WARTALENTERA-RI gabung BRICS, peluang ekspor produk halal terbuka luas. Kini keanggotaan negara-negara BRICS diperluas hingga mencakup Iran, Mesir, Ethiopia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Pemerhati ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nur Hidayah, mengatakan, BRICS dapat menjadi pasar strategis bagi produk halal Indonesia karena tingginya populasi muslim di sebagian besar negara anggotanya. “Selain Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, BRICS kini juga mencakup negara-negara dengan populasi muslim besar. Ini membuka peluang ekspor produk halal Indonesia ke pasar-pasar baru yang potensial,” ujarnya, melansir bincang RRI Pro 3, dikutip Selasa (8/7/2025).
Menurutnya, 45 persen populasi dunia berada di negara-negara BRICS, dengan porsi penduduk muslim yang signifikan. Hal ini menjadikan BRICS sebagai mitra strategis dalam mendorong Indonesia menjadi pusat industri halal dunia.
Indonesia sendiri menargetkan nilai ekspor produk halal mencapai USD13,8 miliar atau sekitar Rp225 triliun pada tahun 2025. Sementara pada Januari–Oktober 2024, ekspor produk halal tercatat sebesar USD41,42 miliar (sekitar Rp673,9 triliun), mencerminkan potensi yang besar untuk terus tumbuh.
Namun, dia mengingatkan, bahwa Indonesia harus mampu bersaing dengan negara lain di pasar halal global. “Kualitas dan daya saing produk halal Indonesia harus terus ditingkatkan agar bisa bersaing di pasar internasional, termasuk di kawasan BRICS,” tegasnya.
Pemerintah saat ini terus mendorong pengembangan industri halal di berbagai sektor strategis seperti makanan, minuman, kosmetik, dan farmasi. Langkah-langkah seperti promosi produk unggulan dan penguatan regulasi halal juga dilakukan untuk mendukung peningkatan ekspor.
Dengan mengoptimalkan kerja sama ekonomi dan peluang perdagangan dalam forum BRICS, Indonesia diharapkan bisa memperluas akses pasar. Dan memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam industri halal global. (sic)


