WARTALENTERA-Berawal dari ngidam cokelat dan kunafe, pasangan Sarah Hamouda-Yezen Alani sukses jual cokelat Dubai dengan merek Fix. Popularitas cokelat Dubai sempat meroket tahun lalu.
Bermula saat toko kue kenamaan Fix Dessert Chocolatier merilis produk ini. Tak hanya di Indonesia, cokelat Dubai yang diproduksi pertama kali oleh pemilik Fix Dessert Cokelat, Sarah Hamouda, juga populer di mancanegara.
Melansir BBC, Selasa (13/5/2025), Yezen Alani, salah satu pemilik Fix bersama istrinya Sarah Hamouda, mengaku tersanjung akan perhatian dunia terhadap cokelat Dubai buatan mereka. Ide awal batangan cokelat Fix muncul di benak Sarah pada 2021.
Kala itu, Sarah sedang hamil dan terus-menerus menginginkan cita rasa yang akhirnya dituangkan ke resep camilan. Yezen dan Sarah mulai mengembangkan produk ini setahun kemudian. Keduanya menjalankan bisnis di sela-sela pekerjaan kantoran mereka.
“Sarah dan saya dibesarkan di Inggris dan pindah ke Dubai 10 tahun lalu, jadi kami memiliki akar budaya Barat dan Arab. Kami ingin menciptakan rasa yang terinspirasi dari perpaduan itu,” ungkap Alani.
Salah satu daya tarik cokelat ini adalah eksklusivitasnya. Kala itu, konsumen hanya bisa memesannya melalui aplikasi pesan antar makanan, bukan dengan datang langsung ke toko atau membelinya di supermarket.
Harganya sekitar 15 poundsterling (sekitar Rp300 ribu) per batang dan hanya bisa dibeli pada jam-jam tertentu dalam sehari untuk memastikan perusahaan dapat memenuhi semua pesanan. Tapi setelah booming, ia akhirnya banyak melihat “cokelat Dubai” tiruan banyak ada dipasaran.
“Saya melihat batangan cokelat serupa dijual di banyak toko, dengan sebutan “cokelat Dubai” dan dihiasi gambar pistachio serta pastry filo,” ulas Yezen.
Yezen mengaku barang-barang tiruan ini membuatnya frustrasi. “Orang-orang mencoba produk palsu sehingga merusak merek kami,” ujarnya.
Popularitas cokelat ini tidak lepas dari media sosial. Video viral dari pengguna TikTok bernama Maria Vehera pada 2023 disebut-sebut sebagai salah satu alasan mengapa camilan ini menjadi terkenal.
Video itu menampilkan Vehera mencoba batangan Kunafe untuk pertama kalinya—bersama dengan beberapa varian lain dari produsen cokelat yang sama. Unggahan itu telah disukai hampir tujuh juta kali.
Tampilan batangan cokelat itu memang diciptakan untuk menarik minat warganet. Mulai dari bintik-bintik oranye dan hijau yang menarik di atas cokelat susu yang lembut, hingga bunyi renyah saat dipatahkan.
Cokelat yang dipadukan dengan pistachio sebenarnya bukan hal baru, tetapi elemen yang benar-benar menonjol adalah tekstur renyah pada isiannya, dengan adonan filo menambahkan tekstur dan ketebalan yang unik pada batangan cokelat.
Ketika Yezen dan Sarah pertama kali memulai bisnis mereka, mereka mempekerjakan satu orang untuk menangani sekitar enam hingga tujuh pesanan per hari. Sekarang, mereka mempekerjakan 50 orang yang menangani 500 pesanan setiap harinya.
Salah satu topik pembicaraan utama adalah harga produk ini, yaitu 15 poundsterling (sekitar Rp300 ribu) per batang. “Semua produk kami dibuat dengan tangan, setiap desain dikerjakan secara manual,” jelas Yezen.
“Kami menggunakan bahan-bahan premium dan prosesnya tidak seperti membuat batangan cokelat lainnya—ada proses memanggang, mencetak cokelat sesuai desain, dan untuk isiannya sendiri, bahkan pistachio pun dipilih dan diproses dengan tangan,” bebernya.
Kepada Arabian Business tahun lalu, Sarah mengatakan: “Ibu saya dulu membuat Knafeh. Cita rasa itulah yang ingin saya interpretasikan ulang dengan cara saya sendiri,” sebutnya.
“Kunafe adalah rasa pertama yang kami sempurnakan. Kerenyahannya, pistachionya, semuanya harus pas,” tambahnya.
Meskipun produk ini sukses besar, Alani mengakui bahwa “perjalanan ini sangat berat” karena mereka berdua bekerja penuh waktu sambil membesarkan kedua anak mereka.
“Ada saat-saat dimana kami ingin menyerah, tetapi kami berkata pada diri sendiri ‘kami akan terus berjalan selama kami masih bisa membayar sewa rumah. Sekarang kami tidak menyesal karena semuanya berhasil,” tuntasnya bangga. (sic)


