WARTALENTERA – Melihat judulnya, banyak yang menebak jika “Venom: The Last Dance” menjadi sekuel terakhir dari Venom saga. Apalagi, sang aktor, Tom Hardy, juga sempat mengucapkan kalimat perpisahan, selamat tinggal pada seri Venom ini.
Melansir Marca, Selasa (29/10/2024), aktor sekaligus penulis naskah, Tom Hardy, tampak mengenang penampilannya sebagai Eddie Brock selama tujuh tahun. Di mana ia menggambarkannya sebagai salah satu pengalaman terbaik dalam kariernya.
“Sudah waktunya tidur,” kata Hardy yang menyiratkan bahwa waktunya dengan Venom mungkin segera berakhir. Pernyataan tersebut tentu saja membuat kecewa dan sedih para penggemar yang telah mengikuti perjalanannya yang liar dengan parasit alien tersebut.
Apalagi, selama ini, Hardy tidak hanya membintangi film Venom, tapi juga memainkan peran penting di balik layar. Ia menjadi penulis bersama dan bekerja sama dengan kolaborator lamanya, sutradara Kelly Marcel yang memimpin The Last Dance.
Bersama-sama, mereka menyusun cerita yang digambarkan Hardy sebagai pendalaman karakter dan pengetahuan seputar Venom, dari akar buku komik asli hingga adaptasi di layar lebar. Meski ia menyiratkan sudah selesai dengan Venom, tetapi tetap membiarkan sedikit pintu terbuka untuk kemungkinan kembali, khususnya dalam crossover Spider-Man.
Kena Julid Kritikus
Bagi kritikus film yang serba teliti, Venom kali ini banyak mendapat komentar pedas kritikus film melalui berbagai ulasan di media internasional. Sebagian besar reaksi negatif itu menyoroti eksekusi “Venom: The Last Dance” yang kurang memuaskan.
Ulasan miring kritikus itu juga terhimpun di laman agregator Rotten Tomatoes, dikutip Selasa (29/10/2024. Hingga Jumat (25/10/2024) lalu, film itu hanya meraih tomatometer 36 persen dari 99 ulasan kritikus.
Angka itu lebih rendah dibanding “Venom: Let There Be Carnage” (2021) yang mencetak skor kritikus 57 persen. Namun, film ketiga itu sedikit lebih tinggi dibanding “Venom” (2018) yang hanya mencetak 30 persen. Meski begitu, penilaian audiens terhadap “Venom: The Last Dance” lebih tinggi dari penilaian kritikus.
Skor audiens tersebut menorehkan 77 persen dari penilaian 500 pengguna. Berbagai ulasan pedas itu menyoroti beragam aspek dari di film tersebut. Kritikus Soren Andersen menilai, tak ada hal baru yang diangkat dalam film ketiga yang jadi penutup trilogi.
Bahkan, kritikus dari TheWrap bernama William Bibbiani menganggap “Venom: The Last Dance” itu bagaikan manifestasi matinya film superhero di Hollywood. “The Last Dance tidak membawa hal baru dalam saga ini. Bahkan, ini membawa lebih sedikit dibandingkan dua film sebelumnya,” tulis Soren Andersen dari Seattle Times, dikutip Selasa (29/10/2024).
Berbagai kritik juga disampaikan dengan nada yang beragam, seperti komentar Matt Singer dari ScreenCrush. Ia menilai tontonan yang apik dari film tersebut hanya berdurasi 10 menit.
Kritikus New York Times bernama Amy Nicholson juga melontarkan komentar pedas senada. Amy menilai tingkah polah Eddie dan Venom justru lebih menarik ditonton daripada menyaksikan mereka menghadapi musuh berbahaya.
“Mungkin ada 10 menit yang bagus dalam film berdurasi 109 menit ini. Sejujurnya, saya lebih suka menonton Eddie dan Venom bermain-main dengan topping pizza daripada bekerja sama untuk sesuatu seperti menyelamatkan planet,” kritik Nicholson.
Meski begitu, ada pula kritikus yang mengapresiasi Venom 3. David Ehrlich, kritikus IndieWire, menilai film tersebut masih mempunyai nilai plus sebagai penghormatan terhadap dinamika hubungan Eddie dan Venom. Liz Shannon Miller dari Consequence turut memuji chemistry Eddie dan Venom di film ketiga tersebut.
Menurutnya, celetuk dan tingkah kedua karakter itu menghasilkan suguhan yang menghibur sepanjang cerita. “Setidaknya film ini berakhir dengan suguhan penghormatan yang pedih sekaligus konyol untuk kisah cinta tentang seorang pria dan simbiot aliennya,” ujar Ehrlich. (sic)


