warta lentera great work
spot_img

UNRWA Mencatat, Hanya Tersisa 6 dari 22 Pusat Kesehatan di Gaza

Stok obat menipis, dokter bingung hadapi pasien dengan kondisi berat.

WARTALENTERA-UNRWA atau Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina mencatat, hanya tersisa enam dari total 22 pusat kesehatannya yang masih beroperasi di dalam dan di luar tempat penampungan, karena pemboman yang terus menerus berlangsung di Jalur Gaza, Palestina. Melansir Wafa, Rabu (28/5/2025), UNRWA mengatakan, pasokan medis penting sangat terbatas dan ada kebutuhan mendesak untuk pengiriman bantuan penyelamatan jiwa tanpa hambatan.

Israel diketahui telah menutup penyeberangan Jalur Gaza untuk masuknya makanan, bantuan, bantuan medis dan barang-barang sejak 2 Maret, yang menyebabkan kemerosotan yang signifikan dalam situasi kemanusiaan. Kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan stok peralatan medis di Gaza habis, sementara obat-obatan dasar sangat terbatas.

“Stok kami hampir mencapai 64 persen untuk peralatan medis dan 43 persen untuk obat-obatan esensial dan 42 persen untuk vaksin sudah habis,” kata Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur Hanan Balkhy kepada wartawan di Jenewa, melansir Reuters.

Ia mengatakan, WHO memiliki 51 truk bantuan yang menunggu di perbatasan Gaza yang belum mendapat izin untuk memasuki daerah itu, tempat Israel pekan lalu sedikit melonggarkan blokade total terhadap bantuan yang diberlakukan pada awal Maret. “Dapatkah Anda membayangkan seorang ahli bedah (memperbaiki) tulang yang patah tanpa anestesi? Cairan infus, jarum, perban, semuanya tidak tersedia dalam jumlah yang dibutuhkan,” rincinya.

Ia melanjutkan, obat-obatan dasar seperti antibiotik, pereda nyeri, dan obat untuk penyakit kronis sangat terbatas. Setelah blokade selama 11 minggu, Israel mengizinkan 100 truk bantuan yang membawa tepung, makanan bayi, dan peralatan medis memasuki Jalur Gaza pada 21 Mei, tidak satu pun dari mereka berasal dari WHO.

Diketahui, konflik terbaru di Gaza pecah pada 7 Oktober, usai kelompok militan Palestina pimpinan Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menyebabkan 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera menurut perhitungan Israel. Pada 19 Januari, kedua negara memberlakukan kesepakatan gencatan senjata dan melakukan pertukaran sandera-tahanan, setelah kesepakatan yang dicapai beberapa hari sebelumnya antara Hamas dengan Israel lewat perantara Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat.

Israel kembali melakukan blokade total seluruh bantuan pada 2 Maret, mengatakan itu dilakukan untuk menekan kelompok Hamas menerima usul gencatan senjata dan membebaskan seluruh sandera di Jalur Gaza. Terpisah, sumber medis di Gaza mengonfirmas, Selasa (27/5/2025), jumlah korban tewas Palestina akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 telah meningkat menjadi 54.056 orang, sementara korban luka-luka mencapai 123.129 orang, mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

Menurut sumber yang sama, jumlah korban tewas sejak Israel memulai kembali genosida pada 18 Maret. Setelah gencatan senjata selama dua bulan juga telah meningkat menjadi 3.901, selain 11.088 lainnya yang terluka. (sic)

 

 

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular