WARTALENTERA - Terapi kecantikan dan kesehatan nanobubbles hidrooksigen (IGDS) mulai diminati. Terapi yang membantu tubuh mengembalikan fungsi metabolisme normal itu mulai dikenalkan 2023 oleh penemunya, Prof Drs Sutiman Bambang S, SU.,D.Sc dan Kan Eddy.
Ketua Komite Etik dan Hukum dan Ketua UPKS (Unit Pengemdali Kerjasama) RSPAL dr Ramelan Surabaya, dokter Pudjo Dwi Laksono, MKes.,SpTHTBKL.,MH menjelaskan manfaat terapi nanobubbles hidrooksigen yang saat ini diistilahkan sebagai IGDS (Intelegent Gas Delivery System) adalah mengembalikan keseimbangan fisiologis tubuh di tingkat molekuler sehingga kembali pada fungsi metabolisme normal. "Mengembalikan metabolisme tubuh ke tingkat normal," kata Pudjo di Surabaya, Minggu (9/8/2026).
Baca juga: Kumpul Makan Bersama Teman-Teman Bisa Bikin Jantung Sehat
Dia menjelaskan nanobubbles hidrooksigen merupakan inovasi kesehatan modern yang memasukkan sangat banyak gelembung gas berukuran sangat kecil, seperti oksigen atau hidrogen ke dalam aliran darah atau air mandi khusus untuk membantu memperbaiki sirkulasi dan kesehatan sel. Teknologi itu banyak diteliti untuk mendukung pengiriman obat tertarget, meningkatkan oksigenasi jaringan tubuh, serta membantu pemulihan kondisi seperti stroke dan radang.
Cara kerjanya, lanjut Pudjo, adalah mengantarkan partikel-partikel gas oksihidrogen dalam ukuran nano (1/1000 mikro) melalui sistem peredaran darah kita ke seluruh tubuh. "Ukurannya yang kecil atau nano sehingga bisa melewati kondisi vaskuler atau pembuluh darah yang mengecil atau sumbatan mikro akibat proses penuaan maupun karena kondisi kelainan sakit," jelasnya.
Pudjo menyebut ukuran nanobubbles yang mikroskopis bekerja membantu mengirim oksigen ekstra ke jaringan yang kekurangan oksigen atau mengalami cedera. "Akhirnya terjadi regenerasi sel, sebagai antioksidan dan pereda radang untuk mengoptimalkan pemulihan fungsi tubuh," tuturnya.
Baca juga: Terjadi Penurunan Kasus Secara Signifikan, Program Vaksinasi Dinilai Berhasil
Secara umum, terapi nanobubbles (gelembung nano) dinilai aman untuk tubuh dan minim efek samping karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Tingkat keamanannya yang tinggi didorong oleh sifat gas yang digunakan (seperti oksigen atau hidrogen murni) serta ukuran gelembungnya yang sangat kecil, sehingga tidak menyumbat pembuluh darah (tidak memicu emboli).
Dalam kesempatan yang sama, Pudjo menjelaskan awal terapi ini mulai dikenalkan 2023 oleh penemunya yaitu Prof Drs Sutiman Bambang S, SU.,D.Sc dan Kan Eddy. "Dan saat ini bersama tim peneliti para dokter berbagai bidang spesialis yang tergabung dalam Komunitas IMI (Inovasi Molekul Indonesia) terus mengembangkan penelitian," jelasnya.
Nanobubbles pun diteliti mampu meremajakan sel tubuh. Di tubuh kita, lanjut Pudjo, sebetulnya tersedia sel punca atau stem cell, yang karena perjalanan usia dan akibat berbagai kondisi penyakit, tidak bisa atau berhenti tumbuh akibat ketidaktersediaan oksigen. Melalui pemberian nanobubbles oksihidrogen (IGDS), sel-sel yang berhenti tumbuh kembang menjadi terregenerasi. "Dan inilah yang disebut reverse aging atau meremaja kembali. Dan ini terbukti dari 5 dokter senior usia di atas 70 tahun termasuk mantan Menteri Kesehatan Ibu Dr dr Siti Fadilah Supari, Sp JP (K), hasil pemeriksaan telomernya terjadi pemanjangan setelah menjalani infus IBDS selama kurang lebih 3 bulan," tuturnya.
Baca juga: Tim Kemenkes Temukan Potensi Penyakit Menular, Menkes Paling Khawatir Campak
Pudjo menambahkan sampai saat ini pasien termuda yang diberikan terapi nanobubbles adalah pasien berusia 3 tahun. "Pasien anak usia 3 tahun yang menderita leukemia akut di Vietnam, kita kirimkan sediaan infus nano bubbles, dan sampai saat ini hampir 2 bulan perawatan, menunjukkan perkembangan perbaikan kondisi dan keluhan," kata Pudjo.
Interval pemberian atau dosis nanobubbles berbeda tergantung kondisi penyakit. Pada pasien dengan stroke, pemberian bisa dengan cara fast trek atau setiap hari pemberian sekali infus.
Berbagai riset saat ini sedang dikembangkan terkait oksihidrogen nanobubbles (IGDS) ini di beberapa Universitas seperti Unibraw, UGM, dan masih banyak lagi. Termasuk riset pengembangan di bidan Sport medicine Science. Berbagai kalangan, tokoh dqn pejabat publik telah menjalani terapi seperti Menteri Kebudayaan Dr Fadli Zon, dan Mendiktisaintek Prof Brian Yuliarto. (nic)
Editor : Vita Kartono