WARTALENTERA-Ada 1.777 lokasi berpotensi karhutla, hotspot terbanyak di Riau dan Kalbar. Musim kemarau panjang yang dipicu El Nino berpotensi meningkatkan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, ada sekitar 1.777 lokasi yang berpotensi karhutla.
Risiko ini diperkuat dengan peluang terjadinya fenomena El Nino pada semester kedua 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan, sebagian wilayah Indonesia saat ini mulai memasuki musim kemarau.
Sementara itu, fenomena El Nino lemah hingga moderat diperkirakan memiliki peluang 70-90 persen terjadi pada paruh kedua tahun ini. “Potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sangat bergantung pada akurasi data serta optimalisasi upaya preventif, salah satunya melalui intervensi atmosfer pada operasi modifikasi cuaca (OMC),” ujar Faisal, dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026).
Data BMKG per 21 April 2026 mencatat, jumlah titik api di Indonesia telah mencapai 1.777 lokasi. Provinsi Riau dan Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Sebagai langkah mitigasi, pemerintah saat ini tengah melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Riau dan Kalimantan Barat.
Upaya ini bertujuan meningkatkan tinggi muka air tanah, khususnya di lahan gambut, agar lebih tahan terhadap risiko kebakaran saat curah hujan menurun. BMKG menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi potensi karhutla, mulai dari pemantauan cuaca hingga upaya pencegahan di lapangan. (sic)


