WARTALENTERA-Iran sepakat tutup Selat Hormuz bagi seluruh kegiatan pelayaran menyusul serangan AS (Amerika Serikat) ke fasilitas nuklir mereka. Parlemen Republik Islam Iran, Minggu (22/6/2025) telah menyetujui usulan penutupan Selat Hormuz bagi seluruh kegiatan pelayaran menyusul serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
“Parlemen telah mencapai kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup,” kata Mayor Jenderal Esmaeli Kowsari, anggota Komisi Keamanan Nasional di Parlemen Iran, sebagaimana disiarkan televisi Iran Press TV, melansir Anadolu, Senin (23/6/2025). Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut yang paling penting bagi lalu lintas pasokan minyak dunia.
“Keputusan akhir mengenai hal tersebut akan ditetapkan oleh Dewan Keamanan Tertinggi Nasional,” kata dia, merujuk pada otoritas keamanan tertinggi di Iran.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Selat Hormuz, yang terletak di antara Oman dan Iran, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Selat ini memiliki panjang hampir 161 kilometer (km) dan lebar 34 km pada titik tersempitnya, dengan jalur pelayaran di setiap arah hanya selebar 3 km. Selat Hormuz cukup dalam dan lebar untuk dilalui kapal tanker minyak mentah terbesar di dunia dan merupakan salah satu jalur minyak paling penting di dunia.
Volume minyak yang mengalir melalui selat ini sangat besar. Jika selat ditutup, hanya sedikit jalur alternatif perdagangan minyak yang tersedia. Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA), pada 2024, aliran minyak melalui Selat Hormuz rata-rata mencapai 20 juta barel per hari (bph), atau setara dengan sekitar 20% dari konsumsi minyak bumi global.
Pada kuartal I/2025, total aliran minyak melalui Selat Hormuz relatif flat dibandingkan dengan 2024. Aliran minyak melalui Selat Hormuz pada 2024 dan kuartal I/2025 mencakup lebih dari seperempat dari total perdagangan minyak global melalui jalur laut, serta sekitar seperlima dari konsumsi global minyak dan produk minyak bumi. Selain minyak, sekitar seperlima dari perdagangan global gas alam cair (LNG) juga melewati Selat Hormuz, yang sebagian besar berasal dari Qatar.
Pengamat dan pakar telah memperingatkan bahwa penutupan atau gangguan apapun terhadap Selat Hormuz dapat mengakibatkan lonjakan harga minyak global dan mengganggu keamanan energi global. Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan Iran akan melakukan blokade Selat Hormuz setelah AS melakukan serangan.
Saat ini, kata dia, Selat Hormuz menjadi salah satu selat yang paling vital untuk transportasi minyak. Ibrahim menuturkan, sebanyak 22% transportasi minyak melalui Selat Hormuz. Apabila Selat Hormuz ini diblokade, lanjutnya, maka kemungkinan besar akan membuat harga minyak mentah dunia ini mengalami kenaikan harga-harga, terutama harga minyak mentah di Indonesia.
Ibrahim menjelaskan, Indonesia melakukan impor minyak sebesar satu juta barel per hari. Apabila harga minyak mengalami kenaikan, ditambah dengan rupiah yang melemah, maka anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) akan membengkak.
“Nah, ini yang harus diperhatikan pemerintah. Kenapa? Ini adalah saat yang tepat bahwa pemerintah harus melakukan diversifikasi menggunakan biofuel karena kita mempunyai CPO yang cukup banyak,” ujarnya, dikutip Senin (23/6/2025).
Melansir Bloomberg, penutupan penuh Hormuz selama lebih dari beberapa jam atau beberapa hari adalah skenario mimpi buruk yang menurut banyak pengamat kecil kemungkinan terjadi. Hal ini akan menghentikan aliran minyak dan menyebabkan lonjakan harga minyak mentah — analis JPMorgan & Co. memperkirakan bisa naik hampir 70% — yang akan memicu inflasi global dan sangat membebani pertumbuhan ekonomi dunia. (sic)


