WARTALENTERA-Gonjang-ganjing pasar saham, mendorong investor beralih ke instrumen yang lebih stabil, obligasi misalnya. Hal itu tercermin dari meningkatnya permintaan terhadap surat utang negara, yang berdampak pada kenaikan harga obligasi serta penurunan yield dalam beberapa waktu terakhir.
Head of Fixed Income Sucorinvest Asset Management Dimas Yusuf menyampaikan, secara historis, pasar saham lebih rentan terhadap dinamika ekonomi dan isu global. Sebaliknya, obligasi, terutama obligasi pemerintah, memiliki karakter defensif dan cenderung lebih stabil di tengah ketidakpastian.
Faktor inilah yang mendorong investor beralih ke aset pendapatan tetap untuk mengamankan investasinya. “Ketika volatilitas di pasar saham meningkat, investor secara alami mencari instrumen yang lebih aman. Obligasi pemerintah menjadi pilihan utama karena memiliki risiko lebih rendah dibandingkan saham,” ujar Dimas Yusuf, mengutip program Investor Market Today, Senin (24/3/2025).
Dimas menambahkan, kebijakan bank sentral turut berperan dalam menjaga keseimbangan pasar obligasi. Bank Indonesia (BI) secara aktif memberikan dukungan terhadap pasar surat utang negara.
Kebijakan ini semakin meningkatkan kepercayaan investor terhadap instrumen pendapatan tetap, sehingga aliran dana ke obligasi pemerintah tetap kuat meskipun pasar saham mengalami gejolak. Gara-gara pasar saham sempat anjlok pekan lalu, investor asing telah membawa kabur dana sebesar Rp28,10 triliun dari pasar saham Indonesia sejak awal tahun hingga 20 Maret 2025, menurut data Bank Indonesia (BI).
Investor asing mengalihkan investasinya di Indonesia pada instrumen SBN (Surat Berharga Negara) dan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), pada periode tersebut. Menurut data BI, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp23,87 triliun di instrumen SBN.
Sementara total net buy asing di instrumen SRBI mencapai Rp8,58 triliun. Aksi beli asing di kedua instrumen pendapatan tetap itu, kontradiktif dengan posisi premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia untuk jangka waktu 5 tahun ke level 88,51 basis points (bps) pada 20 Maret 2025.
Pada pekan sebelumnya, premi CDS Indonesia untuk jangka waktu yang sama, masih berada di level 81,20 bps. Kenaikan premi pada umumnya mengindikasikan risiko yang lebih besar, terhadap gagal bayar (default) dari aset yang dilindungi oleh CDS tersebut.
“Untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya, dikutip Senin (24/3/2025). Pihaknya berjanji, akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan. (sic)


