WARTALENTERA – Harga logam mulia yang melambung tinggi membuat harga perak meroket. Pergerakan logam yang disebut ‘kurang mulia’ itu cenderung lebih agresif (volatil).
Tren perak memang selalu mengikuti bahkan kerap melonjak lebih tinggi dalam persentase dibandingkan emas. Fenomena itu dikenal dengan efek leverage (pengungkit), di mana pergerakan perak cenderung lebih agresif atau volatil dibanding logam mulia lainnya.
Dari berbagai sumber, disebutkan korelasi kuat antara perak dan emas itu didorong oleh beberapa faktor utama. Antara lain adanya efek kejar (Catch-up Rally). Secara historis, perak dianggap sebagai logam “adik” dari emas. Ketika emas melonjak menembus rekor, perak biasanya menyusul reli karena harganya dinilai masih jauh lebih terjangkau.
Kemudian, faktor kebutuhan industri (Double Demand). Berbeda dengan emas yang murni untuk investasi atau lindung nilai, perak sangat masif digunakan untuk kebutuhan industri seperti panel surya, kendaraan listrik, dan infrastruktur elektronik. Tingginya permintaan ini memicu defisit pasokan global dan turut mengerek harga.
Faktor Sentimen Global juga berperan sebagai faktor makro seperti ekspektasi perubahan suku bunga, inflasi, dan ketidakpastian geopolitik turut membuat investor melirik aset keras (hard assets) seperti perak.
Meskipun memiliki potensi keuntungan yang besar, analis banyak yang mengingatkan investor bahwa volatilitas perak sangat tinggi. Hal ini membuat fluktuasi harganya seringkali terasa lebih ekstrem.
Kenaikan emas baru-baru ini telah menegaskan kembali perannya sebagai aset haven selama masa bergejolak, namun sejarah menunjukkan bahwa perak, logam yang kurang mulia, bisa segera mengambil sorotan.
Perak, logam yang sering terabaikan dibandingkan dengan sepupunya yang lebih terkenal berwarna kuning, memiliki rekam jejak untuk mengejar ketinggalan setelah emas melonjak dan terkadang berkinerja lebih baik setelah situasi mereda. (vit)


