WARTALENTERA-Minim, tingkat literasi sensor di kalangan penonton Indonesia tergolong rendah dan perlu terus dilakukan sosialisasi. Berdasarkan hasil survei nasional yang dilakukan LSF, di mana hanya 46 persen masyarakat yang memperhatikan klasifikasi usia saat menonton film.
“Survei nasional kita, baru 46 persen masyarakat penonton di Indonesia yang memperhatikan klasifikasi usia dalam menonton. Jadi, ini perlu kerja keras kita semua untuk meningkatkan kualitas literasi menonton,” ujar Ketua LSF (Lembaga Sensor Film) Republik Indonesia Naswardi kepada wartawan di Kota Serang, dikutip Jumat (13/6/2025).
Ia menegaskan pentingnya menonton film sesuai klasifikasi usia. Pasalnya, setiap kategori usia memiliki konten dan pesan yang berbeda, dan tidak tepat bila ditonton oleh kelompok usia yang tidak sesuai.
“Kalau untuk dewasa, 21 atau 17 misalnya, pasti tidak cocok untuk anak-anak usia 13 atau usia di bawah 13. Jadi, penting menonton sesuai usia,” ujarnya.
Ia juga menyebut, rendahnya literasi penonton disebabkan oleh minimnya pengawasan orang tua, kurangnya pemahaman terhadap klasifikasi film, dan kebebasan akses anak terhadap konten digital melalui perangkat pribadi. “Pengawasan orang tua, kemudian kualitas literasi orang tua, kemudian juga anak yang diberikan kebebasan untuk mengakses materi-materi tontonan, terutama yang melalui smartphone, melalui internet. Nah, ini menjadi penyebab. Salah satu yang menjadi faktor dari kualitas literasi itu masih rendah,” bebernya.
Dalam rangka meningkatkan literasi sensor di masyarakat, LSF secara aktif menjalankan program sosialisasi melalui berbagai pendekatan langsung ke publik. Program ini dijalankan melalui komunitas, sekolah, kampus, hingga kegiatan berbasis keluarga.
“Upaya yang harus dilakukan itu adalah melalui sosialisasi yang berkelanjutan. Jadi, turun ke masyarakat, turun ke penonton, di bioskop, di rumah, melalui kampus, sekolah, program-program yang berbasis komunitas. Nah, itu perlu kita tingkatkan melalui yang kita sebut dengan Sahabat Sensor Mandiri,” rincinya soal strategi sosialisasi.
Masih menurut pandangannya, masyarakat pedesaan menjadi kelompok yang paling membutuhkan perhatian dalam hal literasi sensor. Hal ini berkaitan dengan pola konsumsi tontonan yang lebih banyak dilakukan melalui ponsel pintar dan internet.
“Kalau di sisi demografi ya, di penelitian yang kita lakukan itu, masyarakat pedesaan yang menjadi bagian dari yang literasinya juga perlu kita tingkatkan. Karena masyarakat pedesaan itu kan akses utama penontonannya itu melalui internet, melalui smartphone,” imbuhnya.
Ia menyoroti bahwa banyak masyarakat belum menyadari keberadaan fitur parental guidance/ parental advisory pada perangkat digital yang sebenarnya bisa digunakan untuk mengatur tayangan sesuai usia anak. “Jarang dari masyarakat kita yang paham bahwa di HP itu bisa diatur parental guidance-nya. Jadi, mana yang boleh untuk anak-anak, mana yang tidak. Nah, ini yang menjadi fokus kita,” ujar Naswardi.
Terkait konten film yang ditonton melalui layanan digital atau OTT (over-the-top), ia menyebutkan bahwa film-film tersebut tidak melalui proses sensor resmi karena belum diatur dalam undang-undang. Namun, para penyedia konten umumnya menerapkan sistem klasifikasi internal.
“Di handphone, materi film itu belum termasuk yang melalui proses sensor. Karena undang-undangnya belum mengatur begitu. Biasanya masing-masing media, penyedia konten itu kan ada parental guidance. Jadi, bisa dikunci, bisa dikasih password, mana yang bisa diakses untuk anak, mana yang tidak,” paparnya lagi.
LSF mendorong masyarakat untuk semakin melek sensor, terutama dalam mengarahkan tontonan anak-anak agar tidak terpapar konten yang tidak sesuai usia dan nilai budaya.
Dalam era digital yang semakin berkembang, orang tua dihadapkan pada tantangan baru dalam melindungi anak-anak mereka dari konten yang tidak pantas.
