WARTALENTERA-Jumlah apoteker di wilayah Sumatera yang masih terbatas, mendorong Itera (Institut Teknologi Sumatera) untuk membuka program studi profesi apoteker (Pendidikan Profesi Apoteker), khususnya untuk menambah jumlah apoteker di wilayah Lampung yang kian langka. Dalam rangka mempersiapkan prodi baru tersebut, Itera menggelar diskusi dengan menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan dari instansi pemerintah, organisasi profesi, industri farmasi, hingga BUMN.
Diskusi ini untuk merumuskan visi, misi, tujuan, dan sasaran PSPPA Itera. Seluruh peserta sepakat bahwa kebutuhan akan tenaga apoteker profesional di Provinsi Lampung sangat mendesak.
Melansir laman resmi Itera, Senin (2/6/2025), Dekan Fakultas Sains Itera Ikah Ning Prasetiowati Permanasari dalam sambutannya menegaskan, komitmen Itera dalam menghadirkan pendidikan profesi apoteker yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan daerah. “Itera berkomitmen mencetak apoteker yang mampu menjawab tantangan dunia kefarmasian secara profesional,” ungkap Ikah.
Diskusi melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan, Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), PT Naturindo, Apotek Kimia Farma, serta organisasi profesi seperti HISFARSI dan HISFARDIS. Perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan Harsoyo mengungkapkan, saat ini daerahnya hanya memiliki 27 apoteker dari kebutuhan 96 orang.
Sementara itu, Nikmatul Akbar dari HISFARDIS Lampung menyoroti pentingnya kehadiran apoteker sebagai penanggung jawab di Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan Pedagang Besar Obat Tradisional (PBOT), yang hingga kini belum terpenuhi secara optimal. Dolly Martha dari Apotek Kimia Farma Lampung dan Martianus Perangin Angin juga sepakat, terbatasnya akses pendidikan profesi apoteker di Pulau Sumatra mendorong lulusan farmasi untuk menempuh studi lanjutan di luar daerah.
Mereka berharap, PSPPA Itera dapat menjadi solusi lokal untuk menghasilkan apoteker kompeten yang berorientasi pada pelayanan pasien dan edukasi kesehatan masyarakat. Diskusi juga membahas kekhasan PSPPA Itera, terutama pada pemanfaatan bahan alam sebagai fokus keilmuan.
Duana Candradewi Kurnia dari PT Naturindo, dan Hijrah dari Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung menekankan pentingnya kurikulum adaptif berbasis teknologi formulasi, kewirausahaan, serta penguatan soft skill seperti kepemimpinan. Sementara itu, Perwakilan IAI turut menegaskan pentingnya diferensiasi PSPPA Itera melalui potensi lokal dan penanaman semangat profesionalisme sejak dini.
“Kurikulum harus menggali kekayaan alam daerah dan membangun kebanggaan terhadap profesi apoteker,” ujarnya. Kegiatan ini menghasilkan sinergi antara akademisi dan praktisi, serta mendapatkan dukungan luas dari para pemangku kepentingan.
PSPPA Itera diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan tenaga farmasi di wilayah Sumatera, sekaligus pionir dalam pendidikan farmasi yang holistik, humanistik, dan berbasis kearifan lokal. (sic)


