborong pembeli.
Jenis beras yang tersedia hanya satu merek, sehingga pembeli tidak memiliki pilihan lain. Kondisi serupa juga terlihat di sebuah supermarket di kawasan Tangerang Selatan.
Stok beras yang ditemui hanya beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), sedangkan beras premium sama sekali tidak terlihat. Sementara itu, di Pasar Modern BSD, Tangsel, berbagai jenis beras dijajakan mulai dari medium hingga premium.
Sejumlah pedagang mengaku stok aman. Begitu pun di kios beras eceran, Rudi, seorang pedagang beras eceran mengatakan, stok beras kualitas medium hingga premium masih aman.
Namun, ia mengaku kerap mendapat keluhan dari konsumen bahwa harga beras, khususnya premium kini semakin mahal. “Stok aman, tapi kendala pasti ada, sekarang harganya mahal. Bisa dibilang semuanya naik. Yang biasa, premium juga naik. Semua harganya naik,” ungkapnya.
Akibatnya, banyak pelanggan yang menahan belanja dan mengurangi porsi belanjanya. “Jumlah pembeliannya turun. Biasanya beli banyak, sekarang sedikit,” akunya. (sic)


