WARTALENTERA-Cocok untuk pekerja muda, program beasiswa ABCDE target 1.000 warga RI. Program beasiswa tersebut diinisiasi Aristia Bachelor Collective Digital Education (ABCDE) bagi mereka yang berminat melanjutkan kuliah ke Taiwan dan China.
Beasiswa itu dikhususkan bagi pekerja muda yang memiliki semangat belajar namun belum berkesempatan meraih gelar sarjana. “Program ini kami hadirkan agar generasi muda Indonesia memiliki akses lebih luas terhadap pendidikan internasional. Kami ingin memberi jalan bagi mereka yang sebelumnya terkendala biaya dan informasi,” ujar pendiri ABCDE sekaligus Chief Marketing Officer Mazuta Group, Aristia Chen, dalam rilis resminya, dikutip Selasa (15/7/2025).
Dia menyampaikan, program ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat berkuliah di Taiwan. Meski tidak menuntaskan studi karena kendala pribadi, dirinya merasakan betul bagaimana pendidikan dapat membuka banyak pintu kesempatan dalam hidup.
“Program ABCDE bukan hanya soal beasiswa. Kami juga menyediakan bootcamp intensif, sertifikasi nasional, pelatihan Bahasa Mandarin, hingga pendampingan untuk persiapan kuliah ke luar negeri,” rincinya.
Dia juga menekankan, bahwa pendekatan ABCDE berbasis pada semangat kolaboratif dan prinsip Society 5.0, di mana akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi hak semua orang. Program ini secara khusus ditujukan untuk lulusan SMA/SMK yang sudah bekerja minimal dua tahun, belum memiliki gelar sarjana, dan tidak sedang menerima beasiswa lain.
Prosesnya mencakup pendaftaran bootcamp, seleksi ketat, pelatihan bahasa, hingga pengurusan dokumen ke universitas mitra di China dan Taiwan. Selain menargetkan pelajar berprestasi dari kalangan pekerja, ABCDE juga melihat tren positif dari peningkatan kualitas pendidikan tinggi di China serta besarnya anggaran riset dan inovasi yang terus dikembangkan negara tersebut.
Hal ini dianggap menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia. Pendidikan luar negeri, lanjutnya, dinilai memiliki nilai tambah dalam membekali generasi muda dengan perspektif global dan kemampuan lintas budaya.
Di sisi lain, dunia usaha juga makin membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya terampil, tetapi juga adaptif terhadap perubahan teknologi dan pasar global. “Kami ingin menjadi jembatan agar para pekerja muda Indonesia bisa bermimpi lebih besar dan punya peluang setara untuk meraih pendidikan tinggi, terutama di negara-negara yang sudah terbukti memiliki sistem pendidikan berkualitas,” tuntasnya. (sic)


