WARTALENTERA-Pemkab Trenggalek tetapkan status bencana, usai empat warga tewas tertimbun longsor. Penetapan status siaga bencana itu menyusul meningkatnya cuaca ekstrem yang melanda wilayah Jawa Timur beberapa waktu terakhir.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek melaporkan rentetan kejadian banjir dan tanah longsor dalam sepekan terakhir, bahkan sudah menimbulkan korban jiwa di sejumlah kecamatan. Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Triadi Atmono menyampaikan empat insiden bencana alam terjadi hanya dalam dua hari terakhir dan tersebar di tiga wilayah berbeda.
“Dua warga meninggal dunia dan dua lainnya masih kami cari setelah tertimbun material longsor di Desa Depok, Kecamatan Bendungan,” ujar Triadi, dikutip Senin (3/11/2025). Menurutnya, curah hujan tinggi memicu tanah longsor di beberapa titik, termasuk di Desa Dawuhan dan Kecamatan Dongko, yang mengakibatkan sejumlah rumah terdampak serta jalur transportasi tertutup.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, mengatakan longsor terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur kawasan dengan kontur tanah labil. Kondisi itu membuat satu unit rumah warga tertimbun material longsoran.
“BPBD Trenggalek bersama tim gabungan segera melakukan upaya penanganan dan pencarian korban longsor. Kondisi terkini per Minggu (2/11/2025) seluruh korban tertimbun longsor sudah ditemukan. Proses pencarian sempat terkendala cuaca yang kurang kondusif di lokasi kejadian,” ujarnya dalam keterangan terpisah, dikutip Senin (3/11/2025).
Abdul menambahkan, seluruh korban berhasil ditemukan setelah proses pencarian intensif sejak Sabtu malam. Tim gabungan berhasil mengevakuasi empat orang dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu korban lainnya ditemukan dalam keadaan selamat meski mengalami luka berat.
“Upaya pencarian dan pertolongan berhasil menemukan empat orang dalam kondisi meninggal dunia dan satu orang ditemukan dalam keadaan selamat. Korban selamat mengalami luka berat dan kini sudah mendapatkan perawatan kesehatan di rumah sakit terdekat,” katanya.
Proses pencarian sempat terhambat hujan deras yang mengguyur kawasan Trenggalek. Kondisi tanah yang masih labil juga membuat petugas harus berhati-hati dalam melakukan evakuasi agar tidak memicu longsor tambahan.
Abdul Muhari mengingatkan seluruh personel gabungan dan warga sekitar lokasi kejadian agar tetap waspada terhadap potensi longsor susulan. Menurutnya, keselamatan tim penyelamat dan masyarakat harus menjadi prioritas utama selama proses penanganan bencana berlangsung.
Sekitar 100 keluarga terpaksa mengungsi ke lokasi aman hingga situasi dinilai stabil. Di wilayah Kecamatan Trenggalek, luapan Sungai Brangkal memicu banjir yang merendam puluhan rumah di Desa Ngares dan Dawuhan.
Total sebanyak 165 warga terdampak, meski tidak ada laporan korban jiwa dari insiden banjir tersebut. “Alat berat sudah kami turunkan untuk menembus akses yang tertutup longsor, dan tim di lapangan juga terus membantu warga terdampak,” terangnya.
Dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan, BPBD meningkatkan koordinasi dengan kecamatan serta jaringan relawan di kawasan rawan seperti perbukitan dan bantaran sungai. Pemantauan dini juga terus digencarkan untuk meminimalkan kemungkinan jatuhnya korban tambahan.
“Kami mengimbau warga tetap waspada, terutama menghindari lereng curam atau sungai saat hujan intensitas tinggi,” tegas Triadi. Sebelumnya, BMKG Juanda telah mengeluarkan peringatan cuaca mengenai potensi hujan lebat disertai angin kencang di wilayah selatan Jawa Timur dalam sepekan ini.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, hingga angin puting beliung. (sic)


