WARTALENTERA-Jenius, seorang siswi kelas 12, Maria Helena Gesaur yang menempuh pendidikan di Sekolah Genius di Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, berhasil mengolah biji pinang menjadi jamu herbal yang berpotensi menurunkan kadar gula darah. Biji buah pinang yang biasa dikunyah bersama sirih kini punya fungsi baru di tangan pelajar asal Papua Selatan itu.
Maria Helena, pelajar asal Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan itu menemukan ide tersebut setelah melihat tingginya kasus diabetes, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Bersama dua temannya, Maria mulai meneliti potensi biji pinang sebagai bahan obat diabetes.
“Penyakit diabetes cukup tinggi di Indonesia, termasuk Indonesia Timur. Kami mencari solusi dan menemukan jurnal yang menyebut biji pinang bisa menurunkan kadar gula darah,” ujar Maria Helena, dikutip Sabtu (21/6/2025).
Penelitian tersebut dilakukan selama setahun, dari mulai kajian teori, metode pembuatan, hingga pengujian produk. Dalam prosesnya, mereka menguji jamu tersebut pada mencit (tikus putih laboratorium), yang struktur biologisnya dinilai mirip manusia.
Hasilnya, jamu buatan Maria terbukti dapat menurunkan kadar glukosa darah pada mencit. “Grafiknya menunjukkan penurunan kadar glukosa darah setelah mengonsumsi jamu dari biji pinang,” jelasnya.
Meski hasil awal cukup menjanjikan, Maria mencatat masih ada beberapa evaluasi. Termasuk temuan bahwa mencit sehat juga mengalami penurunan kadar glukosa setelah diberi jamu, yang mengindikasikan faktor lain berpengaruh dalam proses tersebut.
“Kami menyimpulkan ada variabel lain yang memengaruhi penurunan glukosa, jadi belum bisa sepenuhnya disimpulkan hanya dari jamu ini. Penelitian lanjutan tetap kami lakukan,” imbuhnya.
Temuan Maria mendapat apresiasi dari Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa. Ia menilai, keberadaan Sekolah Genius berperan penting dalam membangun pendidikan dan kualitas SDM anak-anak Papua.
“Sekolah Genius adalah lembaga yang membantu meningkatkan pendidikan dan SDM anak-anak Papua, agar kelak bermanfaat tidak hanya bagi masyarakat Papua, tetapi juga bagi bangsa,” pujinya. (sic)


