WARTALENTERA-Hunian tapak atau vertikal, peluang bisnis properti di Jakarta masih terbuka luas. Maklum, kota yang pada 2024 dihuni 10,67 juta jiwa ini masih memilik backlog hunian sekitar satu juta unit.
“Kami tetap optimistis pembangunan properti untuk hunian masih terbuka lebar. Anggota kami masih terus membangun untuk menyediakan tempat tinggal yang layak dan ramah lingkungan,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Realestat Indonesia DKI Jakarta (DPD REI DKI Jakarta) Arvin F Iskandar dalam keterangan resminya, Rabu (6/8/2025).
Sementara itu, denyut pembangunan hunian di Jakarta terekam dari riset konsultan properti Cushman & Wakefield Indonesia. Riset itu menyebutkan bahwa hingga semester I-2025, terdapat pengembangan proyek rumah tapak di atas areal seluas 785 hektare (ha) di Jakarta.
Proyek pengembangan properti tersebut memproduksi sebanyak 27.180 rumah tapak. Menurutnya, dalam penyediaan hunian bagi masyarakat, DPD REI DKI Jakarta akan memperkuat kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Terutama soal masalah perizinan kepada Pemprov DKI Jakarta seperti masalah Izin Prinsip Pemanfaatan Ruang (IPPR) hingga aturan seputar Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (PPPSRS). “Di sisi lain, kami akan bekerja sama untuk penyediaan hunian layak di perkotaan seperti program yang digulirkan Pemprov DKI Jakarta, yakni hunian terjangkau milik,” janjinya.
Dalam mewujudkan hunian layak di perkotaan, tambah dia, pihaknya mendorong agar dalam pembangunan proyek properti para developer memanfaatkan energi baru terbarukan untuk menjaga langit Jakarta tetap biru. DPD REI DKI Jakarta berkomitmen menjaga Jakarta dengan langit biru yang lebih bersih serta ramah lingkungan.
“REI akan mendorong anggota untuk membangun proyek-proyeknya dengan energi baru terbarukan, serta akan bekerja sama dengan investor-investor global untuk penerapan energi baru terbarukan,” ajaknya lagi.
Di sisi lain, ia juga menuturkan, pihaknya akan memfasilitasi anggota DPD REI DKI Jakarta untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).
“Latar belakangnya, saat ini, ratusan developer masih mengandalkan dana dari perbankan, namun belum melirik sumber pendanaan lain seperti pasar modal,” ulasnya.
Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga memfasilitasi koneksi developer dengan lembaga-lembaga pembiayaan internasional seperti private equity dan venture capital.
“Terkait hal itu, kami akan membentu Jakarta Property Index untuk memberikan informasi yang lebih berkualitas, sehingga prospek investasi sektor properti Indonesia lebih dikenal dan difahami oleh para investor,” tutupnya. (sic)


