WARTALENTERA – Meski belum terkonfirmasi, isu kematian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, seolah membuka jendela persepsi masyarakat dunia untuk memahami arah Israel dan Timur Tengah di titik yang paling rapuh. Ya, kabar tentang wafatnya seorang pemimpin di tengah konflik selalu membawa dua hal sekaligus: ketidakpastian dan percepatan sejarah.
Menurut Dr. Selamat Ginting, Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS), dalam sistem politik Israel, kekosongan jabatan perdana menteri tidak akan dibiarkan lama. Mekanisme konstitusional memungkinkan penggantian cepat melalui kabinet atau parlemen (Knesset).
“Namun, persoalannya bukan sekadar prosedur, melainkan siapa yang cukup kuat secara politik dan diterima oleh koalisi?” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (19/3/2026).
Setidaknya, kata Selamat Ginting, ada tiga figur yang kerap disebut dalam orbit kekuasaan. Sosok pertama adalah Yoav Gallant sebagai Menteri Pertahanan yang memiliki legitimasi dalam situasi perang.
“Jika ancaman keamanan menjadi prioritas utama, sosok seperti Gallant berpeluang naik karena dianggap ‘tangan besi’ yang dibutuhkan,” kata Ginting.
Sosok kedua adalah Yair Lapid sebagai representasi kubu yang lebih moderat. Dalam kondisi krisis, tekanan publik bisa mendorong figur seperti Lapid tampil sebagai alternatif untuk meredakan ketegangan.
“Dan sosok ketiga adalah Benny Gantz, mantan panglima militer yang memiliki kredibilitas keamanan sekaligus citra lebih seimbang. Ia sering dilihat sebagai figur kompromi di antara kubu keras dan moderat,” terang Ginting.
Namun realitas politik Israel saat ini menunjukkan satu hal terjadi, yakni fragmentasi. Koalisi rapuh, polarisasi tajam, dan tekanan perang membuat proses suksesi bukan hanya soal figur, tetapi soal pertarungan arah negara.
Eskalasi atau Reorientasi
Kematian Benjamin Netanyahu, Sambung Ginting, jika benar itu terjadi, akan mendorong Israel ke arah dua persimpangan strategis. Pertama, konsolidasi garis keras.
“Dalam jangka pendek, skenario paling realistis adalah menguatnya pendekatan militeristik. Apalagi jika kematian tersebut terkait serangan dari aktor eksternal seperti Hamas, Hezbollah, atau bahkan keterlibatan Iran. Respons Israel hampir pasti akan keras,” tutur Ginting.
Dalam logika keamanan nasional, kehilangan pemimpin saat perang sering diterjemahkan sebagai serangan terhadap eksistensi negara. Di titik ini, Israel Defense Forces akan menjadi aktor paling dominan.
“Politik sipil cenderung mengikuti ritme militer, bukan sebaliknya. Konsekuensinya, operasi militer diperluas, target musuh juga diperluas, sehingga risiko perang regional semakin meningkat,” ujar Ginting menambahkan.
Lalu yang kedua, peluang moderasi. Kepergian figur dominan seperti Benjamin Netanyahu bisa membuka ruang bagi konsolidasi politik baru, tekanan publik untuk mengakhiri konflik berkepanjangan, dan reposisi hubungan dengan dunia Arab.
“Figur seperti Gantz atau Lapid dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendorong pendekatan yang lebih diplomatis. Tetapi peluang ini sangat bergantung pada satu faktor: apakah situasi keamanan memungkinkan jeda konflik? Sebab tanpa jeda, moderasi sulit tumbuh,” terangnya.
Dampak Regional
Timur Tengah adalah sistem yang saling terhubung. Perubahan di Israel hampir selalu berdampak lintas batas.
Menurut Ginting, jika Benjamin Netanyahu betul tewas dalam konteks konflik, maka eskalasi dengan Iran bisa meningkat, Front Lebanon melalui Hezbollah bisa memanas, Gaza tetap menjadi titik api.
Namun dalam jangka panjang, ada kemungkinan terjadinya “reset geopolitik”. Negara-negara Arab yang sebelumnya membuka normalisasi bisa meninjau ulang hubungan diplomatiknya dengan Israel.
Aktor global seperti Amerika Serikat akan menekan stabilitas, akibatnya menimbulkan peluang negosiasi baru, meski kecil tapi bisa berpotensi muncul. Masalahnya, Timur Tengah jarang bergerak lurus. Ia bergerak melalui krisis demi krisis.
Selama lebih dari satu dekade, Benjamin Netanyahu bukan sekadar pemimpin, melainkan juga arsitek arah politik Israel. Ia sangat keras terhadap Iran, skeptis terhadap solusi dua negara (Israel dan Palestina), dan piawai memainkan politik koalisi.
“Tanpa dirinya, Israel menghadapi satu pertanyaan besar: apakah negara ini akan tetap berada dalam orbit politik keamanan ekstrem, atau mulai mencari keseimbangan baru? Jawabannya tidak hanya ditentukan oleh siapa penggantinya, tetapi oleh tekanan publik domestik, dinamika ancaman eksternal, serta posisi Amerika Serikat sebagai sekutu utama,” tutur Ginting. (inx)


