WARTALENTERA - Laut Jawa pada Minggu dini hari, 13 September 2026 itu sedang tidak ramah. Gelombang 2 meter lebih menghantam KM Virgo Transport 8 yang berlayar dari Tanjung Perak Surabaya menuju Banjarmasin. Dari 243 jiwa di atas manifes, ada satu kisah yang membuat tim SAR terdiam.
Pasangan suami istri Helianto (55) dan Novika Liana (43) asal Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Mereka bukan pelaut. Mereka penumpang. Berangkat untuk menghadiri pesta pernikahan keluarga di Banjarmasin.
Menurut pasutri tersebut kepada Basarnas, saat KM Virgo Transport 8 terbalik dihantam ombak Masalembu, mereka memilih tidak saling melepas atau berebutan naik sekoci. Mereka memilih berpelukan dan mengapung di laut dengan ban darurat. Siapa sangka, pelukan itu jadi pelampung terakhir mereka sampai akhirnya diselamatkan tim SAR.
Mereka bercerita, tepat pukul 02.00 WITA, kapal oleng. Muatan truk bergeser ke kiri. Tidak ada sirine. Air masuk cepat. Di detik itulah, menurut kesaksian korban selamat lain, pasangan ini tidak berebut sekoci. Mereka meraih satu ban pelampung darurat. Satu. Lalu berpelukan.
"Berbekal satu ban pelampung darurat, pasangan suami istri tersebut saling mendekap erat untuk menjaga tubuh tetap mengapung saat badan kapal mulai tenggelam," tulis rilis Tim SAR Gabungan, Selasa (15/9/2026).
Di tengah gelap, dingin, dan muntahan solar, pelukan itu jadi jangkar. Genggaman tangan yang tak terlepas di tengah gulungan ombak menjadi simbol kekuatan cinta sejati
Tim penyelamat yang menyisir setelah panggilan darurat terdeteksi menemukan mereka mengapung berdua, masih berpelukan, kelelahan parah dan hipotermia ringan, namun masih hidup.
Pesan Terakhir Sebelum Hilang Kontak
Kisah Helianto dan Novika bukan satu-satunya. Di balik tragedi itu, ada puluhan kisah penantian. Helianto sempat mengirim pesan darurat ke kerabat di Banjarmasin: kapal mulai miring. Tak lama, Novika menelepon anaknya, hanya untuk minta didoakan. Itu jadi percakapan terakhir sebelum sinyal terputus total.
Di Garut, Erik Maosul Latif (37), penjaga kantin kapal yang baru 2 bulan bekerja, sempat video call istri yang sedang hamil 4 bulan jam 10 malam sebelum kapal hilang kontak. Keesokan harinya, Erik ditemukan meninggal.
Hingga Senin (14/9/2026), data resmi Kemenhub: 108 selamat, 6 meninggal, dan 129 masih dalam pencariandi perairan Masalembu. Bangkai kapal sendiri sempat bergeser 450 meter bahkan hampir 3 km dari titik awal tenggelam karena arus kuat.
Di posko medis, pasangan yang ditemukan berpelukan itu masih trauma. Tetapi, cerita mereka menyebar cepat di posko evakuasi. Di saat kapal yang membawa mereka telah hilang ditelan laut, harapan untuk tetap hidup tak pernah ikut tenggelam.
Hingga saat ini, operasi pencarian masih terus dilakukan oleh Basarnas, TNI AL, dan KRI Kanopus dengan kemampuan selam dalam. Laut boleh menenggelamkan kapal. Tapi tidak untuk cinta yang saling menguatkan hingga detik terakhir.
Jenazah dievakuasi oleh tim Basarnas Special Group (BSG). (dok Instagram)
Diberitakan sebelumnya bahwa tim penyelam dari KRI Kanopus memang baru bisa turun menyelam setelah gelombang reda, dan bangkai kapal KM Virgo Transport 8 sudah bergeser 3 km.
