WARTALENTERA-Dalam rangka memperingati “620 Tahun Pelayaran Cheng Ho ke Laut Barat”, delegasi Budaya Pertukaran Budaya, Ekonomi dan Perdagangan Tiongkok-ASEAN dalam kerangka “Belt and Road Initiative” serta Warisan Budaya Tak Benda, Perkumpulan Persatuan Guangdong Indonesia menggelar seminar. Seminar digelar di Gedung Persatuan Perkumpulan Warga Guangzhou Seluruh Indonesia, Jl Pinangsia I, Jakarta, Selasa (8/7/2025), mulai pukul 14.00 WIB.
Dalam acara yang diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya itu menghadirkan sejumlah pembicara yakni Ketua Aliansi Warisan Budaya Tak Benda Internasional Song Zhuo Wei, Sarjana Internasional Zheng He dan Penggagas Seni Perang Sun Tzu Global Han Shengbao, pengurus Masjid Xixiang dan Monumen Zheng He dari Universitas Xi’an Mao Kun, Wakil Presiden Eksekutif Kamar Dagang Tiongkok-ASEAN dan salah satu pendiri Tangrendao Digital/Metaverse Dr. Huang Da, Komisaris Wanxinda Holdings Chen Riling, dan Ketua Umum Matakin Budi S Tanuwibowo. Acara itu digagas oleh Zheng He International Cooperation Organisation dan International Federation of Arts And Cultural Heritage, serta disponsori oleh Perkumpulan Persatuan Guangdong Indonesia dan Perkumpulan Pengusaha Kwang Tung Indonesia.
Ketua Umum Perkumpulan Persatuan Guangdong Indonesia, Haris Chandra, mengatakan sangat gembira bisa menggelar acara ini. “Kali ini kita mendengarkan para pembicara yang kompeten terkait Cheng Ho. Cheng Ho adalah tokoh besar yang meninggalkan warisan luar biasa,” ucap Haris.

Menurutnya, sudah selayaknya sosok Cheng Ho yang memiliki peran strategis dalam penyebaran akulturasi, budaya, dan ekonomi di masa lampau, terus diingat. Sebab sosok Laksamana Cheng Ho tidak bisa dipisahkan dari perjalanan budaya, perdagangan, dan ekonomi, tidak hanya di Indonesia, tapi juga kawasan ASEAN secara umum.
Membuka seminar, Song Zhuowei membahas tentang penyebaran dan pengaruh pelayaran Cheng Ho ke Barat yang meninggalkan warisan budaya tak benda dunia. Pembicara kedua, Han Sheng Bao berbicara tentang kebijaksanaan militer Zheng He.
Pembicara ketiga Mao Kun, mengulas tentang sosok Cheng Ho dari aspek penyebaran agama Islam. Seperti diketahui, Cheng Ho salah satu sosok yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di kalangan suku Tionghoa.
Pembicara berikutnya, Huang Da menyajikan materi visi internasional Cheng Ho terkait dengan kondisi masa kini. Sedangkan pembicara lainnya, Chen Riling membeberkan materi terkait semangat Cheng Ho untuk berelasi dengan kebajikan dan semangat saling memberi lebih banyak.
Sementara itu, Budi S Tanuwibowo membawakan materi tentang membangun persahabatan yang tulus antara China dan Indonesia serta inspirasi dari pelayaran persahabatan Cheng Ho ke Barat dari tahun 1405 hingga 1433. Budi menjelaskan, sejak Dinasti Han, China menjalin hubungan dengan banyak negara tanpa aneksasi wilayah.

Para pembicara dalam seminar, yakni Ketua Aliansi Warisan Budaya Tak Benda Internasional Song Zhuo Wei, Sarjana Internasional Zheng He dan Penggagas Seni Perang Sun Tzu Global Han Shengbao, pengurus Masjid Xixiang dan Monumen Zheng He dari Universitas Xi’an Mao Kun, Wakil Presiden Eksekutif Kamar Dagang Tiongkok-ASEAN dan salah satu pendiri Tangrendao Digital/Metaverse Dr. Huang Da, Komisaris Wanxinda Holdings Chen Riling, dan Ketua Umum Matakin Budi S Tanuwibowo. (Dok. Warta Lentera).
Itu juga yang dilakukan Cheng Ho saat ia melakukan perjalanan ke banyak wilayah, termasuk ke Indonesia tanpa meninggalkan kesan yang negatif. Maka, Budi pun menggarisbawahi dalam konteks kehidupan berbangsa dan negara masa kini, Indonesia dan China harus terus meningkatkan persahabatan yang harmonis dalam berbagai bidang.
Pelayaran Cheng Ho lebih dari sekadar catatan sejarah. Ini jadi bukti nyata bagaimana pertukaran budaya dapat memperkaya dan memperkuat hubungan antarbangsa.
Warisan budaya tak benda yang dibawa Cheng Ho terus hidup dan berkembang, menjadi jembatan penghubung yang erat antara China dan Indonesia, serta negara-negara Asia Tenggara lainnya. (sic/kom)


