WARTALENTERA – Setelah berjuang melawan penyakit tuberkulosis atau TBC ginjal, Lucky Widja meninggal dunia di usia 49 tahun. Ia meninggalkan istri dan satu anak laki-laki.
Vokalis grup musik Element tersebut tutup usia pada Minggu (25/1/2026) dan telah dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Menurut sang istri, Aleima Sharuna, Lucky Widja meninggal dunia di rumah sakit setelah mendapat banyak penanganan medis.
“Betul. Kena tuberkulosis (pada) ginjal. Jadi TBC, tapi merusak ginjal, bukan paru-parunya,” kata Aleima Sharuna di TPU Jeruk Purut, Cilandak Timur, Jakarta Selatan, Senin (26/1/2026).
Aleima melanjutkan, karena TBC itu maka Lucky mengalami gagal ginjal sehingga perlu menjalani cuci darah. Selama satu tahun Lucky harus menjalani cuci darah.
Lucky masih sempat berjuang bertahan hidup sebelum napas terakhirnya. Meski begitu, keadaannya semakin kritis dan kehabisan tenaga.
“Sudah lemas. Sebenarnya sudah gak enak beberapa hari terakhir, tapi belum mau dibawa ke rumah sakit. Akhirnya baru ke rumah sakit hari Minggu, langsung masuk ICU. Setelah itu malamnya, pergi (meninggal dunia)” ujar Aleima Sharuna.
Meski dikenal luas sebagai musisi, perjalanan karier Lucky justru bermula dari dunia modeling. Pada pertengahan 1990-an, Lucky sempat menorehkan prestasi sebagai Top Guest Majalah Aneka dan saat itulah namanya mulai dikenal publik.
Namun, ketertarikannya pada musik membuat Lucky memilih meninggalkan dunia modeling dan menekuni jalur yang benar-benar ia cintai. Pada 2001 Element mencetak album “Kupersembahkan Nirwana” dan menuai sukses.
Lalu, pada 2002 Element merilis album Paradoks. Dari album ini lahir sejumlah lagu yang hingga kini masih dikenang, seperti “Rahasia Hati”, “Cinta Sejati”, dan “Maaf dari Surga”.
Lalu, apa itu TBC ginjal yang menjadi penyebab sakitnya Lucky?
Melansir Hello Sehat, TTBC ginjal adalah penyakit infeksi Mycobacterium tuberculosis yang menyerang ginjal. Penyakit ini merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru, yaitu kondisi ketika bakteri M. tuberculosis telah menyebar ke organ selain paru-paru.
Infeksi bakteri TBC juga dapat menyerang organ lain dalam sistem perkemihan, yang dikenal sebagai TBC genitourinaria. Organ yang bisa terdampak yaitu ginjal, kandung kemih, saluran kemih, kelenjar prostat, kantong testis, dan panggul pada wanita.
Bakteri tuberkulosis bisa menyerang salah satu atau kedua ginjal sekaligus. Biasanya, infeksi berawal dari bagian ginjal paling luar yang disebut korteks.
Infeksi lama-kelamaan dapat menyebar ke bagian terdalam ginjal yang disebut medula. Tanpa penanganan yang tepat, penyakit ini dapat menimbulkan pembengkakan hingga kerusakan pada ginjal.
Pasien TBC ginjal tidak selalu menunjukkan gejala. Namun, ketika gejala mulai muncul, pasien biasanya mengalami salah satu atau beberapa gejala seperti buang air kecil berdarah (hematuria), sering ingin buang air kecil, sering terbangun pada malam hari karena ingin buang air kecil, nyeri atau panas saat buang air kecil, sakit pinggang atau sakit perut, adanya nanah, kandungan protein, atau sel darah putih pada urine, serta gejala umum seperti demam, penurunan berat badan, berkeringat pada malam hari, batuk-batuk, dan badan lesu.
TBC ginjal dapat menular, namun penularannya tidak seperti TBC paru yang melalui kontak langsung lewat udara yang tercemar bakteri tuberkulosis. TBC ginjal dan TBC ekstra paru lainnya menular melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi bakteri tuberkulosis. Biasanya penularan terjadi melalui transfusi darah. (inx)


