WARTALENTERA – Coding masuk dalam kurikulum Sekolah Dasar (SD) tak sekedar wacana. Usulan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka agar coding masuk dalam kurikulum SD dan bisa jadi mata pelajaran pilihan itu tengah digodok Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI.
Melalui Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD Dikdasmen), kementerian secara simultan melakukan berbagai diskusi untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya ide dan masukan dari berbagai pihak. Meski wacana ini menuai pro dan kontra di masyarakat, kemungkinan coding dan kecerdasan buatan (artificial intelligence (AI)) masuk dalam kurikulum sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan, pentingnya pembelajaran coding dan kecerdasan buatan sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda yang kompetitif dan mampu bersaing di kancah global. Sebab, lanjutnya, dengan perkembangan pesat teknologi digital saat ini, keterampilan seperti coding dan AI akan sangat membantu anak-anak Indonesia untuk menghadapi tantangan zaman.
Ia bahkan menyebut, di negara maju pengajaran teknologi tinggi seperti coding dan AI sudah banyak diajarkan sejak dini. “Kami juga berencana untuk memperkenalkan pembelajaran ini mulai dari sekolah dasar, dengan rencana menjadikannya sebagai mata pelajaran pilihan pada tahun ajaran 2025-2026,” ulasnya, usai menghadiri Diskusi Kelompok Terpumpun dengan tema “Pengembangan Pembelajaran Coding dan Kecerdasan Buatan untuk Siswa Sekolah Dasar”, dikutip Sabtu (30/11/2024).
Pihaknya meminta masukan dari berbagai pihak, sebelum memastikan pembelajaran ini dapat diimplementasikan dengan baik di seluruh Indonesia. “Meskipun ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa literasi dasar lebih penting, kami percaya bahwa penguasaan teknologi justru akan mendukung perkembangan literasi dan numerasi anak-anak kita,” yakinnya.
Pada kesempatan yang sama, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menekankan pentingnya pemahaman tentang coding dan AI sebagai bagian dari literasi digital. Ia mencoba memberikan refleksi terkait pengajaran teknologi di Indonesia dan membandingkan dengan negara-negara maju yang telah mengintegrasikan pendidikan teknologi seperti coding dan AI sejak lama.
“Seperti halnya pendidikan mengenai teknologi ruang angkasa yang diperkenalkan di Amerika Serikat sejak 1970-an, kami ingin memastikan generasi muda Indonesia tak tertinggal dalam hal penguasaan teknologi. Coding dan AI bukan hal menakutkan, justru mereka akan membuka peluang besar bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi. Kami berharap, dengan pengenalan teknologi sejak dini, anak-anak kita akan siap untuk memasuki dunia digital yang semakin kompleks,” paparnya panjang lebar.
Setali tiga uang, Sekretaris Ditjen PAUD Dikdasmen, Praptono juga membenarkan, bahwa coding dan AI tidak hanya sekadar alat teknologi, melainkan juga keterampilan penting yang harus dimiliki oleh generasi muda. Menurutnya, keterampilan ini akan membantu anak-anak untuk menjadi individu yang kreatif, inovatif, serta siap menghadapi tantangan global di masa depan. Baik dalam hal perubahan iklim, kesehatan, maupun bidang lainnya.
Sementara itu, Pengamat Pendidikan dari Universitas Lambung Mangkurat, Reja Fahlevi setuju apabila pembelajaran AI dimasukkan dalam kurikulum pendidikan SD dan SMP. Reja sampai pada kesimpulan itu berdasarkan hasil pengamatannya pada rapor pendidikan.
“Sejak tahun 2020-2024, kelemahan mutu pendidikan kita berada pada aspek literasi dan numerasi,” ulasnya, melansir radarbanjarmasin, Sabtu (30/11/2024).
Maka ia menilai, wacana memuat mata pelajaran pilihan terkait AI dan coding dalam kurikulum akan bagus. “Untuk mengatasi mutu pendidikan kita yang lemah dari sisi literasi dengan AI dan numerasi dengan coding ,” tambahnya.
Jika diterapkan, juga klop dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto ingin mendigitalisasi sistem pendidikan.
“Harapannya, siswa bisa mengimplementasikan ilmu tentang implementasi teknologi dengan baik sejak dini. Tidak hanya diajarkan ketika menjelang UTBK,” ucapnya lagi.
Namun ia mengingatkan, etika digital jangan dilupakan. Ini merupakan hal paling utama diajarkan, apabila memang rencana ini dijalankan nanti.
Ini penting guna membekali siswa tentang aturan-aturan dalam menggunakan sistem digital. “Misalnya, tidak boleh melakukan plagiasi atau memanfaatkan AI dalam konteks yang salah,” tuntasnya. (sic)


