warta lentera great work
spot_img

Makin Keji! Serangan Israel Bisa Tewaskan 120 Warga Gaza dalam Sekali Gempuran

WARTALENTERA – Serangan Israel ke jalur Gaza masih terus berlanjut. Dalam sekali serang, mereka menewaskan 120 warga Gaza.

Serangan Israel menyasar beberapa wilayah di Gaza. Antara lain wilayah Jabaliya, Gaza Utara. Israel menyerang wilayah ini pada Kamis (15/5/2025).

Dari sebuah tayangan video, serangan udara Israel menghantam sebuah rumah dan menimbulkan dentuman keras yang disusul kepulan asap tebal. Para penduduk terlihat berlarian meninggalkan lokasi.

Kemudian Khan Younis. Daerah ini menjadi wilayah terdampak yang paling parah. Sedikitnya 54 warga tewas di kota tersebut pada Rabu (14/5/2025) malam. Sehari sebelumnya, 70 warga lainnya meregang nyawa di berbagai titik di utara dan selatan Gaza.

Badan pertahanan sipil Gaza mencatat, jumlah korban sejak Kamis dini hari mencapai 124 orang. Sementara total korban tewas akibat rentetan serangan Zionis sejak 18 Maret melonjak jadi 2.876 jiwa.

Ironisnya, gempuran ini datang bertepatan dengan peringatan Nakba. Hari berkabung nasional rakyat Palestina atas pengusiran massal tahun 1948.

Sebuah tayangan televisi lokal juga menyiarkan kehancuran di Deir al-Balah, Gaza Tengah. Bangunan-bangunan rata dengan tanah. Puing-puing beton menumpuk, menyisakan isak tangis para penyintas.

“Kami berdoa agar perang ini segera berakhir, dan kami mengimbau semua lembaga internasional untuk mengakhiri perang karena sudah cukup,” ujar Maher Ghanem, warga yang selamat dari serangan, seperti dikutip AFP, Jumat (16/5/2025).

Serangan Isarel ini juga membuat infrastruktur vital lumpuh. Satu-satunya rumah sakit jantung dan kanker di Gaza.

Kekejian Israel bukan cuma memborbardir Gaza dengan rudal dan peluru. Mereka juga menutup akses bantuan kemanusiaan di jalur Gaza sejak 2 Maret lalu. Warga Gaza kini tak hanya dihantui bom, tapi juga ancaman mati kelaparan.

Israel berdalih, pihaknya telah menginstruksikan agar masyarakat di Jalur Gaza mengungsi sebelum serangan diluncurkan. Mereka pun mengklaim, blokade kemanusian dilakukan untuk menekan Hamas agar membebaskan para sandera sejak serangan balasan Oktober 2023 dan membuka jalur negosiasi.

Namun, kelompok Hamas menyebut syarat kemanusiaan adalah harga mati untuk memulai negosiasi. “Masuknya bantuan adalah persyaratan minimum. Akses makanan, air, dan obat-obatan adalah hak asasi manusia, bukan alat tawar-menawar,” tegas Basem Naim, pejabat senior Hamas, dilansir AFP, Jumat (16/5/2025).

Menuai kecaman

Ditengah kehancuran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut menambah situasi makin panas. Dalam kunjungan bisnis ke Qatar pada Kamis (15/5/2025), Trump mengusulkan agar Gaza diambil alih dan dijadikan “zona kebebasan” di bawah kendali Amerika. Usulan ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Hamas.

“Gaza bukan barang dagangan. Ini tanah Palestina, bukan real estate yang dijual di pasar terbuka,” tegas Basem Naim.

Aksi serangan Israel menuai kecaman keras dari dunia internasional. Kali ini, kecaman datang dari dua poros penting dunia: Arab Saudi dan Spanyol. Riyadh dan Madrid sama-sama menuding Israel melakukan genosida terhadap rakyat Palestina.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, lewat pernyataan resmi yang dikutip Al Arabiya, Jumat (16/5/2025), menyebut gempuran Israel sebagai kejahatan genosida. Pernyataan itu secara khusus menyoroti serangan udara yang menghantam kompleks Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, salah satu titik terakhir pelayanan medis di Gaza yang kini nyaris tak berfungsi.

“Kerajaan mengutuk keras eskalasi militer berkelanjutan oleh Israel terhadap warga sipil yang tidak berdaya,” bunyi pernyataan resmi dari Riyadh.

Tak berhenti di situ, Saudi juga menyatakan secara tegas kejahatan genosida Israel yang berkelanjutan. Negara kaya minyak itu mendesak diberlakukannya gencatan senjata segera dan menyatakan Israel sebagai pihak yang sepenuhnya bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap hukum internasional.

“Pasukan pendudukan Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas pelanggaran berkelanjutan terhadap semua norma dan hukum internasional dan kemanusiaan,” tegas Kementerian Luar Negeri Saudi.

Sementara itu, Spanyol tak mau lagi berbisnis dengan Israel. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez tanpa basa-basi menyebut Israel sebagai negara genosida. “Kami tidak berbisnis dengan negara genosida. Kami tidak melakukannya,” tegas Sanchez, seperti dilansir Anadolu, Jumat (16/5/2025).

Selain itu, badan-badan organisasi dunia juga menyampaikan kecaman. Sebab, Israel secara sepihak mengakhiri gencatan senjata yang berlaku pertengahan Januari, blokade bantuan kemanusiaan juga dinilai membuat situasi makin kritis. Mengingat, persediaan makanan, air bersih, bahan bakar, dan obat-obatan di Jalur Gaza sudah mencapai titik terendah.

“Blokade Israel telah melampaui taktik militer dan menjadi alat pemusnahan,” ucap direktur eksekutif sementara Human Rights Watch, Federico Borello dikutip dari RTE pada Jumat, (16/5/2025).

Kepala Dana Anak-Anak PBB (United Nations Children’s Fund/UNICEF) Catherine Russell bahkan tidak bisa menahan kegeramannya. Apalagi, jumlah korban anak-anak akibat serangan Israel cukup signifikan.

“Sangat tidak bermoral bahwa lebih dari 45 anak dilaporkan tewas dalam serangan udara di Gaza dalam dua hari,” tulis Russell dalam unggahan di platform X @unicefchief, Jumat (16/5/2025).

Kecamannya bukan sekadar angka. Russell menyentil keras ketidakpedulian dunia internasional terhadap tragedi yang terus berulang ini. “Hal ini seharusnya mengejutkan dunia, tetapi sebagian besar menanggapinya dengan ketidakpedulian,” sambungnya getir.

Selain itu menurutnya, tak ada satu pun sudut Gaza yang bisa disebut aman bagi anak-anak. Rumah, sekolah, bahkan rumah sakit, semuanya jadi sasaran empuk rudal dan bom Israel.

Russell juga memperingatkan tentang kondisi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza karena lebih dari 1 juta anak berisiko kelaparan. “Mereka kekurangan makanan, air, dan obat-obatan,” tandasnya. (inx)

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular