WARTALENTERA – Calon Presiden (capres) dari Partai Republik Donald Trump memenangkan pemilu Amerika Serikat (AS) 2024 setelah dirinya meraup 277 suara electoral. Ia mengalahkan capres dari Partai Demokrat Kalama Harris yang mendapat 224 suara. Apa saja kunci suksesnya?
Perolehan suara Trump melampaui batas electoral vote di AS yakni 270 suara pada Rabu (6/11/2024) waktu setempat. Trump juga memenangkan popular vote, dimana ia berhasil mengumpulkan 70.871.620 suara (51,0 persen), sedangkan Kamala mengumpulkan 65.963.074 suara (47,5 persen).
Trump berhasil unggul dalam perolehan suara setelah ia mengamankan negara bagian penentu kemenangan, swing state, Wisconsin dengan 49 persen kemenangan. Ia unggul di semua swing states, termasuk Arizona, Michigan, Nevada, Georgia, Nort Carolina dan Pennsylvania.
Kemenangan Trump dalam Pemilu AS 2024 tentu tak luput dari strategi yang dilakoninya. Melansir Vox, ada tiga alasan utama yang mendorong kemenangannya di pemilu kali ini.
Alasan pertama, Trump memperoleh dukungan yang sangat kuat di wilayah perdesaan. Di negara bagian seperti Indiana, Kentucky, dan Georgia, Trump mampu memperbesar dukungannya dan memenangkan daerah-daerah ini dengan selisih yang lebih besar dibandingkan dengan 2020.
Di Pennsylvania, misalnya, di daerah perdesaan seperti Lackawanna County, Trump memperoleh lebih banyak suara daripada sebelumnya, meskipun Joe Biden berasal dari sana. Hal ini menunjukkan bahwa Trump masih sangat berpengaruh di kalangan pemilih perdesaan yang menginginkan perubahan dan merasa lebih terwakili oleh kepemimpinannya.
Alasan kedua, Trump berhasil meraih dukungan besar dari komunitas Latino, yang sebelumnya cenderung memilih Demokrat. Pada pemilu 2024, perubahan ini terlihat jelas di beberapa negara bagian dengan populasi Latino yang besar, seperti Florida dan Texas.
Di Miami-Dade, yang dulunya merupakan daerah dengan dukungan kuat untuk Demokrat, Trump memperoleh dukungan lebih besar, terutama dari komunitas keturunan Kuba. Hal serupa juga terjadi di Osceola County, yang memiliki banyak pemilih Puerto Rico, dimana Trump berhasil mengubah hasil dari sebelumnya dimenangkan Biden dengan selisih besar.
Lalu, alasan ketiga yang menjadi kunci sukses Trump menangkan Pemilu AS 2024 adalah kekecewaan publik terhadap pemerintahan Prsiden Joe Biden, terutama terkait dengan ekonomi dan kebijakan luar negeri. Inflasi yang tinggi dan masalah ekonomi lainnya membuat sebagian besar warga merasa tidak puas dengan pemerintahan yang ada.
Trump memanfaatkan ketidakpuasan ini dengan mengkritik kebijakan Biden dan menawarkan alternatif yang lebih menarik bagi mereka yang merasa tertinggal. Banyak pemilih yang merasa bahwa Trump lebih mampu mengatasi masalah-masalah besar negara, terutama dalam hal ekonomi, lapangan pekerjaan, dan keamanan.
Masih berstatus terdakwa
Kemenangan Trump juga menjadikan ia sebagai presiden pertama di AS yang menyandang status terdakwa. Ya, Trump memang tengah menghadapi sejumlah kasus kriminal.
Trump saat ini menghadapi empat kasus kriminal yang sedang disidangkan. Kasus-kasus itu antara lain:
- Kasus penyimpanan dokumen rahasia negara: Trump dituduh membawa dokumen-dokumen rahasia pemerintah ke kediamannya di Mar-a-Lago setelah lengser dari Gedung Putih, termasuk menyimpan dokumen sensitif di lokasi yang tidak aman dan menghalangi penyelidikan pemerintah.
- Kasus Intervensi Pemilu Georgia: Di negara bagian Georgia, Trump dan beberapa orang lainnya didakwa berusaha mempengaruhi hasil pemilu 2020 di negara bagian tersebut. Salah satu bukti kunci adalah rekaman telepon Trump dengan pejabat pemilu Georgia, di mana dia meminta untuk “mencari” suara yang cukup untuk membalikkan kekalahannya di negara bagian tersebut.
- Kasus federal terkait campur tangan serangan 6 Januari 2021: Trump diduga kuat menyulut kerusuhan di Gedung Capitol demi membatalkan hasil pilpres yang saat itu dimenangkan Joe Biden.
- Kasus penipuan keuangan (New York): Trump dituduh terlibat dalam kasus penipuan bisnis yang mencakup laporan keuangan yang diduga menggelembungkan nilai aset-aset perusahaan Trump Organization untuk mendapatkan keuntungan finansial, seperti pinjaman bank atau keringanan pajak.
Hakim di New York dijadwalkan akan menjatuhkan hukuman ke Trump pada akhir November setelah pemilu. Waktu ini dipilih untuk menghindari tuduhan jika langkah hukum tersebut dilakukan guna mempengaruhi hasil pilpres.
Akan tetapi, kemenangan di pemilu kali ini kemungkinan akan mengakhiri tuntutan terhadap Trump. Saat resmi menjabat di Gedung Putih, Trump kemungkinan akan menunjuk jaksa agung baru yang bisa membatalkan tuduhan-tuduhan yang dilancarkan kepada dirinya. (inx)


