WARTALENTERA-Habemus Papam (kita sudah punya Paus (baru)), suara pengumuman itu dibarengi dengan dentangan bertubi lonceng di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Roma, sesaat setelah konklaf dinyatakan selesai karena Paus baru sudah terpilih, Kamis (8/5/2025) waktu setempat. Gereja Katolik menyambut pemimpin baru setelah Kardinal Robert Francis Prevost resmi terpilih sebagai Paus ke-267 dan menyandang nama baru Paus Leo XIV.
Ia menjadi Paus pertama dalam sejarah Gereja Katolik yang berasal dari AS (Amerika Serikat), sebuah tonggak baru yang disambut dengan antusiasme di seluruh dunia. Ia dipilih oleh 133 kardinal di konklaf hari kedua.
Paus Leo XIV muncul di balkon Basilika Santo Petrus setelah diumumkan terpilih dalam konklaf. Mengenakan jubah putih dan merah, ia disambut gembira oleh ribuan umat yang hadir di Lapangan Santo Petrus.
Paus Leo XIV dikenal sebagai kardinal yang moderat serta cukup dekat dengan Paus Fransiskus. Paus Leo XIV diangkat oleh Paus Fransiskus menjadi kardinal pada 30 September 2023.
Meskipun Vatikan telah lama menentang gagasan seorang paus dari AS, karena status Negara Adidaya dan pengaruh global sekulernya, Robert Francis Prevost akhirnya ditunjuk sebagai Paus dengan nama Paus Leo XIV. Sosok berusia 69 tahun yang moderat dan lahir di Chicago masih layak untuk diperhatikan.
Pada akhirnya Prevost ditunjuk sebagai Paus dalam konklaf di Vatikan. Mantan pemimpin Ordo Santo Agustinus itu juga ditunjuk oleh mendiang Paus untuk menjadi anggota Dikasteri Uskup yang kuat, yang mengawasi pemilihan uskup baru dari seluruh dunia.
Jabatan-jabatan senior tersebut, dikombinasikan dengan fakta bahwa ia memiliki pengalaman misionaris yang signifikan di Peru, setelah menjabat sebagai uskup di kota utara Chiclayo, membantunya mendapat kepercayaan dan akhirnya menyetujui gagasan seorang Paus dari AS.
Dalam pidato perdananya, Paus Leo XIV menyampaikan komitmen untuk memperkuat persatuan di dalam Gereja dan memperjuangkan keadilan sosial di tengah tantangan global. “Gereja harus hadir di tengah umat, mendengarkan dan merangkul mereka yang tersisih,” ungkapnya di hadapan ribuan umat Katolik yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus.
Sebagai Paus pertama dari Ordo Santo Agustinus dan Amerika Serikat, Leo XIV membawa harapan besar untuk pembaruan spiritual dan keterbukaan dialog lintas budaya.
Perjalanan Hidup dan Pendidikan
Lahir pada 14 September 1955 di Chicago, Illinois, Robert Francis Prevost tumbuh dalam keluarga berdarah Prancis, Italia, dan Spanyol. Ia menjalani pendidikan agamanya di Seminari Menengah Ordo Santo Agustinus, lalu melanjutkan studi di Universitas Villanova, Pennsylvania.
Di kampus tersebut, ia meraih gelar Sarjana Matematika dan mempelajari Filsafat pada 1977. Di tahun yang sama, Prevost memasuki novisiat Ordo Santo Agustinus di Saint Louis.
Ia mengikrarkan kaul pertama pada 1978 dan kaul kekal pada 1981. Studi teologi ia tempuh di Catholic Theological Union, Chicago, sebelum akhirnya ditahbiskan sebagai imam pada 19 Juni 1982 di Roma oleh Monsinyur Jean Jadot.
Demi memperdalam ilmunya, Prevost melanjutkan pendidikan di Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas (Angelicum), Roma, dan berhasil meraih gelar lisensiat pada 1984 serta doktoral dalam Hukum Kanonik pada 1987. Usai menyelesaikan studi doktoral, Prevost memulai tugas misionaris di Chulucanas, Piura, Peru, pada 1985–1986.
Di negara itu, ia mengabdikan diri dalam pelayanan pastoral, fokus pada pendidikan dan pengentasan kemiskinan. Pengalamannya di Amerika Latin ini memperkaya perspektifnya terhadap misi gereja di tengah masyarakat.
Pada 2001, Prevost terpilih sebagai Prior Jenderal Ordo Santo Agustinus dan memimpin selama dua periode hingga 2013. Di bawah kepemimpinannya, ordo tersebut mengalami pembaruan dalam spiritualitas dan manajemen internal, memperkuat jejaring komunitas internasional.
Paus Fransiskus kemudian mempercayakan posisi penting kepada Prevost sebagai Uskup Chiclayo, Peru, pada 2015. Di Peru, ia dikenal sebagai pemimpin yang merakyat, mengedepankan dialog sosial, dan aktif dalam pemberdayaan masyarakat miskin.
Karier di Vatikan dan Jalan Menuju Suksesi Kepausan
Langkah Prevost menuju pucuk kepemimpinan Gereja Katolik semakin terlihat ketika pada Januari 2023 ia diangkat oleh Paus Fransiskus sebagai Prefek Dikasteri untuk Para Uskup sekaligus Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin. Jabatan tersebut memberinya tanggung jawab besar dalam proses penunjukan uskup di seluruh dunia—salah satu peran paling strategis di Vatikan. Keberhasilannya dalam menjalankan tugas itu membuat Prevost dipercaya oleh para kardinal dalam konklaf yang berlangsung di Kapel Sistina, Vatikan. (sic)


