WARTALENTERA – Produk China mendominasi pasar domestik. Porsinya bisa mencapai hingga 70 persen. Hal ini tentu saja bisa mengancam keberadaan industri lokal.
Dominasi produk China merupakan dampak dari perang dagang yang turut mengguncang arus perdagangan di Asia Tenggara. Indonesia pun menjadi target limpahan produk China yang tertahan masuk AS karena perang tarif tersebut.
Data dari General Administration of Customs China mencatat, ekspor China ke negara-negara ASEAN pada Mei 2025 mencapai USD58,37 miliar, tumbuh 15 persen dibandingkan Mei 2024 yang sebesar USD50,83 miliar.
Indonesia mencatat salah satu lonjakan tertinggi. Impor dari China pada Mei 2025 mencapai USD7,1 miliar atau sekitar Rp115 triliun (kurs Rp 16.277), naik 13 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar USD6,3 miliar.
Secara kumulatif, impor Indonesia dari China selama Januari-Mei 2025 mencapai USD33,45 miliar, meningkat 17 persen secara tahunan. Sebaliknya, ekspor China ke AS pada periode yang sama turun 10 persen menjadi USD177,41 miliar.
China memang telah menjadi negara asal impor terbesar bagi Indonesia. Sepanjang 2024, nilai impor dari China mencapai USD62,88 miliar atau setara 31,13 persen dari total impor nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas impor dari China merupakan produk nonmigas. Selama Januari-April 2025, nilainya mencapai USD25,77 miliar atau 39,48 persen dari total impor nasional.
Tiga komoditas utama yang diimpor dari China meliputi mesin dan peralatan mekanis (HS 84), mesin listrik dan perlengkapannya (HS 85), serta kendaraan dan komponennya (HS 87).
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengungkapkan bahwa volume impor benang filamen terus meningkat tiap tahun.
Selama Januari-April 2025, impor benang filamen terdiri atas drawn textured yarn (DTY) sebanyak 41.658 ton, partially oriented yarn (POY) sebesar 36.582 ton, dan spin drawn yarn (SDY) sebanyak 22.286 ton.
“Selain benang, kain mentah, kain jadi, hingga garmen juga masuk ke pasar domestik dengan harga murah. Sekitar 90 persen berasal dari China dan jumlahnya masih terus naik tahun ini,” ujar Redma, Senin (16/6/2025).
Ia menambahkan, kondisi ini membuat utilisasi produksi industri benang filamen dalam negeri merosot menjadi hanya 45 persen, karena kalah bersaing dengan harga murah produk impor.
“Harga produk China murah karena adanya kebijakan dumping. Sudah saatnya pemerintah menerapkan bea masuk antidumping (BMAD). Kami mengusulkan tarif 20 persen agar tercipta persaingan yang adil di industri tekstil,” tegasnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo), Eko Wibowo Utomo, juga mengeluhkan hal serupa. Ia mengatakan pasar sepeda di Indonesia didominasi produk impor dari China. “Porsinya bisa mencapai 60-70 persen, lebih besar dari produksi dalam negeri,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal ini, Apsindo mendorong pemerintah menerapkan sistem pembatasan impor melalui regulasi seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mendukung produk lokal.
“Aturannya jangan terlalu rumit. Buat sistem penyaringan impor berbasis SNI. Ini cukup efektif menekan masuknya produk murah,” ujar Eko.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memperkirakan defisit perdagangan Indonesia dengan China dapat membengkak hingga Rp185 triliun pada 2025, naik dari Rp163 triliun pada 2024.
“Indonesia menjadi target limpahan produk China yang tertahan masuk AS karena perang tarif,” ujarnya.
Ia menyarankan pemerintah segera mengambil langkah negosiasi dagang dengan China yang selama ini dianggap pasif dalam merespons isu perdagangan bilateral.
Senada, Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai banjir produk China menunjukkan lemahnya perlindungan pasar domestik. Ia mengingatkan bahwa melonjaknya ekspor China ke kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, harus menjadi perhatian serius.
“Ditengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, produk murah dari China bisa cepat menguasai pasar dan menekan pelaku usaha lokal. Ini tidak hanya menunjukkan daya saing produk China yang terus membaik, tapi juga lemahnya perlindungan pasar kita,” tandas Yusuf. (inx)


