WARTALENTERA – Gunung Lewotobi Laki-laki yang terletak di Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur yang meletus Minggu malam (3/11/2024) WITA atau Senin (4/11/2024) WIB memakan 10 orang korban jiwa. Satu di antaranya adalah seorang suster biarawati di Asrama Susteran Ordo Pewarta (SSpS) atau lebih dikenal sebagai Seminari Hokeng.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kabupaten Flores Timur Herry Lamawuran menjelaskan, seluruh korban sudah dievakuasi, termasuk Suster Nikoline, SSpS yang menjadi satu dari 10 korban jiwa akibat letusan tersebut.
“Proses evakuasi dilakukan oleh aparat Polsek Wulanggita Polres Flores Timur, Tagana, dan BPBD Flores Timur,” jelasnya, melansir Antara, dikutip Selasa (5/11/2024). Seminari San Dominggo (Sesado), Hokeng, dan sejumlah asrama biarawan/biarawati yang berada di Desa Hokeng Jaya dan Klantalo, berlokasi tepat di bawah kaki gunung tersebut.
Sesado alias Seminari Hokeng merupakan seminari menengah bersejarah di Keuskupan Larantuka yang sudah berdiri sejak 1950. Melansir laman Katolikana, asrama Susteran Ordo Pewarta (SSpS) serta SMP Sanctissima dikabarkan terbakar akibat erupsi tersebut.
Adapun asrama Sesado juga dilaporkan mengalami kerusakan berat, karena material batu berjatuhan hingga menembus kamar para siswa seminari. “Kondisi kami memprihatinkan. Lima orang siswa luka parah dan yang lain luka ringan, sudah diobati,” kata Romo Gius Lolan, Pr.
Menurut rekan mendiang Suster Nikoline, Suster Ines, korban meninggal di dalam kamarnya karena batu muntahan gunung meletus turun langsung dari atas kamarnya. “Kamarnya langsung terbakar dan Suster Nikoline ikut terbakar di dalam kamar,” ucapnya sambil menangis.
Dia menanbahkan, kini para suster lain, para calon suster, karyawati, dan anak-anak asrama putra dan putri sudah dievakuasi ke Kewapante, Maumere. “Kondisi mereka dengan pakaian di badan. Kondisi rumah kami juga terbakar dan rumah masyarakat juga. Sekolah kami: SMP juga terbakar hanya belum diidentifikaai dengan baik,” imbuhnya.
Penerbangan Masih Lumpuh
Tak hanya menelan korban jiwa dan menyebabkan warga terdampak, bencana alam itu juga melumpuhkan Bandara Internasional Komodo sejak kemarin. “Dari siang sampai sore, seluruh penerbangan dibatalkan,” kata Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Komodo Labuan Bajo Ceppy Triono, kemarin.
Ia menambahkan, pengecekan kondisi penerbangan telah ditegaskan dalam koordinasi bersama Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV dengan para kepala bandara di Provinsi NTT dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Pihaknya juga telah melakukan paper test untuk memastikan seluruh penerbangan dari dan ke bandara itu aman dari ancaman sebaran abu vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki.
“Paper test hasilnya negatif, tidak ada dan memang di dalam satelit cuaca seluruh Pulau Flores kena sampai ke Timor sebagian, tetapi ketika itu kami sampaikan ke airlines dan airlines dengan alasan keselamatan penerbangan memilih untuk membatalkan penerbangannya ke Labuan Bajo,” imbuhnya. Maka itu, dia belum bisa memastikan, kapan aktivitas penerbangan kembali normal di bandara berstatus bandara internasional itu.
Otoritas bandara, lanjut dia, akan melakukan pengecekan secara berkala sebab seluruh bandara di Pulau Flores terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. “Karena dampak erupsi cukup luas dan angin belakangan ini kencang sekali sehingga abu vulkanik ini sudah ke mana-mana, jadi bandara-bandara di wilayah Flores pasti akan terdampak semuanya,” terangnya lagi.
Pemantauan melalui satelit cuaca Himawari dan satelit cuaca di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus dilakukan. (sic)


