warta lentera great work
spot_img

Terbukti Cacat Mutu, Insentif SPPG Hangus!

BGN tegaskan prinsip “No Service, No Pay”.

WARTALENTERA – Insentif SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) bisa saja langsung dihentikan alias tidak dibayarkan. Hal ini jika SPPG tersebut terbukti cacat mutu.

Insentif SPPG adalah hak mitra. Akan tetapi, jika fasilitas SPPG tidak memenuhi standar operasional, belum siap digunakan atau gagal beroperasi karena berbagai alasan, maka insentif senilai Rp6 juta per hari itu seketika akan hangus.

Menurut Direktur Manajemen Risiko Pemenuhan Gizi Badan Gizi Nasional (BGN), Rufriyanto Maulana Yusuf, skema insentif SPPG dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memberikan perlindungan finansial bagi mitra, tetapi juga disertai mekanisme kontrol ketat. Sistem tersebut dilengkapi instrumen disiplin yang kuat melalui prinsip “no service, no pay”.

“Logika operasional dari mekanisme pendisiplinan ini dilandasi oleh supremasi hukum tertinggi ABP, yaitu tiada layanan, tiada pembayaran atau no service, no pay,” ucapnya di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Rufriyanto menambahkan, mekanisme ini menjadi alat pemaksa kepatuhan (punitive control) agar mitra senantiasa menjaga kualitas layanan dan sanitasi secara optimal.

“Parameter kecacatan mutu ini diberlakukan secara ketat apabila suatu hari filter air SPPG terdeteksi E.Coli, aliran IPAL mampet membanjiri permukiman warga, mesin chiller mati menyebabkan daging busuk, atau gagal mendapat Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Kemenkes, maka secara hukum fasilitas tersebut dinyatakan stand by readiness tidak terpenuhi, maka pada hari itu juga, insentif Rp6 juta langsung dihentikan (suspend),” tutur Rufriyanto menegaskan.

Ia menambahkan, ketentuan ini mendorong mitra untuk secara disiplin menjaga kualitas fasilitas setiap hari, karena seluruh risiko operasional berada di pihak mitra.

Dengan demikian, standar keamanan pangan dan kebersihan lingkungan dalam Program MBG dapat terus terjaga. Selain itu, dia menilai, kebijakan ini merupakan bagian dari transformasi tata kelola publik yang terus disempurnakan.

Meski masih membutuhkan penyesuaian di berbagai aspek operasional, dirinya menegaskan bahwa skema kemitraan SPPG memiliki nilai strategis yang besar.

“Kita perlu menyadari bahwa setiap transformasi besar dalam tata kelola publik senantiasa merupakan sebuah proses penyempurnaan yang berkelanjutan. Program MBG melalui skema kemitraan SPPG ini mungkin masih memerlukan penyesuaian di berbagai aspek operasional, namun menafikan nilai strategisnya hanya berdasarkan prasangka sempit merupakan sebuah kerugian intelektual,” tuturnya.

Ia lantas mengajak publik untuk melihat kebijakan ini secara objektif sebagai upaya mengalihkan beban belanja modal menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas hidup generasi mendatang.

“Dengan menelaah kebijakan ini secara cerdas dan melampaui sekadar retorika di permukaan, kita akan melihat bahwa instrumen ini bukan tentang keuntungan sepihak, melainkan tentang gotong royong patriotik demi mewujudkan kedaulatan bangsa yang mandiri dan kompetitif,” terangnya. (inx)

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular