WARTALENTERA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia menawarkan investasi di sektor mineral kritis kepada Amerika Serikat, sebagai bagian dari strategi penawaran kedua (second best offer) dalam rangka negosiasi tarif bilateral.
“Indonesia juga menawarkan ke Amerika critical mineral untuk Amerika bersama Danantara untuk melakukan investasi di dalam ekosistem critical mineral,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin.
Menurut Airlangga, mineral kritis yang ditawarkan mencakup tembaga, nikel, serta material pendukung lainnya untuk industri strategis seperti kendaraan listrik (EV), peralatan militer, dan elektronik.
Ia menambahkan bahwa bentuk investasi yang ditawarkan merupakan proyek brownfield, yakni proyek yang sudah berjalan, seperti yang dilakukan oleh PT Freeport Indonesia. “EV ecosystem itu terkait dengan nikel dan yang lain, dan ini sudah. Bagi Amerika ini cukup menarik, tawaran Indonesia ini cukup menarik,” imbuh Airlangga.
Namun, detail lebih lanjut belum dapat disampaikan karena masih dalam pembahasan tertutup yang tunduk pada perjanjian non-disclosure.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia juga telah menyampaikan penawaran kedua terbaik kepada Pemerintah AS menjelang tenggat waktu 8 Juli 2025 dalam rangka negosiasi tarif resiprokal yang diberlakukan saat era Presiden Donald Trump.
“Negosiasi tarif kita kan sudah menyampaikan Indonesia second best offer. Dan beberapa permintaan Amerika itu sebagian sudah kita berikan, baik mengenai tarif, non-tariff barrier maupun komersial,” jelas Airlangga saat ditemui di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (27/6).
Airlangga juga menyebut dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menyatakan apresiasi terhadap sejumlah tawaran Indonesia.
Kendati demikian, keputusan akhir atas negosiasi tersebut masih menunggu koordinasi internal dari pihak AS, yang melibatkan United States Trade Representative (USTR), Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan AS. Airlangga menegaskan bahwa hasil akhir tetap bersifat dinamis, karena Amerika Serikat juga tengah mempertimbangkan negosiasi dengan negara lain. (kom)


