WARTALENTERA-Israel bom Gereja Katolik di Gaza, tiga tewas dan 10 lainnya luka-luka, termasuk seorang pastor. Patriarkat Latin Yerusalem mengatakan, usai mengebom kompleks gereja yang menjadi tempat perlindungan kemanusiaan bagi warga Gaza di Palestina, militer Israel terus melancarkan serangan di wilayah kantong yang terkepung tersebut.
“Setidaknya satu orang berada dalam kondisi kritis akibat serangan hari Kamis terhadap Gereja Keluarga Kudus di Kota Gaza,” ungkap Patriarkat dalam sebuah pernyataan, melansir Al Jazeera, Jumat (18/7/2025).
“Pastor gereja tersebut juga mengalami luka ringan,” tambahnya. Di antara mereka yang tewas, terdapat petugas kebersihan paroki berusia 60 tahun dan seorang perempuan berusia 84 tahun yang sedang menerima dukungan psikososial di dalam tenda Caritas di kompleks gereja, menurut lembaga amal Katolik Caritas Jerusalem itu.
“Serangan Israel di Gaza pada Kamis menewaskan setidaknya 32 warga Palestina, termasuk 25 orang di Kota Gaza saja,” ungkap sumber medis kepada Al Jazeera. Rekaman serangan Gereja Keluarga Kudus yang dipublikasikan oleh seorang aktivis Palestina dan diverifikasi oleh Al Jazeera menunjukkan kondisi Pastor Gabriel Romanelli, pastor gereja tersebut, setelah serangan Israel.
Video tersebut menunjukkan sang pastor dengan kaki kanannya diperban tetapi kondisinya baik. “Orang-orang di kompleks Gereja Keluarga Kudus adalah orang-orang yang menemukan tempat perlindungan di gereja, berharap kengerian perang setidaknya dapat menyelamatkan nyawa mereka, setelah rumah, harta benda, dan martabat mereka telah direnggut,” kata Patriarkat dalam pernyataannya setelah mengutuk serangan mematikan tersebut.
Shadi Abu Dawoud, seorang Kristen Palestina berusia 47 tahun, mengatakan aula utama gereja menampung puluhan warga yang mengungsi, terutama anak-anak dan lansia, dan semuanya adalah “warga sipil yang damai”. “Ibu saya menderita luka serius di kepala, dia sedang berkeliaran di halaman gereja bersama para perempuan lansia lainnya (ketika pasukan Israel menyerang),” katanya kepada Al Jazeera.
“Kami terkejut dengan serangan udara Israel ini. Ini adalah tindakan biadab dan tidak dapat dibenarkan,” kutuknya. Mohammed Abu Hashem, pria berusia 69 tahun yang tinggal di samping gereja, mengatakan ia berada di reruntuhan rumahnya ketika terjadi ledakan besar yang menyelimuti area tersebut dengan asap hitam.
Ia menambahkan, bahwa ia tidak pernah menyangka Israel akan menyerang gereja tersebut. “Serangan udara Israel sangat dahsyat, benar-benar mengerikan. Kengerian yang kami alami tak terlukiskan. Tak ada kata yang dapat menggambarkan apa yang kami alami. Bahkan jauh dari apa yang Anda tonton (di TV) atau dengar,” sebut Hashem.
Pastor Bashar Fawadleh, pastor paroki Gereja Kristus Penebus di Taybeh, dekat Ramallah di Tepi Barat yang diduduki, mengatakan ia berbicara tentang serangan itu dengan asisten pastor paroki Gereja Keluarga Kudus di Kota Gaza. “Ia mengatakan kepada saya bahwa pengeboman itu sangat dahsyat. Mereka mengebom gereja itu sendiri. Perasaan kami antara harapan dan duka, antara hidup dan mati,” ujar Fawadleh kepada Al Jazeera.
Fawadleh kembali menegaskan, seruan gencatan senjata untuk menghentikan “perang mengerikan di Gaza”. Paus Leo XIV sangat sedih dan terpukul mengetahui kondisi masyarakat di Gaza usai serangan ke Gereja Katolik Keluarga Kudus itu.
Pemimpin tertinggi umat Katolik itu mengatakan ia sangat berduka usai mendengar hilangnya nyawa dan cedera yang disebabkan oleh serangan militer di sana. Paus Leo XIV kembali menyerukan “gencatan senjata segera” di Jalur Gaza dan menyatakan “harapan mendalamnya” untuk “dialog, rekonsiliasi, dan perdamaian abadi di wilayah tersebut,” menyusul serangan Israel terhadap sebuah gereja Katolik yang menampung warga sipil.
Permohonan tersebut disampaikan dalam sebuah telegram yang ditandatangani oleh Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, setelah Gereja Keluarga Kudus di Gaza diserang militer Israel. Paus secara langsung menyapa Pastor Romanelli dalam telegram tersebut, meyakinkannya akan “kedekatan spiritualnya” dan menyampaikan doa bagi seluruh komunitas paroki.
“Mempercayakan jiwa-jiwa mereka yang telah meninggal kepada belas kasih Tuhan Yang Mahakuasa,” kata Paus, seraya berdoa “untuk penghiburan bagi mereka yang berduka dan untuk kesembuhan bagi mereka yang terluka.” Dalam serangan mematikannya di Jalur Gaza, tentara Israel telah mengebom beberapa tempat ibadah, termasuk Gereja Baptis Gaza dan Gereja Ortodoks Yunani Santo Porphyrius, gereja tertua di Jalur Gaza dan tertua ketiga di dunia.
Gereja Keluarga Kudus adalah satu-satunya gereja Katolik di Jalur Gaza, yang telah menampung banyak warga Kristen dan Muslim Palestina yang mengungsi sejak Oktober 2023. Mendapat kecaman dunia karena kebiadabannya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengaitkan serangan itu dengan “amunisi nyasar”, dan menambahkan bahwa Israel sedang menyelidiki insiden tersebut dan “tetap berkomitmen untuk melindungi warga sipil dan tempat-tempat suci”.
Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubungi pemimpin Israel tersebut setelah “tidak ada reaksi positif” terhadap serangan tersebut, menurut Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
“Merupakan kesalahan Israel karena menyerang gereja Katolik itu, itulah yang disampaikan perdana menteri kepada presiden,” kata Leavitt. Melaporkan dari ibu kota Yordania, Amman, Hamdah Salhut dari Al Jazeera mengatakan Netanyahu mengeluarkan pernyataan tersebut setelah “mendapat tekanan” dari Trump, menggemakan pengumuman Kementerian Luar Negeri sebelumnya bahwa penyelidikan sedang berlangsung.
“Agak sulit untuk mempercayai investigasi Israel apa pun yang terjadi setelah 21 bulan perang karena militer seringkali membebaskan diri dari segala bentuk kesalahan. Tidak ada yang dimintai pertanggungjawaban,” kata Salhut. (sic)


