WARTALENTERA - Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan terhadap lima jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), dan satu pemandu yang hilang di perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, resmi dihentikan.
Keputusan tersebut diambil setelah pencarian selama 10 hari tidak menemukan tanda-tanda keberadaan kapal Arupadhatu I yang ditumpangi rombongan tersebut. Dalam rombongan terdapat lima jurnalis yakni M. Bagus Khoirunnas dari LKBN Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudis Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu, dan Donal Husni wartawan lepas. Selain jurnalis, ada Warta sebagai kapten kapal, Surakman yang merupakan Anak Buah Kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai pemandu perjalanan (guide).
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, penghentian operasi dilakukan setelah masa pencarian memasuki hari ke-10, termasuk setelah adanya perpanjangan operasi selama tiga hari. "Secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut,” kata Andra Soni, Kamis (17/9/2026).
Selama proses pencarian, tim SAR gabungan sempat menemukan 13 objek material yang mengapung di laut. Objek tersebut di antaranya life jacket atau jaket penolong, terpal, helm, hingga galon air. Tetapi, setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh Ditpolairud, seluruh temuan tersebut dipastikan tidak berkaitan dengan kapal Arupadhatu I.
Atas pertimbangan efektivitas pencarian, otoritas terkait akhirnya memutuskan untuk menghentikan operasi SAR gabungan.
Meski operasi utama telah ditutup, Andra menegaskan pemantauan terhadap lima jurnalis yang hilang saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap dilakukan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten Al Amrad mengatakan, pihaknya kini mengalihkan strategi dari pencarian aktif menjadi pemantauan melalui jalur udara dan laut.
Basarnas Banten akan berkoordinasi dengan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) dan Polairud. Pemantauan juga dimaksimalkan melalui stasiun radio pantai (SROP) serta Vessel Traffic Services (VTS).
Kapal-kapal yang melintas di perairan Selat Sunda juga diminta membantu memantau dan melaporkan apabila menemukan informasi terkait keberadaan kapal maupun korban.
“Aktivitas kapal yang melintas di Selat Sunda akan menjadi ujung tombak apabila menemukan informasi lebih lanjut. Dan apabila itu ada tanda-tanda, operasi SAR akan dinyatakan dibuka kembali,” pungkas Al Amrad. (vit)