KPK Amankan Sejumlah Dokumen, Usai Geledah Kantor Gubernur Riau

Reporter : Sicillia Tan
Gubernur Riau Abdul Wahid yang kini menjadi tahanan KPK. (Istimewa)

WARTALENTERA-KPK amankan sejumlah dokumen, usai geledah kantor Gubernur Riau, kemarin. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan dokumen dan bukti lain terkait dugaan pemerasan terkait penambahan anggaran 2025 yang dialokasikan pada UPT Jalan dan Jembatan Wilayah I-VI Dinas PUPR PKPP.

Temuan didapat setelah menggeledah kantor Gubernur Riau, kemarin. “Dalam penggeledahan tersebut penyidik mengamankan sejumlah dokumen dan barang bukti elektronik atau BBE di antaranya yang terkait dengan dokumen anggaran Pemprov Riau,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada wartawan, Selasa (11/11/2025).

Baca juga: KPK Menahan Dua Tersangka Baru Kasus Kuota Haji

Setelah penggeledahan dilakukan, lanjutnya, penyidik memeriksa dua orang. Salah satunya adalah Syahrial Abdi yang merupakan Sekda Pemprov Riau.

“Penyidik juga meminta keterangan lebih lanjut dari Sekda dan Kabag Protokol. Penyitaan barang bukti dan permintaan keterangan dari berbagai pihak sangat penting untuk membantu penyidik dalam membuat terang perkara ini,” sambung Budi.

Diberitakan sebelumnya, KPK menetapkan tiga tersangka dugaan pemerasan terkait penambahan anggaran 2025 yang dialokasikan pada UPT Jalan dan Jembatan Wilayah I-VI Dinas PUPR PKPP. Mereka adalah Gubernur Riau Abdul Wahid; M. Arief Setiawan selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (PUPR PKPP) Provinsi Riau; serta Dani M. Nursalam selaku tenaga ahli Gubernur Riau. Adapun penetapan tersangka ini bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) pada Senin, 3 November. Mereka sudah dilakukan penahanan selama 20 hari pertama hingga 23 November 2025.

Baca juga: Kembali Dipanggil Jadi Saksi, Dicecar Soal Pembagian Kuota Haji Tambahan

Kasus ini bermula saat adanya penambahan anggaran 2025 yang dialokasikan pada UPT Jalan dan Jembatan Wilayah I-VI Dinas PUPR PKPP yang semula Rp71,6 miliar menjadi Rp177,4 miliar. Diduga ada kesanggupan pemberian fee yang sebesar 2,5 persen yang kemudian dibahas di sebuah kafe di kawasan Kota Pekanbaru, Riau. Pembahasan dilakukan antara Ferry Yunanda selaku Sekretaris Dinas PUPR PKPP bersama enam UPT.

Kemudian Ferry menyampaikan hasil pertemuan itu kepada M. Arief selaku Kepala Dinas PUPR PKPP Riau dan representatif Abdul Wahid. Tapi, Arief justru minta sebesar 5 persen atau sebesar Rp7 miliar dan mengancam akan mencopot Kepala UPT yang tak menyetor.

Akibat perbuatannya, para tersangka melanggar ketentuan dalam pasal 12e dan/atau pasal 12f dan/atau pasal 12B UU Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (sic)

Baca juga: Bupati Tulungagung dan Ajudannya Resmi Jadi Tersangka Kasus Pemerasan

Editor : Sicillia Tan

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru