Kenaikan PPN 12 Persen, Pengamat: It's Not a Good Timing

Reporter : Inge Mangkoe
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal ditemui usai menghadiri Gambir Trade Talk di Jakarta, Selasa (19/11/2024). (Foto: Antara)

WARTALENTERA - Rencana kenaikan tarif PPN 12 persen yang akan diberlakukan mulai 1 Januari 2025, dinilai kurang tepat. Sebab, kenaikan PPN 12 persen ini malah akan menghambat target pertumbuhan ekonomi.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal merekomendasikan penundaan terhadap kebijakan kenaikan tarif PPN 12 persen guna mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Baca juga: BCA Optimistis KPR Tumbuh Hingga 7 Persen pada 2026

"Ditunda mestinya, jadi it's not a good timing. Itu kalau kita berbicara masalah mengatasi kesenjangan ekonomi pada saat sekarang, dan juga target pertumbuhan ekonomi, karena target pertumbuhan ekonominya mau lebih tinggi kan," ujar Faisal di Jakarta, Selasa (19/11/2024) dikutip dari Antara.

Faisal menjelaskan produk barang jadi seperti elektronik, perlengkapan rumah tangga, dan furnitur akan mengalami penurunan pembelian saat dikenakan PPN 12 persen.

Barang-barang tersebut, kata Faisal, lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat dari kelas menengah, yang total nilai konsumsinya mencapai 84 persen.

Baca juga: Pemerintah Indonesia Matangkan Persiapan KTT D8

Menurutnya, yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah mempertahankan agar nilai konsumsi kelas menengah tetap berada pada angka tersebut atau lebih naik.

"Sekarang bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa tercapai lebih tinggi kalau konsumsi rumah tangganya itu justru lebih lambat dan 84 persen dari konsumsi domestiknya itu tadi disumbangkan oleh kelas menengah dan aspiring middle class (calon kelas menengah) gitu," katanya.

Baca juga: Menkeu Purbaya Optimistis Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Capai 6 Persen

Namun demikian, Faisal menegaskan bahwa penurunan daya beli atau perlambatan pertumbuhan konsumsi masyarakat tidak hanya disebabkan oleh kenaikan PPN, tetapi juga adanya hasil kumulatif dari kebijakan lainnya.

"Jadi kalau BPJS kesehatan juga naik, subsidi energi juga dipangkas pada saat yang sama tuh bersamaan. Nah itu yang efeknya jadi lebih besar," ucap Faisal. (inx)

Editor : Inge Mangkoe

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru