WARTALENTERA – Tak bisa dipungkiri, masih banyak anak-anak di berbagai pelosok negeri, khususnya di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) termasuk Papua, sulit mendapatkan akses pendidikan yang layak dan berkualitas. Minimnya fasilitas dan keterbatasan ekonomi pun menjadi faktor penyebab anak-anak putus sekolah.
Tentu saja ini menjadi tantangan untuk pemerintah Indonesia, mengingat pendidikan merupakan hak dasar bagi anak tanpa terkecuali. Lalu, apa saja yang sudah dilakukan pemerintah?
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengambil langkah konkret untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di Papua. Berbagai program pun diluncurkan, salah satunya melalui program beasiswa yang ditujukan untuk mendukung siswa-siswa di daerah 3T.
Adapun dua program unggulan yang telah diluncurkan adalah Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dan Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik). Melansir laman resmi kemdikbud, Program Beasiswa ADEM merupakan beasiswa yang diberikan kepada para peserta didik yang tinggal dan berasal dari wilayah Papua, Daerah Khusus dan Repatriasi untuk melanjutkan pendidikan menengah.
Tujuan program ini adalah untuk memperluas dan meningkatkan akses bagi masyarakat di daerah 3T, daerah khusus, dan golongan masyarakat khusus lainnya. Dengan demikian, mereka dapat memperoleh layanan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berkualitas, utamanya pendidikan menengah.
Sementara itu beasiswa ADik adalah beasiswa afirmasi pemerintah untuk mahasiswa yang mengalami keterbatasan kondisi dan keberadaan sehingga kesulitan mengakses pendidikan tinggi. Beasiswa ADik terbagi ke dalam empat jenis, yakni ADik Wilayah Papua, ADik 3T, ADik ADEM & TKI dan ADik Mandiri.
Data dari puslapdik mencatat, sampai 2023, ada sebanyak 11.400 siswa yang ikut program ADEM dan sudah meluluskan 6.817 siswa. Hampir 50 persen dari sejumlah itu merupakan siswa asal Papua, sisanya adalah siswa dari daerah 3T dan anak dari keluarga Pekerja Migran di Malaysia.
Mereka menjalani sekolah SMA dan SMK di beberapa wilayah di Jawa, Sumatera dan beberapa wilayah lain di luar Papua.
Sementara untuk program ADik, sejak 2012 sampai 2023, sebanyak 3.231 siswa Papua berhasil melanjutkan kuliah di beberapa perguruan tinggi di luar Papua, seperti di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan wilayah lainnya.
“Kami ingin memastikan bahwa semua anak Indonesia, terutama dari Papua dan 3T, mendapatkan kesempatan yang setara untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Pendidikan adalah kunci penting dalam menciptakan masa depan yang lebih baik, baik bagi individu maupun daerah asal mereka,” ungkap Mendikbudristek 2019-2024 Nadiem Makarim
“Melalui program ini, kami berupaya memastikan bahwa tidak ada anak bangsa yang tertinggal hanya karena keterbatasan atau biaya,” ucapnya lagi.
Buka harapan baru
Kehadiran beasiswa ADEM dan ADik mendapat seakan membuka harapan dan mewujudkan impian anak-anak di Papua. Pasalnya, mereka bisa memperoleh akses pendidikan yang layak dan berkualitas.
Salah satu penerima beasiswa ADik 2017, Monalisa Valencia Merauje, mengungkapkan program ADik merupakan kesempatan luar biasa baginya. Lewat program ini, Monalisa berhasil menimba ilmu di Universitas Indonesia Program Studi di Sistem Informasi dan lulus tahun 2023.
“Program ADik merupakan program yang sangat luar biasa karena dengan adanya program ini, putra putri asli Papua diberikan kesempatan yang sama untuk bisa menambah ilmu di perguruan Perguruan tinggi terbaik,” ungkapnya.
Hal yang sama pun dirasakan oleh pemuda asal Papua yakni Yohanes Ryaldy Wanma. Saat sekolah di SMA Bhinneka Tunggal Ika Yogyakarta, ia mendapatkan beasiswa ADEM. Kemudian, semasa kuliah S1 pun ia berhasil mendapatkan beasiswa ADik.
“Keluarga saya punya keterbatasan ekonomi dan saya sebagai anak pertama merasa sangat terbantu oleh program ADEM dan ADik, selain tidak perlu keluar biaya, juga mendapatkan banyak sekali wawasan serta pengalaman-pengalaman yang luar biasa, dari satu kota ke kota lainnya dengan tantangan yang berbeda sehingga karakter saya lebih kuat,” tutur Yohanes.
Berkat beasiswa ini, Yohanes bisa melanjutkan melanjutkan pendidikan S2 di Amerika Serikat. Di sana ia mengambil studi Master Degree in Tourism and Hospitality Management di University of Florida.
Kesempatan berkuliah di negeri Paman Sam ini ia dapatkan setelah lolos beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
“Setelah menjalani perkuliahan, saya semakin sadar akan pentingnya dunia pendidikan dan dunia pariwisata terlebih khusus di Papua, karena itu pula kemudian saya melanjutkan pendidikan S2 saya dengan mengambil jurusan di bidang pariwisata,” jelas Yohanes.
Kisah Monalisa dan Yohanes menjadi salah satu bentuk terwujudnya pendidikan berkualitas di Papua. Pemerintah, dalam hal ini, berkomitmen untuk terus berupaya meningkatkan akses pendidikan yang layak dan berkualitas bagi anak-anak di wilayah 3T. Hadirnya beasiswa ADEM dan ADik diharapkan dapat membuat masa depan pendidikan di Papua semakin cerah. (inx)


