WARTALENTERA – Prediksi negosiasi antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran berdampak pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan ke depan bakal menguat.
Penguatan mengikuti bursa kawasan Asia seiring ekspektasi pelaku pasar akan berlanjutnya negosiasi tersebut. IHSG dibuka menguat 98,61 poin atau 1,31 persen ke posisi 7.598,80. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 10,09 poin atau 1,35 persen ke posisi 756,45.
“Kiwoom Research sarankan pelaku pasar untuk menunggu IHSG break out 7.530 dengan solid sebelum memutuskan untuk tambah posisi beli,” kata Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata di BEI Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Dari mancanegara, lanjutnya, pelaku pasar berekspektasi bahwa negosiasi antara AS dengan Iran masih akan berlanjut, meskipun perundingan kedua pihak tidak mencapai kesepakatan di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu.
Liza mengatakan sentimen global saat ini berada pada fase risk-on rapuh, yang mana pasar tidak membutuhkan resolusi penuh konflik untuk bergerak naik, cukup perbaikan marginal.
Sementara itu, risiko terbaru dimulai ketika AS resmi memulai blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran (namun tetap mengizinkan jalur transit netral di Selat Hormuz) setelah negosiasi 21 jam di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.
Iran menolak tuntutan penghentian program nuklir, sementara AS mempertimbangkan opsi serangan terbatas. Iran merespons dengan ancaman balasan dan menyebut bahwa blokade sebagai tindakan perang, serta menegaskan bahwa tidak ada pelabuhan di Teluk Persia yang akan aman. “Pelaku pasar menilai langkah ini lebih sebagai strategi negosiasi dibanding eskalasi penuh, sehingga risk appetitemasih bertahan,” ujar Liza.
Adapun, harga minyak mentah global saat ini, di antaranya minyak jenis Brent berada di level 97,73 dolar AS per barel, sedangkan minyak jenis WTI berada di level 96,86 dolar AS per barel.
Secara fundamental, pasar minyak menghadapi tekanan dari gangguan produksi di kawasan OPEC serta backlog lebih dari 800 tanker, yang menciptakan risiko tight supply berkepanjangan. Tanpa de-eskalasi, harga minyak masih berpotensi naik ke kisaran 120-130 dolar AS per barel.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid dengan surplus neraca perdagangan 70 bulan, inflasi 3,5 persen year-on-year (yoy), dan proyeksi pertumbuhan sekitar 5,5 persen pada kuartal I-2026.
Namun demikian, pelemahan nilai tukar rupiah ke level terendah menunjukkan pasar lebih fokus pada tekanan eksternal seperti yield global tinggi, dolar AS yang kuat, serta capital outflow.
Pemerintah menyoroti risiko fiskal dari kenaikan harga minyak, dengan potensi tambahan subsidi hingga Rp100 triliun, apabila rupiah bertahan di level 16.800-17.000 dolar AS per barel, yang menegaskan stabilitas saat ini lebih “managed” daripada organik.
Dalam konteks ini, pemerintah mulai mendorong diplomasi energi, termasuk kunjungan Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Rusia yang beraudiensi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperkuat kerja sama pasokan minyak jangka panjang. (vit)


