WARTALENTERA – Iran kembali menegaskan bahwa pihaknya tidak menginginkan gencatan senjata melainkan penghentian perang secara total. Tidak hanya itu, Iran juga menginginkan adanya jaminan bebas dari serangan di masa depan dan kompensasi.
Hal ini ditegaskan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada Al Jazeera yang dikutip Rabu (1/4/2026). Ia mengatakan kontak dengan AS bukanlah negosiasi, melainkan pertukaran pesan, baik secara langsung maupun lewat perantara di kawasan.
Araghchi menyebutkan dirinya terus menerima pesan dari utusan AS Steve Witkoff, tetapi menegaskan bahwa hal itu tidak boleh diartikan sebagai negosiasi formal. Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui kementerian luar negeri, termasuk komunikasi terbatas di antara badan keamanan, tanpa adanya pembicaraan dengan pihak tertentu di dalam negeri.
Ia menambahkan pertukaran pesan berlangsung dalam kerangka resmi pemerintah di bawah pengawasan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Menurut Araghchi, pesan tersebut mencakup peringatan dan pandangan bersama yang disampaikan melalui saluran tertentu.
Aragchi juga menegaskan bahwa pihaknya belum memberikan tanggapan apapun terkait 15 usulan AS, pun pengajuan usulan dan syarat. Ia juga mengatakan, hingga saat ini belum ada keputusan terkait negosiasi dan menekankan bahwa rakyatnya tidak bisa diancam.
Ia juga meminta Presiden AS Donald Trump untuk berbicara dengan hormat. Terkait keamanan maritim, Araghchi mengatakan Selat Hormuz sepenuhnya tetap terbuka dan hanya dibatasi bagi pihak-pihak yang melakukan permusuhan terhadap Iran.
“Langkah-langkah telah diambil untuk menjamin agar jalur pelayaran itu aman bagi kapal-kapal negara sahabat,” katanya. (inx)


