WARTALENTERA - Tim SAR Gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap 5 jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Banten. Hingga Jumat (11/9/2026) keberadaan speed boat beserta 8 orang di dalamnya belum ditemukan.
Kapolda Banten Irjen Hengki menyebut keselamatan personel jadi prioritas utama karena aktivitas GAK belum stabil. Gelombang laut juga masih berbahaya. Hingga hari ini, Jumat (11/9/2026) tim gabungan penyelamat Basarnas masih menyisiri perairan. Basarnas memastikan pencarian akan terus dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh unsur dan mempertimbangkan kondisi cuaca serta arus.
Baca juga: Diduga Hilang Dua Hari di Selat Sunda, Lima Jurnalis Belum Ditemukan
Operasi SAR gabungan terus dikembangkan dengan melibatkan seluruh unsur terkait, baik Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah maupun potensi SAR lainnya. Dalam pelaksanaan operasi hari ketiga, pencarian dikembangkan menjadi enam sektor dengan mengoptimalkan unsur laut dan udara.
Dalam kesempatannya, Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menyampaikan bahwa perkembangan operasi tersebut merupakan arahan dan penjelasan dari Kabasarnas RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii yang hadir langsung memantau pelaksanaan operasi SAR gabungan bersama Gubernur Banten Andra Soni.
"Bapak Kabasarnas menyampaikan bahwa operasi SAR hari ini dikembangkan menjadi enam sektor. Pada hari pertama pencarian dilaksanakan di tiga sektor, kemudian hari kedua dikembangkan menjadi lima sektor dan pada hari ketiga ini kembali diperluas menjadi enam sektor,” jelas Irjen Pol Hengki.
Selanjutnya, Hengki menjelaskan dalam operasi hari ketiga tersebut sebanyak 11 kapal dikerahkan untuk mendukung pencarian, yang terdiri dari kapal KRI, kapal Kepolisian, kapal Basarnas serta kapal dari potensi SAR lainnya.
“Menurut penjelasan Bapak Kabasarnas, sebanyak 11 kapal dikerahkan dalam operasi hari ini. Selain itu, lebih dari 300 personel terlibat, baik yang berada di lapangan maupun yang mendukung pelaksanaan operasi dari posko gabungan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kapolda Banten menyampaikan bahwa pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan operasi kemanusiaan tersebut. "Bapak Kabasarnas juga menegaskan bahwa seluruh unsur terus bekerja sama dan mengumpulkan setiap informasi maupun data yang diperoleh dari lapangan. Hal tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah pencarian berikutnya,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan operasi, pencarian dilakukan dengan mengutamakan unsur laut dan udara. Namun demikian, seluruh kegiatan tetap dilaksanakan dengan memperhatikan faktor keselamatan personel serta kondisi di lapangan.
“Operasi SAR harus tetap mengikuti ketentuan dan batasan keselamatan. Sebagaimana disampaikan Bapak Kabasarnas, pencarian akan terus dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan seluruh personel yang terlibat,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaan operasi udara, Hengki mengaku tim juga telah melakukan pencarian di wilayah perairan. Namun, kondisi jarak pandang yang terbatas menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam pelaksanaan pencarian.
Kapolda Banten mengatakan bahwa pihaknya juga memberikan trauma healing berupa dukungan psikososial kepada keluarga korban.
Baca juga: Bandara Beroperasi Kembali, Anak Sekolah Masih Pembelajaran Jarak Jauh
“Pendampingan ini dilakukan agar keluarga mendapatkan penguatan dan dapat lebih legowo dalam menghadapi kondisi yang terjadi. Saat ini, keluarga korban masih berada pada fase denial, sehingga pendampingan psikologis terus dilakukan selama proses operasi pencarian berlangsung,” katanya.
Hengki juga menyampaikan imbauan Kabasarnas kepada masyarakat agar mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah maupun kementerian dan lembaga yang berwenang.
Seperti diberitakan sebelumnya, rombongan lima jurnalis berangkat menggunakan speed boat dari Dermaga Carita, Pandeglang pada Senin (7/9/2026) pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Kapal diperkirakan butuh waktu 2 jam. Namun pada pukul 14.42 WIB, speed boat dilaporkan hilang kontak di antara perairan Carita dan Gunung Anak Krakatau. Posisi terakhir sempat terpantau pada pukul 18.13 WIB - 18.15 WIB di sekitar Gunung Anak Krakatau. Informasi itu didapat dari istri salah satu pemandu yang ikut dalam rombongan. Setelah itu kontak terputus total.
Laporan resmi diterima Kantor SAR Banten pada Selasa (8/9/2026) pukul 13.55 WIB. Total ada 8 orang dalam speed boat tersebut:
5 Jurnalis:
Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Bikin Hujan Abu Sampai Bogor, Bandara Soetta Ditutup
1. Muhammad Bagus Khoirunnas (Antara Biro Banten)
2. Arie Basuki (Merdeka.com)
3. Yudistiro Pranoto (iNews)
4. Firman Daus (Anadolu Agency)
5. Donal Husni (Fotografer Lepas)
3 Awak Kapal:
1. Warta, 55 - Kapten Kapal
2. Surakman, 60 - ABK
3. Heriyanto, 49 - Pemandu/Guide
Area penyisiran difokuskan di sekitar Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan kemungkinan di sekitar Pulau Sebesi, Lampung. Operasi menghadapi kendala cuaca dan aktivitas vulkanik. Angin 10 knot, gelombang 2 meter, jarak pandang minim, dan sebaran abu vulkanik membuat pencarian udara dengan helikopter belum bisa dilakukan. (vit)
Editor : Vita Kartono