WARTALENTERA – Pengamat politik Rocky Gerung menilai bahwa semangat Reformasi 1998 tidak cukup hanya diperingati, tetapi perlu dihidupkan kembali untuk mendorong transformasi menuju demokrasi ekonomi di Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Rocky saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Aktivis Lintas Generasi Memperingati Reformasi 1998 yang digelar di Jakarta, Rabu (21/5/2025). Acara tersebut mengusung tema “Dari Demokrasi Politik Menuju Transformasi Demokrasi Ekonomi”. “Yang kita perlukan adalah ulangi reformasi, bukan memperingati. Aktivis tidak pernah memperingati kelakuannya sendiri, dia mengulangi kelakuannya,” kata Rocky.
Reformasi atau Revolusi: Diksi yang Dipertanyakan
Rocky juga menyoroti pilihan kata “reformasi” dalam sejarah gerakan mahasiswa 1998. Menurutnya, istilah tersebut merupakan kompromi dari keinginan awal untuk melakukan “revolusi”, yang memiliki makna perubahan total dan menyeluruh. “Revolusi artinya perubahan kualitatif dari satu rezim ke rezim lain, kualitasnya berubah. Reformasi itu perubahan kuantitatif yang berubah susunan manusia,” ujarnya.
Ia menyebut pilihan diksi “reformasi” saat itu sebagai kesalahan epistemik karena tidak sepenuhnya mencerminkan semangat perubahan besar yang diusung mahasiswa.
Presiden Prabowo dan Gagasan Ekonomi Sosialis
Rocky juga menyinggung perbincangannya dengan Presiden Prabowo Subianto beberapa tahun lalu mengenai visi ekonomi Indonesia ke depan. Ia menyebut bahwa Prabowo menyambut baik gagasan ekonomi sosialis. “Kami bicara tentang masa depan. Saya tantang Anda mau nggak jadi pemimpin sosialis Indonesia? Dia bilang, ‘Bahkan saya ingin jadi pemimpin sosialis Asia’,” ungkap Rocky.
Menurut Rocky, peluang untuk menerapkan transformasi menuju ekonomi sosialis bisa dimulai dengan perombakan kabinet yang akan dilakukan oleh Presiden Prabowo. “Maka tugas presiden mengganti mereka yang do not speak socialism, dan itu yang namanya perubahan paradigma baru,” katanya.
Reformasi sebagai Energi Perubahan
Rocky menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat reformasi, bukan sekadar memperingatinya dalam bentuk seremonial belaka.
“Jadi sekali lagi ada kesempatan bagi kita untuk mengulangi energi reformasi. Kita ingin, bukan memperingati reformasi, tapi mengulangi reformasi,” tegasnya.
Dihadiri Tokoh Lintas Generasi
Acara tersebut turut dihadiri berbagai tokoh nasional lintas generasi, antara lain: Wamenaker Immanuel Ebenezer, Wamenos Agus Jabo Priyono, Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman, Ketua Umum KSPSI Pembaruan Jumhur Hidayat, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu, Gubernur NTT Melkiades Laka Lena, serta aktivis legendaris Malari 1974 Hariman Siregar.
Namun, dua tokoh penting yang dijadwalkan menjadi pembicara kunci, yakni Ketua DPR RI Puan Maharani dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, tidak hadir dalam kesempatan tersebut. (kom)


