WARTALENTERA – Nama Irwan Hidayat tentunya tak asing lagi di kancah bisnis Indonesia. Ya, ia adalah sosok utama dibalik suksesnya produk-produk jamu besutan Sido Muncul.
Masyarakat Indonesia pastinya sudah banyak yang tahu akan produk jamu keluaran Sido Muncul, seperti Tolak Angin dan Kuku Bima karena bisa dengan mudah ditemukan di supermarket hingga pedagang asongan. Tak hanya di Indonesia, produk Sido Muncul juga berhasil masuk ke beberapa negara lain seperti Amerika, Rusia, Australia, Timur Tengah, Afrika, dan ASEAN.
Pada 2019, Sido Muncul masuk ke dalam “Best of The Best” 50 perusahaan terbaik versi majalah Forbes Indonesia. Kesuksesan Sido Muncul masih bertahan hingga saat ini.
Buktinya, sepanjang 2024 ini, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) mencatatkan penjualan Rp2,63 triliun, naik 11,24 persen dibandingkan penjualan per September 2023 yang sebesar Rp2,36 triliun. Laba kotor perseroan itu juga naik Rp1,49 triliun pada September 2024 dibanding Rp1,27 triliun pada September 2023.
Hingga September 2024, Sido Muncul membukukan penghasilan keuangan senilai Rp29,94 miliar dan biaya keuangan Rp656 juta. Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan, laba bersih periode yang sedang berjalan sekarang sebesar Rp778,12 miliar.
Laba bersih itu naik 32,65 persen dibandingkan laba pada periode yang sama di tahun lalu, yakni sebesar Rp586,57 miliar. Capaian tersebut berdasarkan kinerja sembilan bulan (berakhir pada 30 September 2024) yang diumumkan secara resmi pada 24 Oktober 2024 lalu.
Sang dermawan
Irwan Hidayat yang juga memiliki nama Tionghoa Liem Bien Tiong, dikenal sangat dermawan. Saat pandemi Covid-19, misalnya, Irwan melalui PT Sido Muncul menyalurkan bantuan sebesar Rp15 miliar dalam rangka membantu mengatasi pandemi virus corona.
Dana tersebut diberikan dalam bentuk Alat Pelindung Diri (APD), Face Shield, Virus Transport Media (VTM), Rapid test, hand sanitizer, masker, sarung tangan, disinfektan, uang tunai, dan sembako. Adapun bantuan disalurkan kepada pihak yang membutuhkan seperti tenaga medis, lansia, pengendara ojek online, juga pengendara bajaj.
Kedermawanan Irwan tidak berhenti di situ saja. Saat Ramadan tiba, perusahaannya kerap menggelar acara mudik gratis untuk pedagang jamu dan masyarakat yang sudah dilakukan sejak 1991. Pada 2019, Sido Muncul memberangkatkan 12.000 pedagang jamu di acara penyelenggaraannya yang ke-30. Dengan 189 unit bus, Sido Muncul berhasil membantu pedagang jamu untuk mudik ke kampung halaman masing-masing.
Tidak aneh jika Irwan Hidayat disebut sebagai orang yang dermawan. Kedermawanannya bahkan diakui oleh majalah Forbes yang memasukkannya ke dalam daftar “Heroes of Philantrophy” atau Pahlawan Kemanusiaan Asia Pasifik pada 2013. Daftar tersebut ditujukan bagi orang-orang rela memberikan uang dengan jumlah banyak untuk beramal.
Selain dermawan, Irwan Hidayat juga tercatat di Forbes sebagai 50 orang terkaya di Indonesia dengan jumlah kekayaan mencapai USD1,08 miliar atau Rp16,4 triliun per 12 Juni 2023. Pada tahun tersebut, Irwan Hidayat menempati peringkat 44 dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
Bangkit dari lilitan hutang
Irwan Hidayat saat ini menjabat sebagai direktur utama di perusahaan tersebut. Pria kelahiran Yogyakarta, 23 April 1947 ini meneruskan perusahaan yang didirikan sang nenek, Ny. Rakhmat Sulistio yang diwariskan kepadanya dan empat saudara laki-lakinya pada 1972 silam.
Kesuksesan Sido Muncul yang bertahan hingga saat ini, tentu saja tak lepas dari kerja keras Irwan dan saudara-sadauranya. Akan tetapi, belum banyak masyarakat tahu bahwa perusahaan keluarga ini awalnya tidak sesukses sekarang, bahkan sempat terlilit hutang yang terbilang besar.
Sebagai generasi ketiga, Irwan masuk ke dalam bisnis jamu keluarganya pada 1973 bersama keempat saudaranya. Sempat ia duduk di bangku perguruan tinggi, tapi tak satupun dari lima bersaudara tersebut lulus kuliah karena lebih memilih untuk menjalankan bisnis.
Sebagai pendatang baru, Irwan dihadapkan dengan berbagai macam masalah yang melilit perusahaan. Pabrik jamu berukuran 600 m2 itu dibebani oleh hutang yang terbilang besar. Hal itu diperparah dengan kalah telaknya jamu yang bersaing dengan pil obat-obatan. Saat itu, pangsa jamur hanya 0,5 persen di industri farmasi.
Permasalahan yang ada pada produk Sidomuncul adalah rasanya yang pahit di lidah. Hal ini baru disadari oleh Irwan pada 1993. Selain membenahi produk, Irwan juga mulai membuat perubahan di beberapa bidang termasuk membenahi utang.
Berbenah
Sebagai pengusaha, Irwan mengambil langkah yang tidak biasa pada akhir era orde baru. Sido Muncul memutuskan untuk mendirikan laboratorium pada 1997. Padahal, krisis ekonomi sedang menerjang Indonesia saat itu, tapi Irwan malah berhasil memiliki aset baru untuk perusahaannya.
Laboratorium seluas 3.000 m2 persegi disandingkan dengan pabrik seluas 7 hektare pada 1998. Semua berdiri di sebuah kawasan yang memiliki luas 32 hektare, termasuk sarana agrowisata. Semua dibangun untuk menunjang Sido Muncul agar menjadi lebih baik.
Minuman tradisional yang merupakan bisnis keluarga ini kemudian diolah dengan otomasi mesin. Meski awalnya diragukan, langkah visioner yang diambil oleh Irwan ini membawa keuntungan besar hingga hari ini.
Lewat teknologi, Irwan ingin membuktikan bahwa jamunya bisa diuji secara ilmiah. Adapun untuk bahan baku, sebagian besar didapatkan dari Indonesia. Sido Muncul bekerja sama dengan mitra petani yang menyediakan bahan baku yang kemudian diolah menjadi jamu.
Kesuksesan semakin terlihat pada tahun 2000. Sidomuncul mendapatkan Sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik dari Departemen Kesehatan (CPOB). Dengan sertifikat ini, produk yang dihasilkan oleh PT Sidomuncul resmi sejajar dengan produk obat-obatan yang dihasilkan oleh industri farmasi. (inx/berbagai sumber)


