Rendang Bagian dari Industri Kuliner Unggulan, Kemenperin Dorong Go International

Reporter : Sicillia Tan
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita (tengah) saat meninjau Fasilitas Produksi IKM Rendang Gadih di Payakumbuh, Sumatera Barat (dok.Kemenperin)

WARTALENTERA-Kemenperin atau Kementerian Perindustrian terus mengembangkan makanan khas Sumatera Barat, rendang sebagai bagian dari industri kuliner unggulan yang ditarget go international. Selain untuk memperkuat perekonomian lokal, pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM) rendah diharapkan bisa menembus pasar internasional.

Pemerintah Kota Payakumbuh sudah melakukan upaya itu, dengan menjadikan rendang sebagai bagian dari bekal konsumsi jamaah haji asal Indonesia. “Ini adalah bentuk diplomasi budaya sekaligus membuka akses pasar global bagi pelaku IKM rendang,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita dalam keterangan resminya di Jakarta, dikutip Rabu (14/5/2025).

Baca juga: Semarang Jadi Tuan Rumah Forum ASEAN-ID Nourish, Digelar Hingga 29 April 2026

Sebelumnya, Kemenperin telah meresmikan Gedung Fasilitas Produksi IKM Rendang Gadih di Payakumbuh, Sumatera Barat. Menurut Reni, rendang berperan penting dalam mendukung program nasional  Indonesia Spice Up the World (ISUTW).

“Program ini merupakan inisiatif pemerintah untuk meningkatkan ekspor bumbu dan makanan olahan Indonesia, dengan target ekspor USD2 miliar. Selain itu, untuk memperluas kehadiran restoran Indonesia di mancanegara,” terangnya lagi.

Menurutnya, rendang memiliki potensi untuk dipromosikan di pasar internasional. Karena rendang merupakan ikon kuliner Indonesia yang otentik dan berbasis rempah.

Pemerintah Kota Payakumbuh bahkan membuat program “School of Randang”. Sekolah ini bukan hanya mengajarkan teknik memasak rendang secara autentik tapi juga menerapkan standar keamanan pangan.

Hal itu tentu saja untuk memenuhi tuntutan standar pasar global. Kemenperin juga memberikan dukungan terhadap pengembangan ekosistem industri rendang dengan berbagai program.

Baca juga: Kawasan Industri Halal RI Jadi Magnet, Investor China hingga Jerman Tertarik Investasi

"Misalnya, revitalisasi sentra IKM melalui skema dana alokasi khusus, restrukturisasi mesin dan peralatan produksi. Serta memfasilitasi sertifikasi keamanan pangan seperti HACCP dan SNI wajib,” ujar Reni.

Selain itu, Kemenperin memberikan dukungan untuk meningkatkan kualitas kemasan produk dan perluasan akses pasar. Akselerasi bisnis rendang juga dilakukan melalui program Indonesia Food Innovation (IFI) yang mendorong inovasi produk berbasis bahan pangan lokal.

Meski demikian, Kemenperin melihat pengembangan ekosistem IKM rendang masih menghadapi banyak tantangan. Mulai dari masalah ketersediaan dan harga bahan baku hingga kebutuhan  adopsi teknologi untuk keperluan produksi.

Baca juga: Tak Diperpanjang, Insentif Mobil Listrik Segera Distop

"Tantangan lainnya adalah masalah penerapan standardisasi dan sistem keamanan pangan. Termasuk kebutuhan sarana produksi, sanitasi dan higienitas tenaga kerja,” bebernya. (sic)

Editor : Sicillia Tan

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru