WARTALENTERA-Prosesi pemakaman Paus Fransiskus telah selesai dilakukan, Sabtu (26/4/2025). Jenazah mendiang pemimpin tertinggi Takhta Vatikan itu diarak dari Basilika Santo Petrus di Vatikan menuju Basilika Santa Maria Maggiore di Kota Roma dan diantar ratusan ribu pelayat.
Pemimpin Katolik sedunia itu dibawa ke Alun-alun Santo Petrus untuk diperlihatkan kepada para pelayat. Hadir dalam prosesi pemakaman itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama sang istri, Melania, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, hingga Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni.
Presiden ke-7 RI Joko Widodo juga turut hadir dalam prosesi pemakaman Paus Fransiskus, bersama dengan Menteri HAM Natalius Pigai, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, dan Ignasius Djonan. “Paus yang sangat mengagumi Indonesia dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika itu akan dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma, yang berjarak 5,6 km dari Basilika Santo Petrus,” tulis pernyataan resmi KBRI Takhta Suci Vatikan dalam siaran persnya, Jumat (25/4/2025).
Menurut otoritas Kepolisian Roma, lebih dari 160 delegasi dari berbagai negara dan organisasi internasional datang untuk menghadiri pemakaman. Misa diselenggarakan di Basilika Santo Petrus setiap pukul 17.00, kecuali Misa pada Hari Kerahiman Ilahi, 27 April, yang akan diadakan pada pukul 10.30 pagi di Lapangan Santo Petrus.
Misa Pemakaman akan disusul dengan masa berkabung selama sembilan hari, yang disebut “Novemdiales”. Masa berduka sembilan hari adalah sebuah tradisi kuno.
Selama sembilan hari tersebut, akan diselenggarakan Misa untuk mendoakan jiwa Paus Fransiskus yang meninggal pada usia 88 tahun itu. Meski banyak pemimpin negara yang hadir, namun ada juga negara yang tidak mengirimkan delegasi dalam pemakaman tersebut.
Setidaknya, ada tiga negara yang tak menghadiri acara pemakaman Paus Fransiskus pada 26 April 2025. Israel tak berencana mengirimkan utusan untuk hadir di pemakaman Paus Fransiskus.
Hal tersebut membuat Gereja Katolik di Yerusalem dan komunitas Katolik Israel telah menyatakan kekecewaan atas keputusan tersebut. Keputusan Negeri Yahudi ini kemungkinan besar didasarkan pada kekecewaan mereka lantaran Paus Fransiskus berulang kali menyatakan dukungannya terhadap rakyat Palestina. Paus Fransiskus memang telah berulang kali mengutuk perang di Gaza, dan kritik publiknya telah memperdalam ketegangan dengan pemerintah Israel.
China juga tidak terlihat mengirimkan delegasi mereka. Hingga berlangsungnya acara pemakaman Paus Fransiskus, China masih belum mengkonfirmasi kehadirannya.
Mengutip Reuters, Sabtu (26/4/2025), juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun hanya menjawab “Tidak ada informasi untuk dibagikan saat ini.” Tanggapan minimalis China menggarisbawahi sensitivitas hubungan antara Partai Komunis yang berkuasa dengan Tahta Suci.
Terlebih, Vatikan memang belum memiliki hubungan diplomatik formal dengan China sejak 1951, ketika rezim komunis yang baru didirikan memutuskan hubungan dan mengusir nuuncio kepausan, utusan Tahta Suci. Meski begitu, Paus Fransiskus telah berulang kali menyatakan keinginannya untuk melakukan perjalanan ke China.
Umat Katolik China juga akan mengingatnya sebagai paus pertama yang pernah diberi wewenang untuk terbang di atas wilayah udara China. Negara ketiga yang juga tidak mengirimkan delegasi mereka adalah Peru.
Presiden Peru, Dina Boluarte, tidak menghadiri pemakaman Paus Fransiskus karena permintaannya untuk melakukan perjalanan ke Vatikan ditolak oleh Kongres Peru. Dalam pemungutan suara, 45 anggota kongres menolak permintaan tersebut, sementara 40 mendukung dan satu abstain.
Penolakan ini mencerminkan dinamika politik domestik di Peru, di mana hubungan antara eksekutif dan legislatif sering kali tegang. Keputusan kongres untuk menolak perjalanan presiden menunjukkan adanya ketidaksepakatan internal mengenai prioritas diplomatik negara.
Meskipun Presiden Boluarte tidak dapat menghadiri pemakaman, Peru tetap mengirimkan delegasi resmi untuk mewakili negara dalam upacara tersebut, menunjukkan komitmen untuk menghormati Paus Fransiskus meskipun ada kendala politik domestik.
Kenangan Sosok Paus Fransiskus
Paus Fransiskus telah berpulang. Dalam usia 88 tahun, sosok pemimpin Gereja Katolik yang melewati masa 12 tahun penuh cinta, keberanian, dan reformasi itu akhirnya akan dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore, tempat yang sejak awal ia tunjukkan sebagai ruang kontemplasi rohaninya.
Tidak seperti para pendahulunya yang dimakamkan di bawah Basilika Santo Petrus, pilihan Paus Fransiskus untuk beristirahat di tempat ikonik untuk devosi Bunda Maria ini mencerminkan arah pastoral yang ia bawa: sederhana, dekat dengan umat, dan menjauh dari simbol-simbol kemewahan.
Selama lebih dari satu dekade, Jorge Mario Bergoglio (nama lahir Paus Fransiskus) mengguncang institusi Vatikan yang selama berabad-abad dikenal penuh protokol dan simbol agung.
Ia memulai dari hal sederhana, tinggal di wisma tamu alih-alih Istana Apostolik, mengenakan salib besi bukan emas, hingga menjual mobil mewah koleksi Vatikan demi disumbangkan kepada kaum miskin. Karena itu pula dia disebut sebagai The People’s Pope.
Namun gebrakan beliau tidak hanya simbolik. Ia membuka pintu Vatikan bagi para pengungsi Suriah, mencium kaki narapidana yang sebagian besar Muslim saat Kamis Putih, hingga menyatakan bahwa komunitas LGBT juga adalah anak-anak Tuhan yang layak dicintai.
Salah satu kutipannya yang terkenal adalah: “If someone is gay and he searches for the Lord and has good will, who am I to judge?”. Kepemimpinannya menyentuh banyak jiwa karena ia berbicara dari hati dan bertindak dengan kasih.
Paus Fransiskus juga menolak keras kapitalisme yang serakah. Dalam salah satu pidatonya di Bolivia, ia mengecam sistem ekonomi global yang menjadikan uang sebagai Tuhan baru: “You cannot worship God and money.” Ia berbicara untuk mereka yang tidak bersuara kaum miskin, para imigran, korban perang, bahkan alam semesta yang dirusak oleh keserakahan manusia.
Dokumen ensiklik Laudato Si’, yang menyoroti krisis lingkungan dari sudut iman, menjadi salah satu warisan moral terbesar yang ditinggalkannya. Ketika dunia tengah terjebak dalam polarisasi, Paus Fransiskus berdiri sebagai penenang badai.
Ia tidak sempurna, namun keberaniannya untuk menjadi pemimpin moral di era yang bising menjadikannya berbeda. Ia mendamaikan umat Katolik dengan diri mereka sendiri: bahwa menjadi orang beriman tidak berarti menjadi penghakim, tetapi pelayan kasih.
Ia mengingatkan bahwa Gereja bukan museum orang kudus, tetapi rumah sakit bagi yang terluka.
Vatikan Segera Gelar Konklaf
Vatikan akan menggelar konklaf atau proses pemilihan paus berikutnya setelah Paus Fransiskus wafat. Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, menjadi kardinal perwakilan Indonesia yang mengikuti proses konklaf dan berangkat pada 3 Mei mendatang.
“Nanti untuk mengikuti konklaf itu akan dilakukan oleh Bapa Kardinal Ignatius Suharyo selaku Uskup Keuskupan Agung Jakarta, beliau yang tadinya direncanakan akan berangkat di tanggal 4 Mei, itu mengalami perubahan jadwal menjadi tanggal 3 Mei,” kata humas Gereja Katedral Jakarta, Susyana Suwadie, kepada wartawan, Sabtu, (26/4/2025).
Susyana mengatakan awalnya Kardinal Ignatius direncanakan berangkat ke Vatikan pada 4 Mei. Namun rencana keberangkatan itu berubah setelah ada permintaan dari Dewan Kardinal.
“Karena permintaan dari Dewan Kardinal setelah mengadakan rapat bahwa tanggal 5 Mei itu sudah harus bergabung untuk mengikuti dimulainya kegiatan. Pada masa berkabung dari setelah pemakaman yaitu tanggal 26 April itu dinyatakan masa perkabungan adalah 9 hari,” imbuhnya.
“Maka terakhir 9 hari jatuh di tanggal 4 Mei, maka tanggal 5 Mei itulah persiapan untuk memasuki konklaf. Jadi Bapa Kardinal akan berangkat tanggal 3 Mei dan akan tiba di Roma tanggal 4 Mei,” tuntasnya. (sic)


