warta lentera great work
spot_img

Usai DIguncang Gempa Magnitudo 6,6, Nabire Kembali Digoyang Aftershock Empat Kali

Berpotensi merusak bangunan.

WARTALENTERA-Usai diguncang gempa magnitudo 6,6, Nabire kembali digoyang aftershock empat kali, Jumat (19/9/2025). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan beberapa gempa susulan yang terjadi hingga pukul 01.51 WIB.

Gempa magnitudo (M) 6,6 mengguncang Nabire Papua Tengah, Jumat (19/9/2025), pukul 01.19.50 WIB. Direktur Gempa dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya aktivitas sesar anjak Weyland.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” ulasnya. Ia menjelaskan, gempa Nabire berdampak dan dirasakan di daerah Nabire dengan skala intensitas V MMI, daerah Wasior dengan skala intensitas IV-V MMI, daerah Enarotali dengan skala intensitas III-IV, daerah Timika dengan skala intensitas III MMI, daerah Biak dan Supiori dengan skala intensitas II-III.

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa tidak berpotensi tsunami,” yakinnya. Hingga pukul 01.47 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 4 aktivitas gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M4,2.

Data dari BMKG menunjukkan bahwa setelah gempa utama, gempa susulan pertama dengan magnitudo 4,2 terjadi pada pukul 01.33 WIB. Selanjutnya, gempa dengan magnitudo 3,9 mengguncang pada pukul 01.35 WIB dan kembali terjadi dengan magnitudo yang sama pada pukul 01.36 WIB.

Gempa susulan berlanjut dengan magnitudo 3,4 pada pukul 01.43 WIB dan magnitudo 4,0 pada pukul 01.51 WIB. Terakhir, gempa dengan magnitudo 2,6 mengguncang kota tersebut pada pukul 02.05 WIB.

Gempa utama dengan magnitudo 6,6 terjadi pada pukul 01.19 WIB atau 03.19 WIT, berlokasi di titik koordinat 3.47 LS dan 135.49 BT, sekitar 29 kilometer Barat Laut Kota Nabire, dengan kedalaman 24 kilometer.  Berdasarkan hasil pengamatan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), pemicu gempa Nabire Magnitudo 6,6 pada kedalaman 24 km, Jumat (19/9/2025) pukul 01.19 WIB, diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Pensesaran Naik Weyland (Weyland Overthrust) di wilayah Nabire Papua Tengah.

Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid, gempa bumi ini memiliki mekanisme gempa sesar naik berarah barat daya – timur laut, dengan kemiringan 36 derajat ke arah tenggara. Kejadian gempa bumi berpotensi menimbulkan kerusakan di wilayah Nabire, namun tidak memicu tsunami karena pusat gempa bumi berada di darat.

Informasi yang dikumpulkan otoritasnya dari media massa menyatakan bahwa gempa bumi ini telah menimbulkan kerusakan pada bangunan di wilayah Nabire. “Gempa bumi ini berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan dan bahaya ikutan lainnya seperti retakan pada permukaan tanah, likuefaksi dan longsor. Masyarakat diharapkan melakukan pemeriksaan mandiri terkait kondisi bangunan setelah terjadi gempa bumi,” rincinya.

Kondisi Geologi Pusat Gempa

Wafid menyebutkan, lokasi pusat gempa bumi terletak di darat di wilayah Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Kondisi (morfologi) wilayah di sekitar lokasi pusat gempa bumi bervariasi, yaitu dataran, bergelombang, hingga perbukitan.

“Masyarakat diimbau mengamati dan mematuhi rambu evakuasi serta diimbau menjauhi daerah tebing yang berpotensi terjadi gerakan tanah, terutama saat terjadi hujan. Bangunan di daerah rawan gempa bumi diharapkan dapat mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, guna menghindari risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi,” tutur Wafid.

Ia juga menambahkan, kondisi geologi di area sekitar pusat gempa bumi tersusun oleh batuan sedimen, batuan sedimen karbonat, batuan malihan, dan batuan terobosan berumur Paleogen, batuan sedimen berumur Neogen dan batuan sedimen Kuarter, serta endapan aluvium berumur Holosen. Batuan yang telah mengalami pelapukan dan sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi.

Kekerasan batuan permukaan dipengaruhi oleh umur dan jenis batuan. Batuan yang berumur lebih muda atau yang telah mengalami pelapukan mempunyai kekerasan lebih rendah begitu juga sebaliknya. “Wilayah terdekat dengan pusat gempa bumi diklasifikasikan ke dalam kelas tanah keras (C), tanah sedang (D), hingga lunak (E),” ungkap Wafid.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

“Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah,” imbau Daryono. (sic)

 

 

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular