ARTALENTERA – Lingkungan keluarga dan pola asuh menjadi aspek paling menentukan tumbuh kembang anak sejak balita hingga remaja. Adanya role model yang baik dan komunikasi dua arah sangat menentukan keterbukaan dan pola pikir seorang remaja.
Psikolog Anak Endang Setianingsih dalam sebuah diskusi parenting di Jakarta menyebutkan, pola pengasuhan keluarga atau lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Kenalan remaja, seperti perundungan dan tawuran bisa dicegah sejak dari keluarga.
“Peran orang tua menjadi faktor utama dalam mencegah kenakalan anak-anak kita,” ucapnya, dikutip Kamis (24/10/2024). Menurutnya, periode anak tumbuh remaja adalah yang paling krusial.
Sebab, di masa-masa ini, cukup banyak terjadi perubahan dalam diri anak. Masa remaja disebut juga dengan adolescence rentan mengalami masa krisis identitas diri, sifat dan sikap.
Masa remaja, anak mulai menentukan jati diri, mulai muncul hasrat seksual, memiliki cita-cita, dan mulai adanya rencana hidup. Selain itu, kata Endang, juga bakal terjadi perubahan dengan meningkatnya emosi, perilaku, bahkan mulai menyadari lebih mudah mengecam daripada melaksanakan.
Oleh sebab itu, lanjutnya, ketidakmampuan remaja dalam mengenali dirinya mendorong mereka untuk melakukan segala hal yang belum mereka rasakan dan ketahui sebelumnya. Terjadinya perubahan pada hormon dan juga sistem saraf yang mempengaruhi psikologis.
Maka itu, dia menyarankan adanya dukungan dari keluarga untuk mengatasi berbagai masalah anak saat remaja. Hal itu penting agar mereka tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas.
“Orang tua harus memahami perubahan fisik dan psikologi pada anak remajanya, sehingga lebih siap dalam menghadapi perkembangan anak,” sarannya.
Pola asuh yang keras juga bisa menjadi bibit terciptanya anak menganggap bahwa kekerasan adalah hal yang wajar. Perilaku agresif atau kriminal makin terpupuk, jika berteman dan bergaul di lingkungan yang salah.
Itu sebabnya, orang tua harus menjadi sumber perhatian sekaligus sebagai tempat curhat yang nyaman buat anak. Anak remaja juga perlu dilibatkan dalam program -program yg positif, baik di sekolah maupun di rumah.
Terpisah, Pakar pengasuhan (parenting) Binus University Johana Rosalina menyarankan, orang tua agar memiliki pola asuh otoritatif atau pola asuh yang memiliki kehangatan, tetapi juga menghargai tanggapan serta memiliki kontrol dan ketegasan tinggi. “Mari kita menjadi orang tua yang otoritatif dan demokratis dengan cara membiasakan ‘yuk kita bicarakan’ pada anak. Jadi orang tua harus responsif, ada timbal balik berupa komunikasi,” kata Rosa dalam diskusi BKKBN yang diikuti secara daring di Jakarta, dikutip Kamis (24/10/2024).
Dia merinci, ada empat macam pola asuh, indulgent, authoritative, neglectful, dan authoritarian. “Kuadran yang paling ideal adalah authoritative, karena punya kehangatan dan tanggapan yang tinggi, serta punya ketegasan dan kontrol yang juga cukup tinggi,” ujar Rosa.
Lebih jauh, dia menjelaskan, pola asuh indulgent cenderung memanjakan dan hangat, tetapi tidak ada kontrol pada anak. Sedangkan neglectful, yakni orang tua cenderung abai dan tidak ada kontrol, serta dingin pada anak.
Ada juga otoritarian, yakni orang tua cenderung terlalu mengontrol, dingin, dan memaksakan kehendak pada anak. “Kalau boleh saya sarankan, ketiga itu jangan menjadi pola asuh. Mari menjadi orang tua yang otoratif, yakni mengakomodasi komunikasi, bertanya apa yang anak rasakan, apa yang anak pikirkan, serta mengkomunikasikan apa yang orang tua pikirkan dan sama-sama mencari titik tengahnya,” paparnya.
Dia juga menyarankan orang tua agar tidak abai dan cuek, apalagi otoriter karena akan berdampak negatif dan membuat anak terluka. Sehingga nantinya anak akan menjadi pendendam.
Menurut dia, prinsip dasar membuat remaja bertanggung jawab adalah dengan mengajarkan konsep diri yang positif, cara bertanggung jawab, membantu remaja mandiri dan dapat memecahkan masalahnya sendiri, serta dapat menjadi penengah argumen dengan tenang. “Cara orang tua bicara pada anak, menjadi inner voice anak. Misalnya, ketika orang tua bicara dengan nada tinggi maka dalam benak anaknya akan merasa tidak berharga karena orang tuanya hanya marah-marah dan tidak puas pada pencapaian anaknya, sehingga akan membentuk konsep diri anak yang minder, pemalu, dan penakut,” tuturnya.
Sebaliknya, lanjut dia, jika orang tua mendukung anak dan memberikan afirmasi positif pada pencapaian mereka, maka akan membentuk anak yang percaya diri dan merasa kagum pada dirinya. Sehingga diharapkan, dapat mempengaruhi pencapaian anak di masa mendatang.
“Jangan mengkritik yang berlebihan dengan membandingkan antaranak, tidak mendengarkan cerita anak, terlalu menggunakan power orangtua, serta terlalu banyak nasihat. Mari mengembangkan kesetaraan, bersikap sebagai teman yang selalu mau belajar bersama anak,” tuntasnya. (sic)