Pencarian tidak hanya dilakukan di permukaan laut saja tetapi di dalam laut hingga menyusup ke dalam bangkai kapal yang sudah berada di dasar laut. Pencarian di dalam bangkai kapal melibatkan personel khusus TNI AL, masing-masing 10 anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan 10 personel Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmada II.
Saat tim penyelam Basarnas Special Group (BSG) menyusup ke dalam bangkai kapal ditemukanlah pasutri Muhammad Abdianoor (30) dan Yuli (29) asal Banjarmasin dalam kondisi saling berpelukan. Operasi yang keras itu seketika sunyi.
Di dalam lambung kapal yang terbalik, dalam gelap dan dingin, dua jasad saling berpelukan erat itu ditemukan. Abdi dan Yuli berangkat bersama pamannya, Surya (59) warga Tapin. Tiga orang satu keluarga. Ketiganya ditemukan di hari yang sama di dalam bangkai kapal.
Kronologinya, KM Virgo Transport 8 yang mengangkut 243 jiwa tenggelam dini hari 13 September 2026 di perairan Masalembu setelah dihantam ombak dan muatan truk bergeser. Kapal terbalik begitu cepat. Penumpang yang sedang terlelap di dek ekonomi tidak sempat menyelamatkan diri.
Saat jenazah dievakuasi ke RS Bhayangkara Banjarmasin dan diserahkan ke keluarga pada Sabtu (19/9/2026), kisah pelukan terakhir itu viral lewat postingan kerabat dekat di Instagram.
Tidak Dapat Santunan Pemerintah Karena Tidak Ada Anak
Karena Abdi dan Yuli tidak memiliki anak dan kedua orang tua mereka juga menjadi korban KM Virgo yang hingga kini belum ditemukan, negara menyatakan mereka tidak memiliki ahli waris sesuai UU No 33 Tahun 1964.
Akibatnya, mereka tidak mendapat santunan Rp70 juta. Hanya mendapat biaya penguburan Rp6 juta. Itu sudah dikonfirmasi oleh pihak PT Jasa Raharja karena keduanya tidak memiliki ahli waris sesuai ketentuan perundang-undangan.
Kepala Kantor Wilayah Jasa Raharja Kalimantan Selatan Ahmad Arkan Nugraha menjelaskan, kondisi tersebut membuat pasangan suami istri itu tidak memiliki pihak yang memenuhi ketentuan sebagai ahli waris. "Tidak memiliki ahli waris sesuai ketentuan UU Nomor 33 Tahun 1964 dan PP Nomor 17 Tahun 1964,” kata Arkan di Banjarmasin, belum lama ini.
Karena tidak ada ahli waris yang memenuhi ketentuan, santunan kematian tidak diberikan seperti kepada korban yang memiliki ahli waris. Jasa Raharja kemudian menyalurkan bantuan dalam bentuk biaya penguburan.
Nilainya terdiri dari penggantian biaya penguburan sebesar Rp4 juta dari Jasa Raharja serta tambahan bantuan biaya penguburan Rp2 juta dari Jasaraharja Putera. Ketentuan tersebut telah disampaikan kepada keluarga saat proses pengambilan jenazah Muhammad dan Yuli di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin.
Pada operasi yang sama, penyelam juga menemukan korban lain bernama Surya (59), warga Kabupaten Tapin. Berbeda dengan Muhammad dan Yuli, Surya memiliki ahli waris sehingga keluarganya menerima santunan. Jasa Raharja memberikan Rp50 juta dan Jasaraharja Putera Rp20 juta, dengan total bantuan Rp70 juta.
Basarnas mencatat hingga kini 117 orang dari total 243 penumpang dalam manifes KM Virgo Transport 8 telah ditemukan. Rinciannya 108 orang selamat dan sembilan orang meninggal dunia. Dengan demikian, masih terdapat 126 orang yang belum ditemukan. Tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian terhadap para korban. (vit)