Parental Advisory
Salah satu alat yang dapat membantu orang tua dalam tugas ini adalah Parental Advisory. Definisi Parental Advisory
Parental Advisory, atau yang sering dikenal juga sebagai Parental Advisory Label (PAL), merupakan sebuah sistem peringatan yang dirancang untuk memberikan informasi kepada orang tua mengenai konten yang mungkin tidak sesuai untuk anak-anak atau remaja.
Label ini biasanya ditemukan pada berbagai produk media, termasuk musik, film, acara televisi, dan video game. Secara harfiah, Parental Advisory dapat diterjemahkan sebagai “Saran untuk Orang Tua”. Ini mengindikasikan bahwa konten yang diberi label tersebut mengandung elemen-elemen yang mungkin dianggap tidak pantas untuk audiens yang lebih muda, seperti bahasa kasar, kekerasan, atau tema dewasa lainnya.
Penting untuk dipahami bahwa Parental Advisory bukanlah bentuk sensor atau larangan. Sebaliknya, ini adalah alat informatif yang memungkinkan orang tua untuk membuat keputusan yang tepat mengenai konten apa yang boleh dikonsumsi oleh anak-anak mereka.
Label ini memberikan peringatan dini kepada orang tua, sehingga mereka dapat menilai apakah konten tersebut sesuai dengan nilai-nilai keluarga dan tingkat kematangan anak mereka. Dalam konteks yang lebih luas, Parental Advisory juga dapat dilihat sebagai upaya industri hiburan untuk menunjukkan tanggung jawab sosial mereka.
Dengan memberikan informasi ini, mereka membantu orang tua dalam menjalankan peran mereka sebagai gatekeeper konten untuk anak-anak mereka, sambil tetap mempertahankan kebebasan berekspresi dalam karya-karya mereka.
Fungsi dan Tujuan Parental Advisory
Parental Advisory memiliki beberapa fungsi dan tujuan utama yang penting untuk dipahami oleh orang tua, pendidik, dan masyarakat umum. Berikut adalah penjelasan rinci tentang fungsi dan tujuan dari sistem peringatan ini:
- Memberikan Informasi: Fungsi utama Parental Advisory adalah memberikan informasi kepada orang tua dan wali tentang konten yang mungkin tidak sesuai untuk anak-anak atau remaja. Label ini berfungsi sebagai “bendera merah” yang menandakan bahwa konten tersebut mungkin mengandung elemen-elemen seperti bahasa kasar, kekerasan, atau tema seksual.
- Memfasilitasi Pengambilan Keputusan: Dengan adanya label ini, orang tua dapat membuat keputusan yang lebih informasi tentang konten apa yang mereka izinkan untuk dikonsumsi oleh anak-anak mereka. Ini memungkinkan orang tua untuk menyelaraskan pilihan media dengan nilai-nilai keluarga dan tingkat kematangan anak mereka.
- Mendorong Dialog: Parental Advisory dapat menjadi titik awal untuk diskusi antara orang tua dan anak tentang konten media dan nilai-nilai keluarga. Ini dapat membuka peluang untuk percakapan yang bermakna tentang isu-isu sensitif.
- Melindungi Anak-anak: Meskipun bukan merupakan bentuk sensor, Parental Advisory bertujuan untuk melindungi anak-anak dari paparan konten yang mungkin tidak sesuai dengan usia mereka atau yang mungkin berdampak negatif pada perkembangan mereka.
- Mempromosikan Tanggung Jawab Industri: Dengan menerapkan sistem peringatan ini, industri hiburan menunjukkan kesediaan mereka untuk bertanggung jawab secara sosial dan membantu orang tua dalam mengelola konsumsi media anak-anak mereka.
- Menyeimbangkan Kebebasan Berekspresi dan Perlindungan: Parental Advisory mencoba untuk menyeimbangkan kebutuhan akan kebebasan berekspresi dalam seni dan media dengan kebutuhan untuk melindungi anak-anak dari konten yang tidak pantas.
- Standarisasi Peringatan: Sistem ini menyediakan standar yang konsisten untuk menandai konten eksplisit di berbagai platform dan format media, memudahkan orang tua untuk mengenali potensi konten yang tidak pantas.
- Edukasi Konsumen: Parental Advisory juga berfungsi untuk mendidik konsumen tentang sifat konten yang mereka konsumsi, membantu mereka membuat pilihan yang lebih informasi tentang hiburan mereka. (sic)


