warta lentera great work
spot_img

Selama Ini Lantang Bela Kaum Migran, Anis Hidayah Diberi Tanggung Jawab Pimpin Komnas HAM

Salah satu pendiri Migrant Care dan keberaniannya diakui sebagai Lima Aktivis HAM Perempuan Berpengaruh di Indonesia 2019.

WARTALENTERA-Komnas HAM atau Komisi Nasional Hak Asasi Manusia memiliki ketua baru, Anis Hidayah, yang akan memimpin lembaga independen ini hingga 2027. Anis menggantikan ketua sebelumnya, Atnike Nova Sigiro.

Pemilihan aktivis wanita kelahiran 7 November 1976 itu melalui Sidang Paripurna Komnas HAM dalam rangka pemilihan Pimpinan dan Subkomisi Komnas HAM untuk masa jabatan 2,5 tahun paruh kedua periode 2022-2027. Sekretaris Jenderal Komnas HAM Henry Silka Innah menyebut, rapat digelar pada Rabu (7/5/2025) lalu.

“Keputusan Sidang Paripurna tersebut tertuang dalam Keputusan Nomor: 07/PS.00/04/V/2025 tanggal 7 Mei 2025,” kata Henry lewat keterangan tertulis yang diterima Sabtu (10/5/2025).

Henry menjelaskan, sidang paripurna guna memilih pimpinan dan subkomisi Komnas HAM paruh kedua digelar berdasarkan Pasal 22 ayat (3) jo ayat (4) Peraturan Komnas HAM Nomor 2 Tahun 2019 tentang Tata Tertib

Pada paruh pertama keanggotannya di Komnas HAM sejak 2022, Anis menjabat sebagai Koordinator Subkomisi Pemajuan HAM. Sebelum bergabung dengan Komnas HAM, Anis aktif dalam isu pekerja migran dan sempat menjabat sebagai Direktur Migrant Care pada 2005-2016.

Berikut susunan baru keanggotaan Komnas HAM paruh kedua 2022-2027 sebagai berikut:

1. Ketua: Anis Hidayah

2. Wakil Ketua Eksternal: Putu Elvina

3. Wakil Ketua Internal: Prabianto Mukti Wibowo

4. Koordinator Subkomisi Pemajuan HAM: Atnike Nova Sigiroa.

Pendidikan dan Penyuluhan: Abdul Haris Semendawaib.

Pengkajian dan Penelitian: Uli Parulian Sihombing

5. Koordinator Subkomisi Penegakan HAM: Pramono Ubaid Tanthowia.

Pemantauan: Saurlin Pandapotan Siagianb.

Mediasi: Pramono Ubaid Tanthowic.

Pengaduan: Prabianto Mukti Wibowo

Anis dikenal sebagai tokoh aktivis yang berdedikasi terhadap hak asasi manusia buruh migran Indonesia di luar negeri dan merupakan salah satu pendiri Migrant Care. Ia juga merupakan salah satu pendiri komunitas Solidaritas Perempuan Jawa Timur pada tahun 1998.

Hal yang melatarbelakangi Anis dalam mendirikan komunitas tersebut adalah tempat kelahirannya yang merupakan salah satu basis buruh migran di Indonesia dan jumlah kejadian penipuan dan penganiayaan terhadap para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sehingga mendorong aktivis lainnya untuk mengadvokasikan hak asasi mereka juga.

Anis juga sempat mengkritik pandangan pemerintah mengenai TKI hanyalah “pahlawan devisa” yang tidak memandang penindasan yang dialami TKI tersebut. “Kami meminta pemerintah untuk memenuhi hak TKI dalam mendapatkan perlindungan dan kerja yang layak,” ucapnya, dalam sebuah wawancara.

Berasal dari keluarga ekonomi pas-pasan tidak memadamkan semangat Anis mencapai impian. Ia terus belajar hingga berhasil menyelesaikan studi S-2 hukum internasional Universitas Gajah Mada (UGM).

Perempuan asal Kecamatan Kedungadem tersebut, juga menyempatkan menulis buku. Sejak 2014, telah menerbitkan delapan buku.

Sosok peraih penghargaan Perempuan Perubahan 2019-2020 tersebut kebanyakan menulis buku motivasi dan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Perempuan peraih Human Rights Watch New York 2011 tersebut kerap menjalankan tugas negara dan menjadi dosen tamu berbagai kampus di Indonesia dan luar negeri.

Keluarga yang suportif menjadi pendukung utama bagi kesuksesan sosok peraih Lima Aktivis HAM Perempuan Berpengaruh di Indonesia 2019 tersebut. ‘’Dari dulu selalu dididik untuk terus maju, berjuang, dan bermanfaat,’’ ungkapnya, melansir Radar Bojonegoro, Sabtu (10/5/2025). (sic)

 

 

 

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular