WARTALENTERA – Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pentingnya pendekatan seni dan budaya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap krisis lingkungan global.
“Seni adalah bahasa jiwa, dan musik adalah bahasa universal yang mampu menembus batas-batas identitas, agama, suku, bahkan ideologi,” ujar AHY dalam peluncuran video musik “Save Our World” di Jakarta, Selasa (1/7/2025).
AHY menjelaskan bahwa seni, terutama musik, memiliki kekuatan untuk menjangkau akal dan rasa manusia di ruang-ruang yang tidak bisa ditembus oleh retorika teknokratis maupun pendekatan politis.
Lagu “Save Our World”, menurut AHY, merupakan ciptaan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ditulis usai mengikuti Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim dan Penyelamatan Hutan di Oslo, Norwegia pada 2010. “Lagu ini bukan sekadar ekspresi keprihatinan, tapi seruan untuk bersatu dan bertindak. Mari kita pastikan, dari Indonesia terdengar suara yang kuat bahwa kita tidak akan tinggal diam saat bumi terluka,” pungkas AHY.
Menurutnya, lagu ini menjadi ajakan moral dan panggilan aksi untuk menyelamatkan lingkungan, dan kini dihidupkan kembali dalam format video musik sebagai sarana kampanye kreatif yang menyentuh. “Kami yakin, menyelamatkan bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini adalah tugas kita bersama,” ucap AHY.
Lebih lanjut, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan itu menyebut krisis iklim sebagai ancaman besar abad ke-21 yang dapat memengaruhi keamanan, kesejahteraan, dan masa depan generasi mendatang.
Ia menegaskan bahwa pembangunan sejati tidak hanya tentang infrastruktur fisik, tetapi juga tentang melindungi sumber daya alam yang tak tergantikan. Selama delapan tahun terakhir, The Yudhoyono Institute aktif dalam berbagai inisiatif keberlanjutan, termasuk forum akademis, kolaborasi lintas lembaga, dan kini merambah jalur seni budaya sebagai sarana advokasi lingkungan.
Video musik “Save Our World” diproduksi oleh TYI sebagai karya kolaboratif SBY dan 35 artis lintas generasi, yang memadukan kekuatan musik dan pesan lingkungan demi menyuarakan kepedulian terhadap kelestarian bumi.
Deretan penyanyi dan musisi yang terlibat antara lain: Almarhumah Titiek Puspa, Ernie Djohan, Titiek Sandhora, Vina Panduwinata, Yuni Shara, Sandhy Sondoro, Ita Purnamasari, Joy Tobing, Edo Kondologit, Saykoji, Tantri Shalindri (Kotak), Andy /rif, Ariyo Wahab, Novia Bachmid, dan lainnya.
Keterlibatan para artis ini menjadi simbol semangat lintas generasi dalam menyuarakan pentingnya pelestarian lingkungan, sekaligus menjadikan musik sebagai medium aksi bersama untuk masa depan bumi. (kom)


