warta lentera great work
spot_img

Agama Menyerukan Agar Kita Menumbuhkan Cinta Agape

Bel pengingat di Desember: Bulan Cahaya Cinta.

WARTALENTERA – Cinta agape (dari bahasa Yunani) adalah bentuk kasih tertinggi yang tanpa syarat, tanpa pamrih, dan rela berkorban. Bukan didasarkan pada perasaan atau ketertarikan, melainkan sebuah keputusan sadar untuk mengasihi dan berbuat baik kepada orang lain, bahkan musuh sekalipun, demi kebaikan mereka sendiri.

Cinta agape sering dikaitkan dengan cinta ilahi, seperti kasih Tuhan kepada manusia, dan melibatkan empati, kebaikan, serta pengorbanan diri.

Kembali Desember hadir, menyalakan ulang bel pengingat di relung batin: hanya mahadaya cinta yang membuat kemanusiaan tumbuh. Mengetuk “pintu” Tuhan dengan getar kasih adalah akar dari seluruh kehidupan; mengetuk “pintu” sesama dengan welas asih adalah buah yang meneguhkan keberadaan kita sebagai manusia.

img 20251222 wa0028 Warta Lentera
Yudi Latif

Agama menyeru kita menumbuhkan cinta agape—seperti sinar mentari yang memeluk siapa pun tanpa memilih. Namun di tanah kenyataan, kasih manusia sering berdiam di ruang yang sempit.

Altruisme mudah menyala bagi mereka yang satu warna kulit, satu nilai, satu identitas; tetapi terhadap “yang lain”, prasangka xenophobia kerap tumbuh seperti bayang yang tak diundang.

Agar rahmat dapat menembus batas-batas identitas, cinta agape perlu ditopang oleh kelembagaan kasih—jaringan konektivitas yang merekatkan ragam manusia dalam kepentingan bersama menjaga harmoni dan keadilan sosial-ekonomi.

Wallace pernah menyaksikan keajaiban itu di Dobo, Kepulauan Aru, tahun 1857. Di simpang angin dan lautan, perjumpaan ras dan etnis berlangsung tenteram, dijaga rasa kebersamaan dalam perdagangan yang jujur.

“Berbagai macam manusia hidup di sini,” tulisnya, “tanpa bayang-bayang hukum pemerintah—tanpa polisi, pengadilan, atau pengacara—namun mereka tidak saling menebas tenggorokan, tidak saling merampas, tidak tenggelam dalam anarki. Luar biasa! Membuat kita heran, betapa beratnya beban pemerintahan Eropa, seakan kita terlalu diatur. Kita merasa kecil di hadapan Dobo yang peraturannya sedikit, sementara Inggris memiliki hukum yang terlalu banyak.”

Namun konektivitas saja tak cukup; jaringan itu harus ditopang inklusivitas—kesetaraan akses pada pendidikan, kesehatan, usaha, layanan publik, partisipasi politik, dan keadilan hukum. Ketika sumber daya dimonopoli, cinta berubah menjadi pagar pertahanan diri, melahirkan kecemburuan dan keretakan sosial.

Konektivitas dan inklusivitas itu membutuhkan satu simpul terakhir: ikatan moral publik. Sebab moralitaslah yang menyatukan manusia—integritas etis yang menegakkan saling percaya, tempat di mana cinta akhirnya menemukan semen perekat peradabannya.

Ditulis oleh:
Yudi Latif
Cendekiawan (Aliansi Kebangsaan)

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular