WARTALENTERA – Mantan Di Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi menyampaikan keinginannya untuk berlabuh ke Partai Gerindra. Hal ini disampaikan Budi Arie saat dirinya kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Projo untuk periode 2025-2030.
Ya, dalam Kongres III Projo di Jakarta pada Minggu (2/3/2025), sebuah babak baru dalam perpolitikan nasional, resmi dibuka. Budi Arie Setiadi, sosok sentral yang telah memimpin Projo—organisasi relawan terbesar pendukung Presiden Joko Widodo—sejak kelahirannya, kembali terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum.
Namun, kejutan terbesar justru datang dari pernyataan politiknya sendiri: komitmen untuk segera berlabuh ke Partai Gerindra.
Keputusan ini adalah sebuah “perpindahan kapal” politik yang menandai transisi kekuasaan dan loyalitas, dari era Jokowi’s man menjadi bagian integral dari mesin politik Presiden Prabowo Subianto.
Aklamasi sebagai pemimpin Projo adalah penegasan atas loyalitas relawan tersebut terhadap arah politik yang kini ia bawa. Namun, Budi Arie tidak ingin membawa Projo menjadi partai politik.
Sebaliknya, ia mendorong para anggotanya untuk berjuang melalui jalur partai. Ia sendiri secara jelas sudah memilih: Partai Gerindra.
Saat ditanya mengenai langkah politiknya, Budi Arie tidak bertele-tele. Ia secara gamblang menyebut nama partai pimpinan Presiden Prabowo tersebut.
“Betul. Iya lah, pasti Gerindra. Nanti kita tunggu dinamika di Kongres ketiga ini. Yang pasti begini, satu, kita akan memperkuat dan mendukung agenda-agenda politik Presiden Prabowo,” ujar Budi Arie.
Pernyataannya seolah menjadi penegasan komitmen untuk memperkuat pemerintahan yang baru. Ia bahkan menyebut bahwa keputusannya untuk berpartai didasarkan pada arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto, yang sebelumnya sempat menggoda Budi Arie dengan pertanyaan, “PSI atau Gerindra kau?”
Keputusan ini sekaligus menjawab teka-teki kemana arah politik para loyalis utama Jokowi, setelah masa jabatan Sang Presiden berakhir. Bagi Budi Arie, pendaratan politik haruslah di tempat yang memiliki kekuatan dan jaminan keberlanjutan.
Analisis Pengamat
Langkah Budi Arie yang memilih Gerindra ketimbang partai lain yang lebih dekat dengan lingkaran Jokowi (seperti PSI) mengundang sorotan tajam dari para pengamat politik. Mereka menilai keputusan ini adalah hasil dari kalkulasi politik yang sangat rasional, melampaui sekadar sentimen kesetiaan lama.
Dedi Kurnia Syah, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), menyoroti faktor jaminan kekuasaan.
“Dari sisi politik, terhitung tepat bergabung ke Gerindra. Selain partai penguasa, juga ada jaminan Gerindra menjaga karir kekuasaan Budi Arie. Sementara PSI, masih belum ada jaminan apapun,” kata Dedi.
Dedi juga menambahkan bahwa faktor “daya tarik” politik sosok Presiden Jokowi kini mulai memudar seiring selesainya masa jabatan.
“Sisi lain, Jokowi sendiri tidak lagi menarik karena bukan penguasa… ini juga yang membuat PSI tidak cukup menarik bagi politisi pragmatis seperti Budi Arie, loyalitasnya bukan faktor Jokowi, melainkan soal untung rugi,” ujar Dedi, menegaskan bahwa pilihan ini adalah langkah realpolitik.
Secara strategis, Gerindra dilihat sebagai “kapal induk” yang lebih kokoh dan stabil untuk melanjutkan karir politik di masa pemerintahan mendatang.
Keinginan Budi Arie untuk ke Partai Gerindra, juga memantik komentar tajam dari pengamat politik Rocky Gerung.
Menurutnya, langkah tersebut bukan sekadar manuver politik biasa, melainkan sinyal dimulainya era transaksi besar-besaran di panggung kekuasaan nasional.
“Politik sedang masuk dalam era transaksi habis-habisan atau besar-besaran,” ujar Rocky dalam tayangan di kanal YouTube Rocky Gerung Official, Senin (3/11/2025)
Rocky menilai, pergerakan Projo yang dikenal sebagai pendukung garis keras Presiden Joko Widodo kini berubah menjadi semacam alat tukar tambah politik antara kubu Jokowi dan Presiden terpilih Prabowo Subianto.
“Bayangkan, Projo pada akhirnya harus pindah ke Gerindra. Itu mungkin strategi jitu oleh Ketua Projonya, saudara Budi, untuk memungkinkan ada tukar tambah baru dalam politik,” kata Rocky.
Menurutnya, langkah Budi Arie itu menarik karena memperlihatkan dinamika baru dalam dinasti politik Jokowi yang sedang beradaptasi di era kepemimpinan Prabowo.
Rocky juga menyinggung kemungkinan adanya faktor lain di balik keputusan politik Budi Arie. Ia menyinggung isu lama terkait dugaan kasus korupsi yang pernah menyeret nama Budi.
“Apa betul upaya untuk regain (mengembalikan) pengaruh Presiden Jokowi itu pada akhirnya harus ditransaksikan dengan kedudukan saudara Budi yang berkasus, sehingga pindah dari Projo ke Gerindra?” ungkap Rocky.
Apapun alasannya, keputusan Budi Arie untuk bergabung ke Gerindra, menjadi penanda penting dalam peta politik pasca-Jokowi: bahwa loyalitas politik kini dialihkan kepada pemegang kekuasaan baru, demi memastikan kesinambungan gerak pembangunan dan karir politik personal. (inx)


