WARTALENTERA-Sebuah penelitian menemukan anak yang lahir pada Agustus berpotensi didiagnosis dengan kondisi ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Bulan kelahiran ternyata bisa mempengaruhi perkembangan mental buah hati.
Sebuah studi mengungkapkan, bahwa anak-anak yang lahir Agustus memiliki kemungkinan lebih tinggi didiagnosis ADHD, hal itu pun memicu diskusi luas di kalangan orang tua dan para peneliti. Sebatas informasi, bahwa ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan gejala seperti sulit fokus, hiperaktif, dan impulsif.
Meski penyebab pastinya masih diteliti, faktor lingkungan dan biologis diketahui turut berkontribusi. Melansir laman Good to Know, Jumat (2/5/2025), sebuah penelitian menemukan anak-anak yang lahir pada Juli dan Agustus setidaknya 40 persen lebih mungkin didiagnosis dengan ADHD daripada anak-anak yang lahir pada September dan Oktober.
Studi skala besar ini melibatkan analisis data anonim dari 96.698 anak yang lahir antara 2002 dan 2010 pada Juli, Agustus, September, atau Oktober. Konteksnya, anak-anak yang lahir pada Juli dan Agustus masih sangat kecil ketika mereka mulai bersekolah, hampir setahun lebih muda dari mereka yang lahir pada September dan Oktober.
Studi ini menemukan bahwa pada usia 15 tahun, sekitar 1,5 persen anak sekolah awal yang lahir pada Juli atau Agustus, menerima resep untuk ADHD. Tidak hanya itu, studi ini juga menemukan bahwa anak usia 15 yang lahir pada Juli dan Agustus sekitar 40 persen lebih mungkin mengidap ADHD.
Meski begitu, rekan penulis studi, Dr Catia Nicodemo, memiliki kabar baik untuk dibagikan. Ia mengungkap sejak usia 9 tahun ke atas, tidak ada perbedaan dalam inisiasi resep ADHD anak lahir pada Juli dan Agustus.
“Kabar baiknya adalah bahwa sejak usia 9 tahun ke atas, tidak ada perbedaan dalam inisiasi resep ADHD antara anak-anak yang lahir pada bulan Juli-Agustus dan bulan September-Oktober, yang berarti bahwa bias perbandingan teman sebaya menghilang seiring bertambahnya usia,” ujarnya.
Rekan penulis penelitian lainnya, Dr Joaquim Vidiella-Martin juga menambahkan, mereka secara pasti mengidentifikasi apakah ada diagnosis berlebihan pada anak yang lahir bulan Juli-Agustus, atau diagnosis yang kurang pada anak yang lahir pada September-Oktober. “Kami tidak dapat secara pasti mengidentifikasi apakah ada diagnosis berlebihan pada anak-anak yang lahir pada bulan Juli-Agustus atau diagnosis yang kurang pada anak-anak yang lahir pada bulan September-Oktober atau hanya diagnosis yang lebih marjinal. Untuk kelahiran Juli-Agustus, tetapi kita dapat mengatakan bahwa kesenjangan dalam pengobatan farmakologis antara anak-anak yang lahir pada bulan Juli-Agustus dan pada bulan September-Oktober menunjukkan penggunaan sumber daya medis yang tidak efisien dan tidak adil,” ungkapnya, panjang lebar.
Untuk mengatasi masalah ini, tim peneliti pun menyarankan agar orang tua dan guru lebih sadar akan gejala ADHD. Hal ini agar diagnosisnya menjadi lebih akurat.
Melansir dari laman PBS News, Jumat (2/5/2025), pada 1995, 1,5 juta anak menerima pengobatan untuk gangguan perhatian dan hiperaktif atau ADHD. Pada 2011, angka tersebut lebih dari dua kali lipat hingga 3,5 juta anak mendapatkan pengobatan dan 6,4 juta anak didiagnosis dengan ADHD.
Dokter Spesialis Anak Joseph Hagan, telah berpraktik selama hampir 40 tahun. Ia mengatakan kesadaran dokter terhadap ADHD jauh lebih canggih dibandingkan dua dekade sebelumnya.
Hal ini menandakan semakin banyak anak yang didiagnosis ADHD. Hagan mengatakan, dirinya telah mendiagnosis anak usia lima tahun dengan kelainan ini dan memberi mereka resep obat dengan kehati-hatian.
Bukan tanpa alasan, itu karena resep tersebut umumnya diberikan pada anak usia enam tahun ke atas. Anak-anak dan orang dewasa jauh lebih mungkin didiagnosis dengan ADHD di Amerika Serikat dibandingkan di Inggris.
Hal ini disebutkan dalam sebuah penelitian yang terbit pada September 2018. Hasilnya mendapatkan bahwa gangguan neurobehavioral ini terjadi pada 7 persen anak-anak di masa kanak-kanak dan sering kali bertahan hingga dewasa. (sic)


