WARTALENTERA – Ribuan warga Palestina kembali ke rumah mereka di Gaza Utara yang sudah dikosongkan oleh pasukan Israel setelah gencatan senjata berlaku pada Jumat (10/10/2025).
Menurut seorang koresponden Anadolu, warga Palestina yang mengungsi berangkat dari Gaza selatan ke rumah mereka di utara, sebagian besar berjalan kaki.
Beberapa orang melakukan perjalanan berjam-jam menggunakan beberapa kendaraan yang masih beroperasi di tengah kekurangan bahan bakar, sedangkan lainnya menggunakan gerobak yang ditarik hewan, sepeda, dan sepeda motor.
Secara bersamaan, ribuan orang kembali ke rumah mereka di Jalur Gaza tengah dan beberapa bagian timur Khan Younis di selatan melalui Jalan Al-Rashid di pesisir barat dan Jalan Salah al-Din di timur.
Ratusan warga sipil yang mengungsi harus mendirikan tenda di atas reruntuhan rumah mereka setelah kembali.
“Saya berdoa agar Tuhan meringankan duka dan tekanan kami dan agar orang-orang kembali ke rumah mereka. Sekalipun rumah-rumah hancur, kami akan kembali, Insya Allah,” kata Ahmad Abu Watfa kepada CNN dalam perjalanan pulang ke Sheikh Radwan di Kota Gaza.
Pria itu mengatakan ia merasakan sukacita yang luar biasa, meskipun dirinya tahu bahwa kemungkinan besar tidak ada lagi yang bisa ia sebut rumah.
“Tidak ada perasaan yang lebih indah dari ini — perasaan orang-orang kembali dari selatan ke utara,” katanya.
Seorang juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa orang-orang diizinkan untuk berpindah dari selatan ke utara melalui Jalan Al-Rashid di pesisir dan Jalan Salah al-Din di pusat Jalur Gaza.
Penarikan pasukan Israel secara bertahap menuju garis kuning selesai pada Jumat (10/10/2025) sesuai dengan rencana Presiden AS Donald Trump.
Pasukan militer telah ditarik dari Kota Gaza di utara, kecuali permukiman Shejaiya dan sebagian permukiman Al-Tuffah dan Zeitoun; serta bagian tengah dan timur Khan Younis di selatan. Warga Palestina dilarang memasuki Beit Hanoun dan Beit Lahia di Gaza utara.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan pada Sabtu bahwa lebih dari 5.000 misi, termasuk operasi kemanusiaan, kesehatan, penyelamatan, dan bantuan, telah dilaksanakan dalam 24 jam terakhir di seluruh kegubernuran Gaza.
Trump pada Rabu mengumumkan bahwa Israel dan Hamas menyetujui pelaksanaan tahap pertama dari rencana 20 poin yang ia rancang pada 29 September, yang mencakup gencatan senjata di Gaza, pertukaran tawanan, dan penarikan bertahap pasukan Israel.
Tahap kedua dari rencana tersebut menyerukan pembentukan mekanisme pemerintahan baru di Gaza tanpa partisipasi Hamas, pembentukan pasukan keamanan yang terdiri dari warga Palestina dan pasukan dari negara-negara Arab dan Islam, serta pelucutan senjata Hamas.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan hampir 67.200 warga Palestina di daerah kantong tersebut, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan membuatnya tidak layak huni. (inx)


